Wednesday, February 28, 2018

Tanahku Tidak Dijual, Deugalih





gambar via google.




Tanahku Tidak Dijual adalah sebuah refleksi. Ia menyerukan perlawanan, ia tidak menahan perasaan-perasaan, ia lantang. Saya mendengarkan satu atau dua musisi yang rasanya cukup relevan dengan kondisi Indonesia pada saat ini, tapi Deugalih layak mendapat tempat di telingamu untuk kau dengarkan juga. Menulis ulasan semacam ini, semoga belum terlalu terlambat, karena Album Tanahku Tidak Dijual dirilis oleh Omu Recs pada 15 April 2017. Kini kau bisa mendapatkannya melalui: iTunes dan Spotify. Satu, dua, atau tiga lagu yang ada di album ini, tak bisa langsung kau sebutkan sebagai yang paling kau suka. Karena rasa 'suka' yang lain akan bertambah, manakala kau berpindah ke lagu keempat dan seterusnya. 

Saya ingat jauh sebelum album ini rilis, Boit pemilik Omuniuum (Omu Recs) beberapa kali memutarkan 'Di Kampungku' kepada saya dan beberapa kawan yang pada saat itu mengunjungi Omuniuum. Karena percaya, barangkali itu semacam binar yang terpancar dari wajah Boit, hingga akhirnya Omu Recs bersedia untuk menelurkan album ini. Tak lama setelah itu, saya datang untuk menonton Deugalih di 'Manggung di Omu' sebuah perhelatan kecil yang rutin dilakukan oleh Omuniuum. Di sana Galih menyanyikan beberapa lagu-lagu lamanya dan memperkenalkan lagu barunya yang ada di album Tanahku Tidak Dijual. Bagi saya tak banyak musisi yang greget ketika tampil langsung membawakan lagu-lagunya, Galih lain cerita, ia berhasil mengemas kecenderungan yang sarat makna ketika mendengarkannya melalui audio, namun ada satu kondisi di mana kau akan tersihir ketika melihat dan mendengarkan penampilannya secara langsung. Setelah saya tilik kembali, apa yang pada akhirnya menjadi magnet ketika melihat dan juga mendengarkan Galih, maka itu dikarenakan ia menyerukan perlawanan, ia tidak menahan perasaan-perasaan, ia lantang.

Selepas menonton 'Manggung di Omu', saya sempat bercerita dengan Galih tentang kegiatannya sehari-hari, sebagai pengajar di salah satu sekolah yang menangani anak-anak disabilitas di Yogyakarta. Ia berbagi kisah tentang bagaimana sulit, menantang, dan menyenangkannya berhadapan dengan murid-muridnya setiap hari. "Tapi semakin banyak mengajar mereka, semakin banyak pula aku belajar tentang diriku sendiri," ujarnya, yang masih sering nyeker di panggung, nyeker di luar panggung, sambil meneguk teh botol. 

Ia tidak diam. Bersama beberapa musisi di Bantul, Yogyakarta, ia bernyanyi untuk Temon, Kulon Progo, Desa yang terancam digusur dan dipindahkan karena pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta. Kemarin dan hari ini, saya kembali mendengarkan Pramoedya, 'Bila kau diam, maka kau akan ditinggalkan sejarah, benggala lalu, kucatat yang hilang," lagu ini kemudian dirilis sebagai bagian dari 37suara yang menggemakan suara warga dalam 37 rumah yang masih dipertahankan di Temon, Kulon Progo, dari pengambilalihan lahan untuk pembangunan NYIA.

Rasanya memang saya menulis ini dengan sebuah kesadaran untuk tidak diam. Bahwa dari lagu-lagu yang ditulis dan dinyanyikan, dan barangkali panggung-panggung yang tidak banyak, ada secuil tulisan yang saya buat untuk melanjutkan solidaritas untuk berbela rasa dan untuk melawan. Penggusuran tanah dengan paksa dan pemberangusan hak-hak warga negara adalah sebuah penindasan yang dengan brutal dilakukan oleh penguasa di Indonesia. Dengan kalimat lain, saya mau mengatakan, mulailah berhati-hati dengan kekuasaan yang akan kau pilih sebentar lagi di Pilkada/Pemilukada. Jangan sampai hatimu terlanjur dijual untuk hal-hal sembrono dan kekuasaan sementara yang akan merugikan kepentinganmu, dan kepentingan saudara-saudaramu sebagai rakyat kecil.

Tuhan bersama mereka, musisi seperti Deugalih dan kawan-kawan yang lain, yang hingga saat ini masih melawan lewat lagu, lewat kata, dan lewat perbuatan: semoga selalu dipelihara dengan hal-hal baik.  



Thursday, February 1, 2018

Sunyi dan Sendiri








Maksudku, saya tak bisa berbohong. Punya ruangan sendiri untuk menulis adalah sebuah keistimewaan. Senyap. Hanya saya dengan buku-buku. Atau hanya saya dengan buku tulis dan layar komputer. Tetapi saya perlu ada di dalam sebuah ruangan sunyi. Saya semakin yakin ada banyak sekali hal yang membuat seseorang dapat menghasilkan sebuah karya, namun hanya ada dua hal penting di mana karya itu dapat dipersiapkan sehingga ia lahir dengan baik. 

Pertama adalah kesunyian. Di dalam kesunyian ada sebuah kelonggaran di sana. Kesunyian juga memberikan kelegaan. Barangkali, rasanya seperti ini duduk di atas kloset, sendirian, rasanya lebih puas, ketimbang kau duduk di atasnya beramai-ramai. 

Yang kedua adalah kesendirian. Belajar tidak takut ketika sendiri itu adalah hal yang penting. Karena di dalam kesendirian, banyak orang yang merasa ditinggalkan, padahal sendiri, adalah waktu luang untuk bersama diri sendiri, mengenal, memeluk, atau sekali-kali berbenah. Tapi bicara soal berbenah, banyak kali memang orang-orang tak siap untuk "menemukan" setumpuk hal-hal kotor di dalam dirinya. Padahal itu juga adalah bagian dari dirinya. 

Pagi ini saya mendengarkan lagu-lagu dari Eward Sharpe & the Magnetic Zero, Alex Ebert, vokalis utama dari band tersebut dalam salah satu wawancaranya mengatakan bahwa, "well, there's something really rewarding  about being alone in a room and writing and feeling like you're doing something really special."


#SebuahCatatanHarian, Bandung, 1 Februari 2018. 

Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...