Thursday, May 18, 2017

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran




foto oleh lukman hakim

Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang paling akhir? Bagaimana sampai dia tertuang di atas kertas?

Puisi tercipta dari hal-hal yang paling keseharian di dalam diri saya. Jika ditanya seperti apa prosesnya, saya senang mengamati. Senang mengamati hal-hal kecil di sekitar saya, misalnya rumput-rumput hijau, daun kering dengan teksturnya ketika melangkah, air dari dahan yang menetes pada kulit, hujan di jendela pendar cahaya dari lampu-lampu mobil ketika gelap, dan kelopak kekasih. Hal-hal semacam itu senang saya amati lekat-lekat dan lambat-lambat. Setelah diamati lalu saya sambungkan dengan rasa yang ada di dalam diri saya. Kemudian proses selanjutnya adalah menuangkannya ke dalam kertas.

Seperti apakah tempat yang 'paling liar' di muka bumi menurut Theo? Bagaimana kamu memaknai kata "LIAR" itu sendiri? Apa kamu punya kenangan atau ingatan tertentu mengenai kata LIAR? :)

Tempat ‘paling liar’ di muka bumi itu menurut saya adalah di dalam kepala manusia. Karena ada dunia yang tidak berbatas di dalam sana. Jika harus memaknai kata ‘liar’ maka saya akan melihatnya sebagai sebuah ‘petulangan rasa’ bagaimana kita berani untuk menjelajahi setiap rasa yang ada di dalam diri kita, rasa apapun itu dengan berani. Kenangan tentang kata ‘liar’ sendiri ketika berumur dua belas atau tiga belas tahun, saya pernah mengendap-endap keluar dari rumah tengah malam, hanya untuk menonton bioskop tengah malam, tanpa izin kepada kedua orang tua saya, hihihi.

'Keliaran' macam apa yang menurutmu mengalir dalam dirimu? Dari mana dia berasal, dan bagaimana kamu berteman dengannya?

Saya senang dengan hal-hal yang datang kepada saya di kali pertama. Baik itu kalimat-kalimat yang datang pertama kali, maupun setiap rasa yang datang untuk pertama kali. Saya tidak suka menyuntingnya. Karena sesuatu yang lebih ‘mentah’ itu biasanya jauh lebih jujur. Itulah sebabnya, mengapa saya tidak pernah menyunting puisi-puisi saya, terkecuali urusan diksi. Segala sesuatu yang lebih ‘mentah’, lebih ‘apa adanya’, lebih ‘jujur’ memiliki keliarannya sendiri. Dan itu ada di dalam saya.

Bagaimana caranya menemukan puisi di sekitar kita? Harus mulai dari mana? Bisakah kita berpuisi tanpa kata-kata?

Saya percaya bahwa inspirasi mampu menjawil siapa saja yang ia kunjungi. Permasalahannya adalah siapa yang peka dan siapa yang tidak. Jika ketika dijawil, lalu orang tersebut abai, maka inspirasi sudah pasti mencari orang yang lain. Jadi jika mau menemukan puisi yang ada di sekitar kita, kuncinya hanya satu: jangan abai. Berpuisi bagi saya tidak perlu dengan kata-kata kok. Hal ini bisa kita contohi dari bagaimana alam raya berpuisi, itu bisa melalui pelangi, warna-warni senja, deru angin kena muka, asin laut yang menempel pada kulit, maupun jejak pasir pada telapak kaki.


Bagaimana tempat kelahiran Theo memengaruhi karya-karya Theo, cara Theo melihat dunia, atau cara Theo berproses secara kreatif?

Ambon, tanah kelahiran saya, sangat mempengaruhi karya-karya saya, cara saya melihat dunia, hingga kemudian cara berproses kreatif saya. Ayah dan Ibu saya sudah mengenalkan saya kepada ‘dunia panggung’ ketika saya masih sangat kecil. Saya dengan dua kakak perempuan saya juga tumbuh dengan mencintai menyanyi sejak kami kecil. Tidak hanya menyanyi, baca puisi, akrab di panggung untuk bermain drama/teater kecil-kecilan, Ayah dan Ibu pun tak lupa mengenalkan kami kepada buku. Ketika remaja, saya ingat, saya sudah membuat karangan cerita pendek pertama saya, walaupun cerita pendek itu tidak selesai hingga sekarang.

Latar belakang alam Ambon yang eksotis pun merangsang saya yang tumbuh di sana untuk mencipta. Entahlah, tetapi saya merasa lautan tidak hanya sekedar berwarna biru, tetapi ada gradasi warna yang jauh lebih kaya. Dan pegunungan pun tidak melulu berwarna hijau. Ia bisa saja berwarna seperti telur asin. Di situlah saya belajar untuk melihat segala kemungkinan di dalam segala ketidakmungkinan.

Apakah setiap hari Theo berpuisi, atau meluangkan waktu untuk melahirkan karya kreatif? Bagaimana Theo bersetia (atau tidak bersetia) pada seni dan kreativitas di dalam diri Theo?

Apakah setiap hari Theo berpuisi? Jika pertanyaan ini ditujukkan kepada saya sekarang, maka jawabannya adalah iya. Karena saya sedang mempersiapkan sebuah karya buku puisi selanjutnya. Tapi, terkadang saya juga tidak berpuisi dalam waktu yang lama kok.

Namun yang penting bagi saya adalah melahirkan karya kreatif, itu musti dilakukan setiap hari, jika tidak berpuisi, paling tidak saya menulis untuk blog, jika tidak menulis untuk blog, paling tidak saya menulis sekelebat kalimat-kalimat yang lewat di kepala saya di dalam buku catatan kecil yang suka saya bawa atau di laman notes telepon genggam saya. Jika proses ini diabaikan oleh saya, saya suka gelisah dan rungsing.

Saya memilih untuk bersetia pada seni dan kreativitas di dalam diri saya. Saya pikir ini adalah persoalan membuat pilihan saja. Gairah saya tidak akan jauh-jauh dari seni dan kreativitas. Hidup dan memilih untuk melakukan kegairahan secara sadar dan penuh, saya anggap sebagai sebuah pencapaian di dalam hidup. Dan yang paling terpenting dari melakukan semua kegairahan ini adalah melakukannya dengan hati bulat, bukan hanya sekedar keren-kerenan. Supaya tidak menyesal ketika mati nanti.


[tulisan ini dalam versi bahasa inggris juga diterbitkan oleh Hanny Kusumawati untuk laman behind the pages di beradadisini.com]

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...