Tuesday, February 28, 2017

Perjalanan















Jendela dan pikiran-pikiran yang mengembara adalah dua dari sekian banyak kenikmatan-kenikmatan kecil yang dapat kamu nikmati ketika melakukan perjalanan dengan kereta. Dijamin kita akan menjadi orang yang paling sibuk jika meladeni keduanya. Perjalanan dengan kereta yang sudah sangat panjang tersebut bisa jadi tambah panjang. Belum lagi jika ditambah dengan waktu tidur. Kata seorang kawan, tidur juga adalah sebuah perjalanan panjang. Ditambah pula dengan percakapan-percakapan asing dengan penumpang lain. Karena terjebak di dalam sebuah gerbong, atau karena duduk bersebelahan, maka yang diperlukan manusia adalah bicara. Meladeni manusia di sekitarnya, karena dengan begitu, manusia akan terus menjadi manusia.

“Cerah sekali ya, hari ini.” Ujarnya. Ia seorang perempuan dengan kacamata berbingkai bujur sangkar. Memakai kaos bertuliskan Radiohead. Sekilas ia tampak seperti gadis-gadis tipe kini, yang senang berpetualang dari konser musik ke konser musik lainnya.

“Iya, lumayan. Agak gerah sih sebenarnya.” Balasku sambil membuka jaket hijau armi yang kupakai.

“Mau ke mana memangnya?” Kali ini ia bertanya lagi.

“Tujuan paling akhir.” Jawabku pendek.

Ia tidak bertanya lagi, kali ini, ia hanya nyengir dan memandang ke jendela. Kami berdua kini diam dengan lamunan masing-masing. Sekilas aku melihat ke jendela, hamparan sawah yang luas, pepohonan mungil di tepiannya, burung-burung yang terbang bergerombol, dan kabel listrik panjang seperti tiada akhir.

“Memangnya perjalanan ini bakal ada akhirnya?” Lamunanku yang belum jauh itu, kemudian dipotong tiba-tiba dengan pertanyaannya kembali.

Aku mengedikkan bahuku. Aku malas ditanya dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Hidup ini harusnya leluasa. Tak usahlah dibikin rumit dengan memikirkan tujuan akhirnya segala. Tapi rasanya enggan juga aku menjawab begitu kepada perempuan ini. Karena nanti akan ada pertanyaan lanjutan. Lalu aku akan menjawab lagi. Begitu terus. Sedangkan aku hanya ingin menikmati perjalanan kali ini dengan tujuan akhirku yang entah ke mana. Aku sendiri malas untuk memikirkannya. Aku hanya kepengin menikmati waktu yang sekarang. Benar-benar sekarang.

Kali ini di luar jendela kereta kulihat titik-titik gerimis mulai hinggap. Embun mulai menutupi sebagian kaca jendela, sehingga hamparan hijau sawah di kejauhan kini terlihat samar-samar.

“Memangnya perjalanan ini bakal ada akhirnya?” Perempuan itu kembali mengulang pertanyaannya. Kupikir ia memang tipe perempuan yang keras kepala. Dan sama sekali tidak mau ambil pusing denganku yang malas bicara.  

“Aku tidak tahu. Tapi sesuai jadwal, kereta ini memang akan berhenti di tujuan akhirnya. Dan aku manut saja.” Aku menjawab datar. Dengan harapan perempuan di sampingku ini bisa diam saja dan tidak bertanya lagi.  

“Kamu aneh, maksudku, ya tinggal jawab saja, kamu akan turun di mana? Cipendeuy, Banjar, Wonosari, Kroya, atau mana saja, ya, terserah kamu.” Ia malah menimpali jawabanku dengan agak ketus. Aku lalu merasa perempuan di sampingku ini memang agak cerewet. Dan aku agak menyesali diriku sendiri yang memesan nomor kursi kereta ini semalam. Coba aku memesan nomor kereta lain. Atau nomor yang sama di gerbong yang berbeda, mungkin aku tidak akan bertemu dengan perempuan ini. Mungkin saat ini aku sedang duduk sendiri dan menikmati lamunanku saja sepanjang perjalanan ini tanpa perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari perempuan di sampingku ini. Sial!

Namun aku merasa sia-sia juga aku menjadi manusia, jika tidak meladeni perempuan ini dengan baik-baik. Aku lalu berkata kepadanya, “Aku sebenarnya tak punya tujuan. Aku hanya mengikuti ke mana kereta ini akan berhenti. Dan seperti yang kamu tanyakan, memangnya perjalanan ini bakal ada akhirnya? Kupikir, akhir itu ketika semuanya berhenti. Tetapi ketika manusia masih dapat bergerak, maka tak akan ada akhir.”

“Oh, jadi, kamu ini semacam petualang begitu?” kali ini ia bertanya dengan mata yang terbuka lebar sehingga aku dapat melihat matanya yang berwarna abu-abu muda.

“Tidak juga. Aku bukan petualang seperti yang dimaksud oleh kebanyakan orang. Aku hanya senang, berjalan, menikmatinya, dan tidak pernah peduli akan berhenti di mana.” Ada senyum merekah di wajahnya kini. “Lalu kamu sendiri, mau ke mana?” Tanyaku kini tidak mau kalah.

“Sama. Aku juga akan berhenti kemanapun kereta ini berhenti. Aku mahasiswa tingkat akhir dan sementara membuat penelitian tugas akhirku. Aku meneliti tentang bagaimana jawaban-jawaban orang-orang yang aku temui di sepanjang perjalanan terhadap pertanyaan-pertanyaan acak yang aku tanyakan sebagai orang asing. Tetapi dengan satu syarat, tidak perlu berkenalan seperti yang biasanya dilakukan oleh banyak orang. Identitas adalah rahasia.” Perempuan itu menjelaskan panjang lebar.

“Oh, jadi identitas itu rahasia. Jadi semuanya tergantung dengan apa yang kamu pikirkan saja? Tidak perlu nyambung atau menyesuaikan dengan orang yang kamu tanyakan ya?”

“Tidak.” Ia tertawa kecil kemudian melanjutkan “Iya, segala pertanyaan itu sifatnya acak, dan yang pertama kali terlintas dalam pikiranku saja. Tidak perlu nyambung. Makanya, aku sudah terbiasa dengan orang asing yang tiba-tiba jutek denganku.”

“Jadi, apa yang akan kamu teliti di sana?” Aku mulai tertarik untuk mendengarkan penjelasannya. 

Aku meneliti tentang respon manusia. Bagaimana manusia yang satu dengan manusia yang lainnya dapat terhubung tanpa perlu tahu identitas masing-masing. Keterhubungan dalam percakapan, gestur, dan pesan yang disampaikan adalah yang penting. Sedangkan identitas sudah tidak lagi penting.”

Kereta yang kami tumpangi itu memasuki sebuah terowongan panjang. Aku dapat melihat bayangan hitam panjang kini di jendela kereta dan bunyi gerbong kereta yang berdebum. Aku lalu memikirkan bagaimana jika bayangan gelap ini tidak akan ada akhirnya, dan akan menemani sisa perjalanan di kereta kali ini.

“Bagaimana dengan gelap, kamu takut gelap?” Lagi-lagi perempuan itu bertanya lagi. Perempuan itu kini terlihat menempelkan sebelah pipinya di jendela kereta.

“Aku berkawan akrab dengan gelap. Sejak kecil, aku dibesarkan di kampung yang tak ada listriknya ketika malam. Di rumah, kami hanya terbiasa membakar pelita. Pelita di rumah kami biasanya dimatikan menjelang tidur. Di dalam gelap itu biasanya aku suka membayangkan gambar-gambar acak sesuka hatiku. Biasanya mereka datang berupa tokoh, lalu aku akan menamai mereka, dan membuat cerita dari sana. Aku menyukai gelap. Kupikir gulita baik sekali bagiku untuk terus berpetualangan dengan pikiranku sendiri. Tak ada tujuan. Tak ada akhirnya.”

Aku melihat perempuan itu memperhatikan ceritaku dengan seksama, kali ini ia membenarkan letak duduknya, menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya. Udara di gerbong kereta kini sedikit pengap akibat pemanas ruangan yang sudah tidak lagi berfungsi dengan baik. Aku lalu melanjutkan ceritaku, “Ayah dan ibuku meninggal ketika aku masih sangat kecil. Aku dan adik-adikku lalu dititipkan kepada paman dari ayah kami. Namun setelah istri paman kami meninggal dunia, paman kami ini menikah lagi dengan istri yang lebih muda. Di sini cerita kami dimulai, sepanjang hari pekerjaanku adalah membantu paman di sawah. Jika di sawah sudah tak ada yang bisa dikerjakan, maka aku akan membantu istri paman kami itu berjualan di pasar. Sepanjang hari aku bahkan tak punya waktu untuk bermain dengan teman-teman sebayaku. Waktu bermainku adalah ketika gelap tiba dan sebelum tidur. Ketika gelap, aku tidak mau lekas lelap, karena di situlah waktuku untuk bermain.”

Kereta kami telah melewati terowogan gelap tadi. Kini tak ada lagi hamparan sawah di jendela. Pemandangan di luar jendela kereta telah berganti dengan sungai-sungai berwarna coklat di kejauhan. Pramugari kereta api terlihat sedang berjalan di dalam gerbong kami dengan nampan berisi makanan. Ketika menawarkan makanan, aku memesan nasi goreng, walaupun aku tahu bahwa nasi goreng di kereta api rasanya seperti handuk basah dan susah sekali untuk ditelan. Tapi apa boleh buat, lumayan juga untuk memaksa perut ini supaya kenyang. Perempuan di sampingku tidak memesan, ia malah mengeluarkan bekal makannya yang ada di dalam sebuah tupperware.

“Selamat makan.” Katanya sambil membuka tutup tupperware-nya. Kini aku dapat melihat makanan yang ada di dalamnya yaitu nasi kuning, telur balado, sedikit keringan tempe, sambal, dan kerupuk berwarna oranye. “Tadi beli di dekat stasiun, lumayan untuk makan siang. Daripada beli makanan di kereta.” Ujarnya seperti membaca pikiranku. Aku mengangguk.

“Ibuku jagoan memasak nasi kuning. Nasi kuningnya terenak. Jika ada hajatan atau acara di sekitar komplek kami, mereka akan langganan memesan nasi kuning ibu. Sehari-hari, ibu berjualan di warung kecilnya yang terletak di dekat jalan utama, tidak jauh dari rumah kami. Namun warung kecil ibu terpaksa dibongkar, karena ada proyek pembangunan trotoar.” Perempuan itu bercerita sambil mengunyah nasi kuningnya pelan-pelan. “Ya, terpaksa deh, ibu tidak berjualan dulu untuk sementara. Dan menunggu pesanan saja, padahal sehari-hari jualan ibu biasanya laku keras.”

“Iya nih, pesanan nasi gorengku juga belum datang-datang,” celetukku kemudian sambil mengelus-elus perut, “lapar!” tandasku lagi dengan muka masam. Kami berdua tertawa. Tawa yang kemudian merenyahkan suasana di antara kami di gerbong kereta itu.

“Sekarang kamu mengerjakan apa? Hm, maksudku, kamu mengerjakan apa untuk hidup?” wajah perempuan itu kembali serius ketika melontarkan pertanyaannya. “Aku tadinya bekerja di sebuah perusahaan kulit. Kami melayani pemesanan apapun dengan bahan kulit, yang biasanya kami kirimkan ke seluruh Indonesia. Pekerjaanku biasanya pergi ke daerah-daerah untuk melakukan survei untuk mendapatkan bahan kulit dengan kualitas terbaik.”

“Oh, seru juga ya bisa jalan-jalan terus!” Seru perempuan itu.

“Iya, tapi sekarang aku sudah berhenti, aku bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja. Aku mau mencoba peruntungan lain. Aku mau bekerja tanpa rutinitas. Sebebas mungkin..”

“Sebebas mungkin, maksudnya?” Perempuan itu memotong pembicaraanku dengan antusias.

“Kamu tahu, kadang hidup manusia hanya seperti hidup dari satu labirin ke satu labirin yang lain. Setiap pagi ketika manusia bangun, dengan segala jadwal yang ada di dalam kepala mereka, tetapi yang terjadi mereka hanya berada di dalam sebuah keterjebakan. Mereka menyangka mereka dapat pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain, mereka menyangka mereka berpindah tempat, padahal sebenarnya tidak. Mereka stuck. Mereka terbatas. Mereka diam di tempat. Aku bosan dengan semua keteraturan itu. Aku bosan dengan semua keterbatasan. Aku tidak mau dibatasi oleh apapun. Makanya aku memilih untuk keluar dari pekerjaanku. Dan, yah, aku senang dengan hidupku yang sekarang. Bebas. Tanpa tujuan.”

“Tapi, bukankah kamu tetap butuh keteraturan, makan misalnya, dan kamu tentu membutuhkan uang untuk mendapatkan makanan itu bukan?” Perempuan itu bertanya lagi sambil mengunyah makanannya, kunyahan terakhir aku rasa, karena kali ini ia menutup tupperware tersebut. Dan mengambil air minum pada meja kereta.”

“Ya, tentu, aku mengerti bahwa manusia tetap butuh uang, tetapi uang tidak dapat membatasi manusia untuk menjadi manusia. Aku masih ada sisa uang di tabungan, tidak banyak memang, tetapi masih bisalah untuk memenuhi kebutuhan makanku sehari-hari. Tapi yang kepengin kunikmati bukan itu, aku mau bebas, bebas dari labirin. Aku tidak mau membatasi diriku dengan apapun, semacam standar yang ditetapkan oleh manusia lainnya untukku. Aku mau seperti pohon itu,” aku lalu menunjuk kepada sebuah pohon mungil yang terlihat di jendela kereta, perempuan itu spontan menoleh mengikuti jari telunjukku. “Kamu lihat kan pohon itu? ia tidak menabung, ia tidak memikirkan besok mau makan apa? ia tetap hijau, ia pasrah, namun ia tetap berdiri kokoh.” Aku lalu melanjutkan kalimatku.

“Atau aku mau menjadi air itu..” kali ini kereta kami melewati sebuah jembatan yang cukup panjang dan tinggi. Aku dapat melihat sungai yang cukup curam di bawah sana. Air yang berwarna agak kecoklatan itu mengalir deras menuju sesuatu. “Air itu tidak pernah khawatir ia akan mengalir ke mana ya kan? Ia percaya diri saja. Ia seperti terus berjalan. Tak pernah sekalipun ia kelihatan bingung, atau bertanya hendak ke mana ia mengalir, sebaliknya ia tenang dan hanyut saja.”

Aku lalu merogoh laci ranselku untuk meraih botol minumku. Aku sampai lupa sejak bicara dengan perempuan ini dari tadi aku bahkan belum minum sedikit pun. Ketika mengeluarkan botol minumanku, ada secarik kertas yang ikut tercerabut keluar dan jatuh ke lantai, aku memungutnya dan menyadari bahwa itu adalah karcis keretaku. Aku membuka lipatan karcis tersebut dan membaca tulisannya di sana, “SELAMAT MENIKMATI PERJALANAN TANPA TUJUAN BERSAMA KERETA INI. KAMI TIDAK AKAN BERHENTI KECUALI JIKA ANDA MENGINGINKANNYA.”

Perempuan di sampingku ikut-ikutan melongokkan kepalanya. Dan spontan ia meraba saku celananya dan mengambil karcis kereta yang juga ada di dalamnya, kemudian membukanya dan mendapati tulisan yang sama di sana.

Semburat senyum lalu merekah di pipi kami.

Senja kini hinggap di jendela kereta. Aku dapat melihat langit berwarna oranye bercampur merah muda pudar di kejauhan dan samar-samar dari pengeras suara di kereta terdengar lagu dari Radiohead, Daydreaming, 

“dreamers, they never learn, they never learn, beyond the point, of no return, of no return, then it’s too late..”
___

Mendapat inspirasi menulis ini ketika di dalam kereta menuju solo. Lalu menyelesaikannya di salatiga, kamis 28 Feb 2016, pada pukul 14:53.


No comments:

Post a Comment