Thursday, December 7, 2017

DESEMBER







pada pukul sepuluh lebih lima belas menit 
kampung kami didatangi orang-orang berseragam
mereka bukan rombongan sinterklas membawa gula-gula
tak ada kado di dalam karung
kami dipaksa keluar dari rumah
ibu dan adik-adik menangis
tak ada selfie di bawah pohon terang
apalagi pamitan antar tetangga
bolsak dispenser rice cooker celana dalam
surat cinta dan hati berserakan di pekarangan
desember kali ini: tuhan-tuhan kecil merajalela
menjadi beton
seperti menang lotre
yang lain hanya tunggu giliran.

Bandung 7 Desember 2017, 16:24.
(untuk temon, kulon progo, dan sekitarnya).




Thursday, November 30, 2017

Untukmu yang Berwarna Merah Muda






Bandung, 30 November 2017
Menurut komnas perempuan: setiap dua jam tiga dari perempuan Indonesia mengalami kekerasan seksual. #16hariantikekerasanterhadapperempuan

Tuesday, November 28, 2017

Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Menulis Puisi










Hari Minggu kemarin di sore bersama perempuan sore, saya mengadakan workshop: Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Menulis Puisi. Saya mengawali workshop dengan mengatakan kepada peserta bahwa, "ini hanya cara-cara tidak kreatif, jadi santai saja. Tak perlu mengharapkan banyak dari workshop ini." Kenapa judulnya adalah Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Menulis Puisi? ya, sudah terlalu banyak orang kreatif di muka bumi ini. Sudah jarang, orang-orang yang biasa-biasa saja. Namun sebenarnya ini adalah cara untuk mengajak peserta bermain-main dengan kata bukan hanya di dalam kepala, melainkan yang juga ada di sekitar mereka. Kata-kata yang berserakan itulah yang kemudian dapat dipindahkan untuk membuat satu bait pendek puisi.

Sebelum saya dan peserta bermain-main, saya menceritakan tentang pengalaman menulis sekelebat. Sekelebat adalah sebutan yang saya tujukkan kepada satu cara menulis yang saya lakukan ketika pertama kali saya bangun tidur. Kalimat-kalimat acak dan tidak beraturan yang muncul di dalam kepala itulah yang saya tulis. Kemudian pengalaman selanjutnya yang saya bagikan adalah menulis jurnal mimpi. Ada sebuah masa ketika malamnya saya bermimpi dan paginya ketika saya bangun tidur, hal pertama yang saya lakukan adalah menuliskan kembali apa yang saya mimpikan semalam. Sebuah pengalaman unik, karena mimpi biasanya sangat acak dan absurd. Tapi itu kemudian menjadi sebuah pengalaman yang unik dan menyenangkan. Sayang sekali, akhir-akhir ini saya sudah jarang mendapat mimpi. 



foto oleh nicky borneo

Saya kemudian mengajak peserta untuk melakukan percobaan dengan meraba, menghirup, mencicipi: biji kopi, kopi bubuk, dan gula. Dan menuliskan pengalaman yang mereka rasakan ketika mereka melakukannya. Percobaan selanjutnya adalah dengan membuat puisi dari tiga kata terakhir yang ada di percakapan whatsapp, dengan judul buku yang ada di dalam ruangan itu, kemudian "mencuri" tiga kata dari satu puisi kesukaan masing-masing peserta. 

Cara-cara tidak kreatif untuk menulis puisi yang dilakukan di ruang perpustakaan Mr. Guan Coffee & Books di jalan Tampomas no. 22 Bandung berjalan dengan santai, penuh tawa, dan rasa kejut. Hal tersebut disebabkan bahwa peserta bahkan tidak menyangka bahwa mereka dapat bereksperimen untuk menulis puisi bahkan dari hal-hal kecil yang terdapat di sekitar mereka.

Sebelum pertemuan itu usai, saya memberikan kesempatan kepada peserta untuk menulis puisi secara berantai. Semua yang ada di dalam ruangan itu mendapat kesempatan untuk menulis tanpa terkecuali. Puisi berantai itu dimulai dengan kalimat-kalimat ini, "matahari tidak pernah kehilangan dirinya sendiri meski bulan mencuri degupnya."

Cara-cara tidak kreatif untuk menulis puisi, adalah sebuah cara memaknai keseharian dan merayakan hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Sebab kita tidak akan pernah tahu bahwa cara-cara tidak kreatif tadi, pada akhirnya akan membawa kepada sebuah hasil yang mengejutkan. 






Monday, November 27, 2017

Hingga Malam Bersama Perempuan Sore: Peluncuran Buku Perempuan Sore karya Theoresia Rumthe






foto oleh elan budikusumah

Minggu sore (26/11) di Mr. Guan Coffee & Books, Theoresia Rumthe meluncurkan bukunya, "Perempuan Sore." Peluncuran buku itu diawali dengan workshop "Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Menulis Puisi" yang diikuti belasan peserta. Kurang lebih satu jam, Theo mengajak mereka bermain-main dengan kata; mengubah pesan whatsapp menjadi puisi, mengubah aroma dan tekstur biji kopi menjadi puisi, termasuk "mencuri" judul-judul buku untuk membuat puisi. 

Dari ruang workshop, bersamaan dengan sore yang tumpah di jendela-jendela tua, kehangatan acara hari itu berpindah ke ruang utama Mr. Guan Coffee & Books. Di situ, percakapan santai seputar penerbitan buku pada penerbit indie dimulai. Mas Ardi dari Bookslife berbagi pengalamannya mengelola penerbitan buku secara online dan offline. Sementara Vinca Callista bercerita tentang pengalaman menerbitkan bukunya, "Travel Mates," secara online di Bookslife yang dikelola oleh suami-istri Ardianto Agung Santoso dan Dewi Fita Suryani. 

Sebelum dicetak oleh Penerbit Rak Buku yang dikelola juga oleh suami-istri yang akrab disapa mas Ardi dan mbak Tata, buku "Perempuan Sore" sendiri pernah diterbitkan secara online di Bookslife. Buku Perempuan Sore berisi 26 catatan harian pilihan yang merekam cerita-cerita yang beragam, kecil, dan biasa. Theoresia Rumthe, penulis buku ini, bercerita tentang kata cukup, terima kasih, berbagi, superhero, jalan kaki, waktu, dan sejumlah hal lain. Kadang hal-hal yang terlalu biasa sehingga pembaca barangkali akan dikagetkan dengan apa yang bisa mereka temukan dalam catatan Theo tentang hal-hal yang terlalu biasa itu. 

Cerita-cerita tentang hal-hal yang sudah sangat familiar itu, dalam catatan Theo, ternyata menampakkan diri sebagai yang memiliki pengaruh besar bagi manusia sebagaimana dirasakan Theo sendiri. Memang apa-apa yang sudah biasa, kadang tidak disadari kekuatannya. Catatan-catatan harian Theo dalam buku "Perempuan Sore" kembali mengajak pembaca untuk menandainya dengan sadar.


Dalam bincang santai dari sore hingga malam itu, Theo bilang, "Buku 'Perempuan Sore' adalah sebagian dirinya yang sejak malam itu bisa dibawa pulang oleh pembaca." Sebagai sebuah buku, "Perempuan Sore" sudah rampung. Tetapi sebagai yang berasal catatan-catatan harian, "Perempuan Sore" selalu harus dibaca sebagai yang belum selesai.

Lagu-lagu folk yang disuguhkan Jon Kastella, Yudhaswara, dan Ihsan memenuhi ruangan dengan nada-nada yang renyah untuk dinikmati. Di dalam jeda lagu-lagu folk itu, Putri Khansa Elgabi, Teti Diana, Navida Suryadilaga, Wanggi Hoed, dan Kennya Rinonce membagikan kepada pendengar puisi-puisi dari catatan-catatan pribadi mereka. 

Malam yang hangat dan menyenangkan. "Menggetarkan," kata Liyo Buna menutup acara peluncuran buku "Perempuan Sore" malam itu.


(ditulis oleh weslly johannes, Bandung, 27 November 2017)

#sorebersamaperempuansore: peluncuran buku perempuan sore






foto oleh nicky borneo





Semesta yang rahmani, terima kasih sudah memberkahi #sorebersamaperempuansore pada Minggu, 26 November 2017.

Dimulai dari cara-cara tidak kreatif untuk menulis puisi yang dihadiri kawan-kawan penikmat puisi, saya mengajak kawan-kawan untuk bermain membuat puisi dengan satu atau dua kata di percakapan whatsapp judul buku yang ada di dalam ruangan, aroma tekstur kopi dan gula. Dilanjutkan dengan peluncuran #bukuperempuansore dan ngobrol seru dengan penerbit rak buku tentang menerbitkan buku secara digital, vinca callista yang juga berbagi pengalamannya menerbitkan buku secara digital.

Pembacaan puisi-puisi magis oleh putri elgabi, teti diana, navida suryadilaga, wanggi hoed, kennya rinonce, dan weslly johannes (dengan #livepoem: #memuisikannama).

Tak lupa mereka yang merdu: jon kastella, yuddhaswara, dan ihsan. Galih yang membantu sound. Kemudian liyo buna, nicky borneo, oky, dan kawan-kawan di Mr. Guan Coffee & Books yang sudah menyediakan tempat yang begitu bersahaja dan melayani kopi enak.

Dan kepada semua yang telah meluangkan waktunya untuk hadir, semoga kita terus dapat memelihara keyakinan-keyakinan kecil dan kebaikan menyertai setiap perjalanan kita.

salam hangat, 
theoresia rumthe

Sunday, November 19, 2017

Sore Bersama Perempuan Sore





Halo kawan-kawan tersayang, sampai jumpa ya di SORE BERSAMA PEREMPUAN SORE, dengan acara sebagai berikut:

Minggu, 26 November 2017
Pukul 3-6 WIB
@ Mr. Guan Coffee and Books
Jalan Tampomas no. 22, Bandung

(1) workshop: cara-cara tidak kreatif untuk menulis puisi

(jika tertarik untuk mengikuti workshop, silakan daftar via email dewi.fita@gmail.com dengan subject: workshop perempuan sore) 

(2) peluncuran buku perempuan sore dan ngobrol santai bersama penerbit rak buku 

(3) pembacaan puisi: putri khansa elgabi, teti diana, navida suryadilaga, dan kawan-kawan

(4) musik: jon kastella dan kawan-kawan

Ajak kekasih dan sahabat-sahabat kesayanganmu. Tidak ada kesan tanpa kehadiranmu.

dengan gemas, 

theoresia rumthe

Berita: Jelang Terbit Buku Perempuan Sore











Tahun ini, Theoresia Rumthe akan menerbitkan buku baru. Semenjak tahun 2009, Theoresia Rumthe mulai menerbitkan secara rutin catatan-catatan di blog pribadinya. Dari situ, oleh pembaca blognya, ia dikenal luas dengan sebutan sesuai nama blognya, perempuan sore.
Bukunya yang diberi judul "Perempuan Sore" ini adalah kumpulan catatan terpilih dari sekian banyak catatan yang pernah ditulis Theo selama kurang lebih 8 tahun, tentu dengan penyempurnaan-penyempurnaan seperlunya.
Sebelum buku ini, Theo pernah juga menerbitkan beberapa buku lain, di antaranya: kumpulan puisi "Rona Kata" (2010), kumpulan cerita pendek "Perkara Mengirim Senja" (2012) dan "Menuju(h)" (2012), juga kumpulan puisi terbarunya, "Tempat Paling Liar di Muka Bumi" (2016).
Bagi pembaca blog "Perempuan Sore," kehadiran buku ini tentu sangat dinanti-nantikan. Kalau kamu tak sabar ingin segera memilikinya, buku ini bisa kamu pesan sekarang.
(ditulis oleh Weslly Johannes, Bandung 2017.)

Wednesday, November 8, 2017

Buku Edisi Spesial Perempuan Sore








Sejumput tulisan yang akan kamu baca di dalam buku ini adalah perenungan saya sehari-hari yang sebelumnya  dikumpulkan di blog perempuansore. Saya mulai menulis di blog sejak tahun 2009, karena pada waktu itu saya ingin memiliki bagi diri saya sendiri, sebuah ruang sunyi untuk "bersembunyi" dari pekerjaan saya pada saat itu sebagai penyiar radio. Puisi, cerita-cerita yang pendek bagai rok mini, dan cerita-cerita lain yang saya tulis berdasarkan pengalaman sehari-hari: jatuh cinta, patah hati, kegairahan-kegairahan hidup, bahkan kematian. Rekaman catatan lama ini, dapat kamu nikmati lagi sekarang dalam bentuk buku dengan judul Perempuan Sore. Selamat menikmatinya di sore hari sambil ditemani secangkir kopi panas. 

salam,
theoresia rumthe

-

Buku edisi spesial, Perempuan Sore oleh Theoresia Rumthe

[Hanya saja, saya tidak sepakat dengan kalimat ini : Jatuh cinta dengan orang yang salah. Bagi saya, setiap orang pernah melakukan kesalahan. Tidak ada yang berhak menghakimi orang lain. Kamu tidak pernah jatuh cinta dengan orang yang salah. Tidak ada satu orang pun di bawah langit ini yang punya kuasa untuk mengatur, yang itu "salah", yang itu "benar", yang itu "tepat" karena konon hati manusia itu terlalu dalam untuk dinilai hanya dari permukaannya]

Perempuan Sore
Pre Order : 1 - 19 November 2017
Harga Spesial : 34.000
Pemesanan :
LINE : bukukafe
WA : 0858 - 8036 - 0008


Thursday, October 12, 2017

Bagaimana Kau Harusnya Menemukan Dirimu Sendiri Sebelum Kau Menemukan Diri Orang Lain




Sebuah pertanyaan muncul di kepala saya, ketika sedang keramas. Bagaimana ketika akhirnya pernikahan akan membawamu kepada sebuah keterasingan. Saya tak tahu dari mana pertanyaan ini justru muncul di dalam kepala saya, barangkali ketika sebelumnya saya membaca novel terbarunya Intan Paramadhita (karena saya akan memoderatori acara pra-peluncuran novel tersebut besok lusa), dan di dalam novel tersebut saya menemukan kalimat-kalimat ini. Atau barangkali juga karena di malam sebelumnya saya membaca sebuah ulasan tentang Marianne Katoppo, seorang penulis perempuan yang pada akhirnya memutuskan untuk tidak menikah, dan memilih untuk tinggal bersama dua puluh kucingnya. Bahkan saya membaca di satu halaman yang menuliskan bahwa Marianne sedikit kesepian dengan keputusannya itu. Atau barangkali juga sebelumnya saya mendengarkan kembali sebuah seminar yang membahas tentang Pengakuan Eks Parasit Lajang, yang di dalam buku tersebut: Ayu Utami akhirnya menikah. Setelah sebelumnya ia menulis sepuluh dan sebelas alasan kenapa ia tidak akan menikah di bukunya Parasit Lajang. Atau barangkali saja, pertanyaan itu muncul karena dalam sebulan ini saya sering dicurhati oleh beberapa kawan perempuan tentang pernikahan dan rumah tangga mereka.

Entahlah, tapi pertanyaan itu muncul tiba-tiba di dalam kepala saya ketika saya sedang keramas. Pernikahan adalah satu atau bukan juga sebuah pilihan di dalam hidup. Tapi jangankan menikah, dalam berhubungan dengan sahabat dalam kehidupan sehari-hari saja pun kadang kita merasa saling terasing. Lalu pertanyaan lainnya adalah bagaimana kalau nantinya saya kemudian terasing di dalam pernikahan, bagaimana kalau akhirnya saya sendiri tidak bahagia dengan pernikahan saya, bagaimana kalau pada akhirnya segala pengandaian yang ada di dalam kepala saya tentang pernikahan pada akhirnya tidak sesuai dengan kenyataan, dan daftar ini akan bertambah panjang dengan bagaimana-bagaimana lainnya. Tak ada contoh yang paling dekat tentang pernikahan, selain kedua orang tua saya sendiri, mereka menikah selama empat puluh tiga tahun, sebelum akhirnya ibu saya meninggal, dan ayah seorang diri kini. Kehidupan pernikahan yang tidak diromantisir, tetapi berlimpah pengertian. Pada akhirnya yang tersisa adalah pengertian yang panjang. Karena kehidupan pernikahan adalah sebuah leburan dunia yang sama sekali lain.

Saya membayangkannya sebagai sebuah ruang yang sempit, di mana di dalamnya, dua orang yang telah menikah tadi akan berbagi segala hal senang pun yang menjengkelkan. Segala aroma yang senang pun menjengkelkan, dari mulai aroma ketiak, aroma masam pada kaki, aroma badan ketika tidak mandi berhari-hari, aroma kemarahan, bahkan aroma busuk yang terkuak dari hati. Sebuah kenyataan terpatri di sini: pasangan yang telah menikah dan memutuskan untuk saling lebur lagi mendapati diri mereka terjebak dalam sebuah labirin dengan orang yang sama. Dan yang dapat membantu mereka adalah pengertian dan pengertian. Lalu, apakah pada akhirnya mereka akan tetap saling merasa terasing satu dengan yang lain?

Bisa ya, bisa juga tidak. Ruang sempit tadi yang membatasi satu dengan yang lain, justru adalah sebuah pengertian yang lain, semakin sempit ruang, semakin dapat saling menyentuh satu dengan yang lain, semakin saling menyentuh satu dengan yang lain, maka semakin ada rasa untuk saling menginginkan satu dengan yang lain. Tapi apakah dengan pengandaian di dalam kepala saya ini, kemudian dapat menjawab pertanyaan saya, tidak juga. Saya masih merasa bahwa pertanyaan bagaimana-bagaimana tadi kemudian masih menjadi sesuatu yang asing di dalam kepala saya. Kemudian apakah dengan pengertian saja cukup? tulisan ini sendiri tidak dapat menjawab judul yang saya pakai di atas. Namun semoga saja tulisan ini tidak murahan.

Wednesday, October 11, 2017

Mendamba Drupadi




Borok dan anjing. Manusia memelihara keduanya—dengan alasan kesepian.

Ia memaksakan kakimu untuk mengendus satu kubangan air yang satu ke kubangan air yang lain tanpa tertegun lama. Barangkali itu adalah kubangan hujan atau air mata, petak petak kesedihan, atau seperti borok yang menganga. Manusia rajin memelihara borok dan manusia rajin memelihara anjing: keduanya saling menjilati berharap akan terobati. Kesepian tak ada obatnya. Pada suatu malam ketika ia berjalan dan menghampirimu pada sebuah kehidupan yang sama sekali lain: kau melihatnya temaram. Ia tumbuh rimbun di pekarangan hatimu, sayang sekali ia mengeringkanmu dan kau masih berpikir ia sesuatu yang indah.

Yudistira dengan bimbang mengeluarkan sebuah rokok dari dalam sakunya dan menyalakan sebatang. Panjang sangat panjang rokok itu—seperti tak habis-habis dari dalam sakunya. Ia menghisapnya dalam-dalam, asap rokoknya dihembuskan perlahan, menuju atap, menuju gugusan langit ia ingat sering terbang bersama perempuan itu kemari dan bertemu bintang-bintang yang roboh, jatuh ke bumi, bersama dengan sebuah keinginan: aku ingin memilikinya. Sebuah keinginan yang kosong.

Bima yang sedari tadi memainkan ekor rambutnya, membetulkan letak kacamatanya, menggeser pantatnya sedikit di tempat duduknya. Ia baru saja mengirim sebuah pesan pendek kepada seorang perempuan, hanya di-read, tapi tak dibalas. Sial! rutuknya dalam hati. Dan hatinya kembali mengutuknya. Rindu berubah menjadi sebuah pesan pendek, yang membuatmu gusar jika tak segera dibalas.

Di seberang mejanya, ia melihat sepasang muda-mudi saling menatap  namun tak bicara sepatah katapun. Lama kelamaan sepasang muda-mudi itu berubah menjadi sepasang gagak hitam, paruh mereka saling bertautan satu dengan yang lain, paruh itu kini terbuka, dan dua gagak hitam itu saling memagut. Arjuna dengan setelan jas berwarna marun, terpaku sejenak sebelum tangannya menjelajahi tasnya untuk mencari-cari ponselnya, barangkali ia dapat mengabadikan momen itu. Nihil. Ia tak menemukan ponselnya sendiri. Pikirannya kini melayang kepada perempuan itu, dengan rambut hitam legam seperti gagak, perempuan yang menjadi penguasa jiwanya dengan pinggulnya yang gemerlapan. Ia kembali menyesap kopinya, ada helai-helai berwarna hitam—seperti sayap—seperti gagak, tergenang di cangkirnya.

Nakula dan Sadewa, adalah cermin. Saling memancarkan satu dengan yang lain, barangkali itu cemas, atau ragu, atau, entah. Bahasa manusia terlalu terbatas untuk menceritakan perasaan-perasaan yang asin di dalam dirinya. Bukan, Nakula dan Sadewa bukan lautan yang dimaksud. Namun mereka berwarna biru. Mereka duduk di meja lainnya pada kafe itu, bersama genangan;

aromanya adalah perempuan.


dago 349, 10 oktober 2017. 14:42

-

(sebuah tulisan yang dibuat untuk Spektakel Drupadi, langkah satu: Mengopi Pandawa, 14 Oktober 2017)



Saturday, September 30, 2017

#sebuahcatatanharian: Kelas Public Speaking Periode September





Kelas public speaking periode September berakhir sudah. Semalam kami merayakannya dengan membuat presentasi akhir dan masing-masing peserta mesti membicarakan sebuah tema kreatifnya melalui slide yang ia siapkan. Saat-saat yang paling saya tunggu adalah kejutan-kejutan yang dilakukan oleh para peserta, biasanya apa yang tidak kelihatan selama pertemuan biasa, akan tampak ketika ada di presentasi akhir.

Bambang Erlangga, designer, memaparkan tentang apa itu design menurut perspektifnya. Sundea, penulis, menceritakan tentang mengapa kita harus mencintai apa yang sudah kita pilih di dalam hidup (termasuk jurusan kuliah) sebagai sebuah pembelajaran baru. Dea menggunakan banyak sekali perumpamaan-perumpamaan ajaib. Bahijaya Rosella, atau biasa disapa Bahe, designer juga, yang menceritakan tentang ketersesatan seorang design grafis. Intan Prisanti, seorang pekerja kreatif di bidang fashion, menceritakan tentang lima tips bagaimana supaya pekerja kreatif tetap fit dalam menjalankan aktivitasnya. Dan Nasrul Akbar mencengangkan dengan presentasinya tentang how to ruin your conversation. Nasrul menggunakan perspektif psikologi terbalik untuk mengingatkan kita bagaimana supaya nantinya tidak gagal dalam berkomunikasi. Alhasil, Nasrul dipilih oleh juri sebagai salah satu presenter terbaik tadi malam, karena Nasrul berhasil menceritakan kecemasannya dengan gemas. Terima kasih untuk juri dadakan yang sudah mau hadir, Chabib Duta Hapsoro, kurator dari Selasar Sunaryo Art Space, yang mau meluangkan waktu sibuknya, dan Tazul Arifin dari POT branding house, yang juga adalah alumni dari kelas public speaking.

Kelas public speaking bagi saya adalah seperti terdampar di sebuah pulau dengan orang-orang acak. Di sana kami hanya membawa perlengkapan seadanya, terbatas, dan supaya menghemat bekal makanan kami, yang kami butuhkan adalah mengobrol satu dengan yang lain. Menjadi manusia. Satu hal menarik tentang menjadi manusia adalah terbatas: mengakui keterbatasan, dan menerima keterbatasan. Menjadi terbatas—termasuk barangkali di dalam hidup kita masih suka mengacaukan pembicaraan, dan tidak apa-apa, karena ingat masih ada hari lain—masih ada hari lain. Sekali lagi terima kasih.

Sunday, September 17, 2017

Cerita Tentang Perempuan dan Kekasihnya








meja berwarna hitam tak terlalu besar itu kini penuh dengan segala macam-macam yang kita bagi bersama: gula, cangkir kopi, gunting kuku, rokok yang sudah kadaluarsa, buku the world until yesterday, sendok bekas nasi goreng, ciuman-ciuman, bunyi kentut, ponsel yang habis baterei, suara mama beberapa menit yang lalu mengatakan jangan terlalu banyak begadang, abu rokok yang menggelinding di sela-sela tuts leptop, puisi-puisi yang belum selesai di dalam notepad, siaran tinju, kapitalisme dan david harvey, minyak kayu putih, lampu kuning kesukaan dan sesuatu yang empuk pada bibirmu yang kugigit perlahan


(dago 349. 17 sept 2017. 20:01)

Sebuah Malam Minggu re: emergence













re: emergence, para seniman diminta untuk mengingat perjumpaan artistik yang bermakna sepanjang hidup mereka.


Saya tidak sempat mengitari dan melihat karya kawan-kawan yang lain, karena di acara pembukaan pameran ini, selasar sunaryo begitu padat, sehingga agak berdesak-desakan, berbagi ruang dengan yang lain—dan bahkan mengantri untuk melihat karya yang terpampang di dalam ruangan. Maka saya hanya berkesempatan untuk menikmati beberapa karya: TROMARAMA, yang menghadirkan kalimat-kalimat yang dicetak pada kertas. "Calling All Dancers" adalah satu kalimat yang saya bawa pulang, entah mengapa kalimat itu seperti menangkap hati saya untuk pertama kalinya—barangkali juga, sebenarnya saya adalah penari di kepala dan juga di dalam hati saya.

Karya ke dua yang saya nikmati adalah, karya dari Erwin Windu Pranata. Ewing biasa ia disapa, akan memainkan gitarnya layaknya musisi. Ewing bercerita bahwa ia terinspirasi oleh Andri Moch (almarhum) seorang seniman yang ketika masih hidup, turut menjadi pemantik baginya untuk terus berkarya. Satu alasan kenapa Ewing terinspirasi oleh Andri Moch adalah kepekaannya untuk menangkap fenomena politik yang terjadi di tahun 1998 yang terjadi di Indonesia. Di kemudian hari, A Stone A, adalah salah satu band yang dibentuk oleh Ewing bersama Mufti Priyanka (Amenk) dan Muhammad Akbar (Babay) sebagai salah satu medium untuk berkarya bersama. Malam ini Ewing (bersama A Stone B) dibantu dengan beberapa kawan (Yosi, Oye, Ayda, dan Osman) akan mengulang kembali A stun a dengan versi yang berbeda, akan menampilkan tiga lagu mereka, salah satunya adalah Intimidasi Vitamin C. Di akhir penampilan mereka, Ewing mengambil ember, masuk di dalamnya dan buang air seni.

Fluxcup di bagian ampiteater melakukan 'performance' dengan berbalas-balasan chat di whatsapp. Pun Fluxcup mengaku bahwa ia juga terinspirasi dari Andri Moch (almarhum), terlihat dari Fluxcup yang 'kangen' untuk bertemu lagi dengannya—saya membayangkan sosok Andri Moch juga pasti kangen di atas sana. Pembukaan pameran re: emergence ditutup dengan penampilan Bottle Smoker dan (duo) Filastine & Nova, yang tak pelak lagi membuat semua orang bergoyang. re: emergence tak hanya reuni bagi kawan seniman yang masih 'di sini', melainkan juga mereka yang telah berada di 'alam sana.'



Wednesday, September 13, 2017

Sebuah Alasan



Saya tak pernah punya jawaban yang tepat ketika ditanya, apa yang membuat saya jatuh cinta kepada dia, yang sering kau dengar saya panggil kasih, dia yang saya sebut jiwa. Saya ingat bertahun-tahun yang lalu ketika belum kenal, kami pernah berada di panggung yang sama untuk membaca puisi. Saya mendapat giliran pertama membaca puisi, sebelum saya memulai membaca puisi, saya katakan kepada penonton begini: "saya tak suka menulis puisi panjang-panjang, karena itu bagi saya membosankan. Bagi saya puisi itu mesti pendek seperti rok mini." Sementara dia yang berada di belakang panggung pada saat itu melirik dua lembar kertas berisi puisi di tangannya, mengerutkan alis, bercampur sedikit senewen di dalam hatinya, "siapa sih perempuan ini? kok berani benar berkata begitu." Di malam itu pun kami tak mengobrol, bahkan tak saling tahu satu dengan yang lain.

Ketika bertahun-tahun kemudian, saya dan dia bertemu lagi dan untuk pertama kalinya, kami akhirnya mengobrol, yang saya perhatikan adalah sepatunya. Dia memakai sepatu kulit coklat sederhana yang entah mengapa—membuat saya begitu berselera—dengan sepatunya, hingga terlontar komentar pujian dari saya begitu saja yang berlanjut dengan mengobrol dan mengobrol hampir sepanjang malam. Dia memiliki selera yang sangat berbeda. Jika itu adalah bacaan, ia tidak membaca buku puisi, saya membeli dan membaca buku puisi. Jika itu adalah makanan, jika sudah senang dengan satu jenis makanan, maka ia akan makan itu terus menerus, sementara saya cenderung senang mencoba makanan-makanan baru. Selera menonton kami pun berbeda, dia senang menonton dokumenter yang historis dan filosofis, saya senang dengan film-film dengan alur cerita melelahkan. Dia yang taktis dan strategis. Saya yang acak cenderung melompat awut-awutan. Dia yang pendiam dan tak banyak bicara jika ada di kerumunan. Saya yang senang kerumunan dan senang bertemu orang baru.

Salah seorang teman pernah bertemu kami dan ia katakan, "saya tahu Theo, kenapa kamu jatuh cinta sama Weslly." Saya tanya, "apa itu?" dan teman itu menjawab, "karena ia merawat kamu." Kami tertawa malam itu. Tapi terus terang, saya senang dengan kata: merawat. Saya belum menemukan jawaban yang tepat, kenapa saya jatuh cinta dengannya, tapi saya cukup senang dengan kata merawat. Saya pikir kadang kekasih kita menjelma menjadi seorang ibu yang pandai merawat. Tak hanya itu—Ibu juga gemar membuatkan kopi di waktu pagi dan mengajak menonton video kuliah David Harvey tentang kapitalisme.

Gerbong Kereta dari Solo menuju Bandung, 11 September 2017. 



Sunday, September 10, 2017

#IlustrasiPerempuansore



Di tahun 2014 yang lalu, saya pernah mengajak kawan-kawan untuk ikutan membuat #IlustrasiPerempuansore dan hasilnya manis-manis dan mencengangkan. Saya rasa, saya harus mengabadikannya ke dalam blog. Sekali lagi terima kasih untuk partisipasi kawan-kawan, ya. 




oleh Divya Manjusha



oleh Jandri Welson Pattinama


oleh Oh Sugar


oleh Gracia Silaban


oleh Mikey Stevie


oleh Petra Anjani


oleh Astri Raharjo


oleh Rya Dinata


oleh Prytha Afsharry


oleh Yahya Ben Gurion


oleh Naomi Tobing


oleh Ester Irene


oleh Octaria Rukanto


oleh Citrarini Ceria


oleh Handsound


oleh Masya Ruhulessin


oleh Lala


oleh Frans 'Hayaka' Nendissa


oleh Astrid Bonita



oleh Yunita D Indraswari


oleh Ratu Adelin

#SayaMembaca : Love in the Kingdom of Oil, Nawal El-Saadawi






Love in the Kingdom of Oil oleh Nawal El-Saadawi. Adalah karya pertama yang saya baca darinya. Novel ini tentang seorang perempuan yang pergi cuti dan tidak kembali. Nawal menuliskan novel ini dengan gaya sureal dan sangat puitis. Itulah mengapa saya bertahan membaca novel ini hingga selesai. 

Tokoh utama perempuan di dalam novel ini diceritakan memberontak dengan caranya sendiri, ia memilih pekerjaan sebagai seorang arkeologi yang berjalan dengan membawa pahat di dalam tas selempang yang ia sampirkan di bahunya. Perempuan ini kemudian meminta 'cuti' untuk pergi mengunjungi satu kampung ke kampung yang lainnya untuk menggali tanah, dengan harapan ia akan menemukan dewi-dewi yang muncul dari dalam tanah.

Di tengah perjalanannya, ia menemukan banyak sekali pertanyaan tentang apa yang ia lakukan, baik dari perempuan lainnya maupun dari (kebanyakan) laki-laki. Karena sekali lagi, mereka menganggap yang sedang dilakukan oleh perempuan ini adalah sesuatu yang tabu; sebuah pemberontakan.

Saya senang dengan gaya menulis Nawal El-Saadawi di dalam novel ini. Barangkali karena saya memang senang dengan gaya sureal dan isu perempuan yang dituangkan sama sekali tidak dengan lembut oleh Nawal di dalam novel ini. Pun, yang menarik adalah ia menggambarkan tentang cinta seperti ini: perempuan itu mengulurkan tangannya dan menangkap tangan lelaki itu. Jari-jari mereka berjalinan. Lelaki itu mendekapnya dengan sebelah tangan, dan peremuan itu mendekap lelaki itu dengan kedua tangannya. Ia memejamkan mata dan lelaki itu juga memejamkan mata. Mereka terus bergerak sambil berpelukan, tak melihat tanah yang mereka injak. Mereka terbenam bersama-sama ke lubuk danau itu seolah-olah mereka sedang terperosok ke dalam cengkeraman sebuah kekuatan yang lebih besar, dan mereka tidak berdaya membebaskan diri dari kekuatan itu. 

Tak hanya menggugat posisi perempuan dalam tatanan patriarkal yang represif, Nawal El-Saadawi juga menggambarkan tentang kekuatan berpikir perempuan yang progresif yang dapat digunakan sebagai modal seorang perempuan untuk memberontak.

Tuesday, September 5, 2017

Menghabiskan Petang di Salatiga


Salatiga yang aromanya seperti jeruk dan sepuluh hal menyenangkan yang dapat kau lakukan pada sebuah petang hanya dengan berjalan kaki. Jingga dan kekasih jiwa hanyalah bonus belaka. 





1. Berkunjung ke toko buku Baudelaire di Jalan Kauman nomer 1 (mereka juga punya instagram-nya, silakan temukan saja).




2. Cari dan temukan beberapa buku yang kau senangi untuk dibaca dan (jika kau malas membaca) tak apa juga kok, jika hanya memotretnya dan unggah ke dalam instagrammu. Tapi jangan lupa tulislah sebuah caption yang baik tentang buku itu, ya.



3. Beberapa hasil berburu saya dan Weslly Johannes. Dua buku pilihan saya adalah Love in the kingdom of oil dan Aimuna dan Sobori-nya Hanna Rambe. Duh, apakah ada yang sudah membaca keduanya? Saya deg-degan dengan Aimuna dan Sobori, mereka tampak menggemaskan. Nanti saya akan menulis reviunya ya.


4. Jangan lupa pose menghadap samping di sebuah rumah tua yang ditemukan ketika kami hendak berjalan ke toko buku lainnya.


5. Singgah di toko buku Jendela, di Jalan Diponegoro untuk membeli buku Tempat Paling Liar di Muka Bumi kepada beberapa kawan. Dan Weslly Johannes diminta tanda tangannya di secarik kertas. Saya, tidak. Karena Weslly Johannes lebih populer di sini. *uhuk*


6. Selesai dari toko buku Jendela, singgah di Kafe Merah Putih. Jendelanya besar-besar dan lantainnya gemas.


7. Pose sedikit di Kafe Merah Putih, supaya pancasilais. Jangan lupa beli bir Prost tiga, nanti dapat gratis satu.


8. Weslly Johannes memberikan buku The World Until Yesterday, Jared Diamond, kepada saya sebagai hadiah. Katanya, "baca buku ini maka kau akan mengerti masyarakat dan melihat dunia dengan cara yang berbeda." Saya mengerutkan kening sejenak, sambil bertanya, "Jared Diamond itu siapa ya?" Weslly menjawab, "ia seorang profesor, tapi saya suka bahasa yang ia pakai ketika menulis." Saya tersenyum kepada dunia dan kita berjalan ke meja kasir. Hampir saja saya mau katakan kepada Mbak penjaga kasir, bahwa laki-laki ini yang akan saya nikahi, tapi tidak jadi.


9. Entah mengapa saya suka pose menutup mata dan di dekat buku, barangkali supaya kelihatan relijius dan cerdas.


10. Langit dari depan Kafe Merah Putih dan jelang pukul berapa itu, lupa.

.

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...