Monday, August 14, 2017

Rumah pun Merindukan Kita







Pernahkah kita memikirkan rumah dan perasaan-perasaannya dan berpikir bahwa rumah juga merindukan kita? bahwa ternyata ketika kita pergi jauh, rumah tetap sama, ia tidak bergerak, ia masih pada tempatnya dan ia menyimpan semua kenangan kita.

Selama 34 tahun hidup saya, saya menghitung (semoga tidak ada yang terlewat di dalam ingatan saya) saya telah menempati sekitar 15  rumah tinggal dan itu sudah termasuk rumah kos saya ketika berada di perantauan. Rumah pertama adalah sebuah rumah besar di kota Larat, saya mengingat sebuah rumah tua dengan kamar-kamar luas dan jendela model lama dengan cat kayu berwarna hijau tua. Saya mengingat rumah ini dengan anjing kampung bernama Boy, yang selalu menanti ayah saya ketika pulang dengan perahu motornya dari pulau-pulau seberang. Juga aroma menyengat bunga terompet yang sering masuk ke kamar tidur. Ketika tinggal di rumah ini, usia saya barangkali satu atau dua tahun, sehingga saya merasa rumah itu besar sekali.

Rumah ke dua (yang bagi saya istimewa) adalah rumah tua milik keluarga kami, milik kakek saya, Marthen Elwarin yang menikah dengan Dorkas Elwarin. Dorkas Elwarin, seorang perempuan Jawa yang bernama asli Sutijem jatuh cinta dengan kakek saya ketika ia bertugas di Semarang. Mereka kemudian menikah dan pulang ke Ambon. Dorkas Elwarin yang kemudian kami panggil “Oma Jawa” lalu menjadi seorang Kristen yang taat. Mereka menempati sebuah rumah mungil di daerah Kudamati. Rumah yang kemudian melahirkan banyak anak cucu di sana. Rumah kecil dan sederhana yang biasanya menampung anak cucu dari segala penjuru untuk tinggal di dalamnya. Mengingat keluarga kami lumayan besar.

Saya tumbuh dan besar di rumah ini. Kedua orang tua saya melanjutkan pekerjaan mereka sebagai pendeta di pulau. Sementara saya dan kedua kakak perempuan saya dititipkan di rumah ini. Saya yang masih kecil dititipkan berpindah tempat, rumah lainnya adalah milik Tante (adik perempuan ayah) di daerah Batu Gantung. Tapi dapat dibilang saya lebih banyak menghabiskan waktu tinggal di Kudamati—Kampong Tai, sebutan bekennya pada saat itu, sebelum akhirnya menjadi lebih kini dengan sebutan ‘pelor’ atau singkatan dari: penghuni lorong.

Bermain di lapangan Oma Dana. Berlari di sepanjang jalan-jalan setapak bersama sahabat kecil saya, Donny Toisuta, biasanya  disapa Odon. Memanjat pohon kersen milik keluarga Odon, dan biasanya suka ditegur oleh  Oom Anton (ayah Odon) atau Oma Nes (neneknya). Atau bermain masak-masakan bersama sahabat kecil saya lainnya, Theophanny Rampisela, biasanya disapa Kaka, hanya dengan memakai kaus kutang dan celana dalam. Atau bermain beramai-ramai: enggo sambunyi, afiren, sandiwara pedang-pedangan tutur tinular, gambar, pata-pata, lompat karet, gici-gici, dan permainan semasa kecil lainnya di tahun 90-an pada waktu itu membuat saya merasa sangat beruntung.


rumah tua kami yang bercat hijau di sebelah kiri bersama dengan setapak-setapak itu.

Ingatan lainnya yang tidak hilang adalah ketika malam jelang Paskah kami akan berkumpul di lapangan Oma Dana untuk menonton layar tancap film Yesus disalib. Atau tidak tidur semalaman karena menunggu pawai obor subuh-subuh. Selain itu saya juga tidak pernah lupa latihan menyanyi atau baca puisi di teras rumah. Memasuki masa remaja saya juga membagi tempat tinggal saya, dengan rumah di belakang Rumah Sakit Tentara, kemudian rumah di Kebun Cengkeh. Tapi tetap saya kembali ke rumah di Kudamati—Kampong Tai.


Kebiasaan bertelanjang kaki dan berjalan di sepanjang setapak, hingga kebiasaan memikul handuk (dan kemudian berakhir dengan tidak mandi juga) masih membekas dengan jelas di kepala saya—semua seperti baru kemarin. Padahal hal ini terjadi puluhan tahun yang lalu. Hingga saat ini, bahkan ketika saya sudah merantau dan tinggal sendiri, ingatan-ingatan ke masa-masa itu seringkali muncul di dalam kepala saya, biasanya ia datang berupa: bebunyian daun pohon Mangga yang ada di depan rumah, bunyi seng yang berderit ketika ditiup angin, lolongan anjing ketika malam, atau aroma panggangan kue dari tetangga sebelah. 

Ingatan-ingatan membawa saya ke setapak-setapak itu kembali, saya menjadi anak kecil yang sama, masih suka berlari dengan ringan—atau bermain sepeda di dalam becek di lapangan Oma Dana. Menghitung rumah-rumah yang saya lewati ketika keluar dari rumah tua kami menuju ke depan lorong Andre, tempat menunggu angkutan umum:  rumah ibu batak, rumah (bekas) Oma aya, rumah (bekas) keluarga Manusiwa, rumah tante Masbait, rumah Oom Nus Tarantein, rumah Oom Cak Lesilolo, rumah keluarga besar Lesilolo, rumah keluarga besar Tumallang kiri dan kanan, rumah Mama Kety, rumah keluarga Kriekhoff, rumah Om No Louis. 

Rumah-rumah yang saya sebutkan ini barangkali sudah tidak ditempati oleh penghuni aslinya lagi. Namun kenangan tentang setapak yang menjaga kaki-kaki telanjang saya berlari di masa kanak-kanak, tak pernah hilang—kenangan itu begitu girang dan bersahabat di dalam kepala, tinggal bersama rumah-rumah yang tetap berdiri di sepanjang jalan setapak itu: walau penghuni dari rumah-rumah itu barangkali sudah tak lagi tinggal di situ karena meninggal atau pindah kota. Jika sudah begini, rindukah kamu kepada rumah yang dulu pernah kamu tinggali lama?

***


(selesai menulis ini saya jadi kepikiran untuk memotret rumah-rumah yang pernah saya tinggali—di kota Ambon maupun di kota-kota lainnya jika memungkinkan dan membuat sebuah cerita pendek tentangnya. atau mungkin membuat pameran serial rumah yang lain.)

Wednesday, August 2, 2017

Sebuah Catatan Harian : Tentang Kecintaan








Saya menulis, saya menyanyi, saya (dulunya) penyiar radio, saya masih memandu acara di beberapa kesempatan, tapi saya juga menyukai mengajar—sangat. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih siaran di salah satu radio swasta di Bandung, saya memutuskan untuk memulai kelas kecil seni berbicara di depan umum di tobucil, sebuah toko buku di Bandung. Murid saya waktu itu berjumlah tujuh orang, di sela-sela waktu siaran, saya datang untuk mengajar mereka.
Salah satu murid saya bernama Swan. Ia berusia enam puluh tahun dan menolak untuk dipanggil "Ibu Swan." Swan adalah seorang arkeolog dan masih melakukan penelitian ke pedalaman. Swan kerap pulang pergi Jakarta-Bandung hanya untuk mengikuti kelas saya. Sebuah pengorbanan yang saya segani, karena pada saat itu, bisa dibilang saya belum punya pengalaman apa-apa dalam mengajar.
Swan adalah murid yang sangat haus di kelas, ia banyak bertanya tentang apapun yang ia tidak mengerti. Dan ketika waktunya praktik, ia selalu bersemangat untuk mengusahakan yang terbaik. Pada pertemuan terakhir kami di kelas, Swan menghampiri saya seraya berkata, "Theo, kamu punya kemampuan mengajar, tapi bukan hanya itu, kamu mampu mengeluarkan kualitas terbaik dari orang lain. Saya bersyukur bisa belajar dari kamu."
Saya menatap matanya yang keriput dengan penuh haru kemudian mengucap terima kasih dan mengecup pipinya. Namun, di dalam hati saya tercetus pertanyaan begini, "siapa saya (yang masih bau kencur ini) sehingga mampu mengeluarkan kualitas terbaik dari seorang Ibu berusia enam puluh tahun?"
Kini bertahun-tahun kemudian, kalimat-kalimat Swan masih saya ingat. Kalimat-kalimat itu berjejak lekat di dalam hati saya, seiring dengan jam terbang mengajar yang semakin bertambah dan murid-murid yang semakin banyak. Sejak hari pertemuan saya dengan Swan, saya mengerti satu hal, sesungguhnya saya tidak pernah mengajar Swan, saya yang justru belajar darinya. Bahwa arti mengajar adalah bukan yang paling mengerti segala sesuatu; mengajar adalah mengeluarkan kualitas terbaik dari diri orang lain.


(foto: bersama kawan-kawan di kelas public speaking yang diadakan reaterary beberapa hari yang lalu)


Thursday, July 27, 2017

SOLD OUT




gambar via google.





Lucu, ketika suatu hari saya sedang melihat foto-foto pernikahan, dan mendapati sebuah potret pengantin perempuan dengan tulisan SOLD OUT di bagian bawahnya. Pertama, kesan yang ada di kepala saya ketika memperhatikan potret itu adalah perempuan itu seperti barang yang yang sudah laku di toko atau web online. Biasanya ketika barang yang dipajang sudah laku, akan ada tulisan SOLD OUT di bagian bawahnya. Kedua, kira-kira apa yang ada di dalam benak perempuan itu, barangkali saja benar, ia setuju melakukannya karena ia merasa dirinya—sejenis 'barang jualan' yang telah laku dijual kepada seorang pemilik. Dan ketiga, jika itu adalah strategi pemasaran fotografer; maka konsep perempuan di situ, jelas disamakan dengan barang jualan. Suatu kenyataan yang menyedihkan.

Dalam Second Sex, Simone de Beauvoir menulis begini, "Sejak zaman primitif hingga sekarang, persetubuhan sudah dianggap sebagai 'pelayanan' di mana sebagai tanda terima kasih, laki-laki memberi perempuan berbagai hadiah untuk menjamin kelangsungan hidupnya; tetapi 'melayani' berarti memberikan dirinya kepada seorang 'majikan'; tidak ada kesetaraan dalam hubungan ini. Sifat perkawinan itu sendiri, seperti halnya prostitusi, merupakan bukti bahwa perempuan memberikan dirinya, laki-laki membayarnya, lalu mengambilnya."

Maka sebuah penaklukan terjadi di sini. Kata SOLD OUT yang terpampang di dalam potret tersebut, dengan seorang pengantin perempuan yang mengembangkan senyum lebar di wajahnya adalah sebuah isyarat kebanggaan bahwa ia kini telah laku terjual kepada pemiliknya. Yang lebih mengenaskan lagi bahwa potret pengantin perempuan seperti itu dijumpai di dalam kultur masyarakat yang beradab—yang di dalam asumsi saya adalah mereka yang berpendidikan tinggi. Dan menurut saya lagi, sampai kapanpun perempuan bukan barang dagangan yang ditempelkan rupiahnya; ia tidak melelang dirinya untuk bertemu dengan pemilik yang akan membawa pulang dirinya, selamanya ia berhak untuk memiliki dirinya; utuh.

Friday, July 14, 2017

Menjadi Anonimus





Ada sebuah cerita yang saya temukan, intinya tulisan tersebut menceritakan tentang seorang perempuan yang membuat sebuah akun anonimus agar ia dapat berinteraksi dengan ‘apa adanya’ kepada orang lain yang juga ada di dalam lingkaran media sosial itu, alasan perempuan itu sederhana saja, jika ia menggunakan identitas aslinya dalam berinteraksi, maka ia takut mendapat respon yang tidak ia harapkan yaitu: diadili. Karena pada dunia nyata, perempuan ini dikenal sebagai perempuan yang cukup relijius—paling tidak dari atribut yang ia pakai dan ini juga diceritakan dalam tulisan itu. Dan komunikasi yang terjadi antara perempuan anonimus ini adalah hal-hal yang bersifat vulgar yang sekali lagi tidak dapat ia lakukan dengan menunjukkan identitas aslinya.

Kemudian muncul pertanyaan, apakah kamu pernah menjadi seorang anonimus dalam menggunakan media sosial? Atau apakah kamu pernah membuat akun anonimus dengan—tentu saja menggunakan identitas palsu untuk kepentigan pribadi misalnya, menyelidiki suami yang selingkuh. Cerita lainnya yang saya temukan yaitu seorang ibu rumah tangga yang membuat akun anonimus untuk menciduk suaminya sendiri yang tukang main perempuan.

Pertanyaan lainnya adalah apakah kamu pernah membuat akun anonimus untuk menjawab pertanyaan atau membela sebuah pernyataan yang dianggap benar—apalagi ini bertujuan untuk sebuah kepentingan kampanye politik. Akun anonimus ini diperlukan untuk melerai sebuah jawaban, pro atau kontra terhadap sebuah wacana, menghajar seseorang yang tidak disukai karena jawaban yang berkembang pada sebuah laman diskusi, atau kepentingan yang paling relevan saat ini adalah, mengadudomba satu dengan yang lainnya.

Seiring dengan perkembangan media sosial dan hestek berani yang kemudian merajalela seperti #showyourcleavage atau #freeyournipple maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah kamu pernah membuat akun anonimus untuk meramaikan hestek tadi? Karena cara untuk meramaikan hestek ini adalah dengan mengunggah sebuah foto belahan dada atau puting susu tanpa kelihatan wajah yang membutuhkan tekad yang besar. Menjadi anonimus membuat orang-orang lebih berani.

Beberapa skandal percakapan seks pribadi yang dilakukan oleh para tokoh agama juga terkuak oleh anonimus. Tentu saja pelaku anonimus di sini adalah mereka yang memiliki kepentingan terkait untuk mengungkap skandal tersebut.

Menjadi anonimus adalah sebuah kegemaran baru. Media sosial kemudian berkembang menjadi sebuah media di mana setiap orang dapat menjadi sesuatu di luar dirinya asalkan ia tetap anonimus. Setiap orang dapat melakukan sesuatu di luar dirinya asalkan ia tetap anonimus. Setiap orang lebih berani mengunggah apa saja asalkan ia tetap anonimus. Setiap orang dapat mengungkap kebenaran asalkan ia tetap anonimus.

Menurut sebuah penelitian yang ditulis di dalam We Are Anonymous-Anonimity in the public sphere, ada beberapa keuntungan dengan menjadi anonimus ketika berkomunikasi 1) mendorong kebebasan berekspresi, kemampuan untuk menyuarakan pendapat yang berbeda atau gagasan yang tidak populer dan oleh karena itu dapat dianggap sebagai landasan demokrasi 2) memfasilitasi arus komunikasi mengenai isu publik tanpa membunuh si pembawa pesan 3) untuk mendapatkan informasi sensitif, misalnya dalam penelitian atau isu pribadi yang sensitif  4) anonimitas mendorong budaya berbagi gagasan, ada lebih banyak kejujuran dalam proses tanya jawab, misalnya dalam proses evaluasi di tempat kerja atau di kelas.

Sebuah cerita lainnya tentang seorang perempuan pernah mengaku mengungah foto vaginanya yang baru selesai di waxing, berikut dengan sedikit testimoni mengenai kepuasaannya menggunakan layanan salon yang melayaninya. Perempuan itu mengaku ia melakukannya untuk mendapatkan sebuah kepuasan tertentu, merasa lebih bebas, merasa lebih jujur.

Namun ada sebuah pengertian lainnya tentang menjadi anonimus—yaitu sebuah keberjarakan dengan diri sendiri: atau dapat dikatakan sebagai sebuah ketakutan untuk menampilkan sebuah kejujuran yang berasal dari diri karena takut diadili oleh masyarakat. Melainkan juga dapat dikatakan bahwa menjadi anonimus adalah sebuah tempat persembunyian—sebuah benteng yang dibangun cukup tinggi untuk melindungi diri sendiri dari sebuah kebenaran.

Sebuah cerita menarik yang saya temukan dalam kasus menjadi anonimus, yaitu seorang pria gay yang kemudian bersembunyi di balik topeng “tokoh agama” dan “pernikahan” hanya karena pria ini tidak dapat menceritakan tentang dirinya yang sebenarnya. Barangkali pria ini juga tetap memilih menjadi anonimus di dalam berkomunikasi dengan kawan-kawan di komunitas gay-nya karena ia terlanjur ‘normal’ di kehidupan nyatanya.

Sebuah paradoks di dalam kehidupan.    


  



Thursday, June 22, 2017

Selamat Menikmati Sebuah Kesementaraan










Susah untuk diamalkan. Jatuh cinta seumpama menemukan kalimat-kalimat bagus pada buku. Sesederhana itu, namun sebelum menemukannya, kau harus rajin membaca.Tak perlu gegabah karena melakukan cinta yang sederhana adalah sebuah kehidupan. Ia menjadi tanggung jawab dari pagi menuju pagi lagi.

Hari ini saya bangun dengan bunyi detak jantung kekasih. Saya mencium telinganya dan mencium aroma bunga-bunga segar di sana. Seperti aroma melati atau sakura, saya sukar menemukan apa yang paling tepat—seperti jatuh cinta, kau akan sukar menemukan aroma apa yang paling tepat.

Jika saat ini hatimu sedang jatuh cinta, percayalah bahwa itu hanya sebuah kesementaraan, nikmati kesementaraan itu sungguh-sungguh. Namun jika saat ini kau sedang patah hati, percayalah itupun juga adalah sebuah kesementaraan, maka nikmatilah itu sungguh-sungguh. Tiba-tiba saya teringat kamar mandi, jika jatuh cinta, kau akan berlama-lama di sana dan jika sedang patah hati, kau pun akan berlama-lama di sana. Maka kamar mandi adalah sebuah kesementaraan.


Semalam, saya tidur di dalam pelukan kekasih dengan cerita-ceritanya yang membuat saya lekas mengantuk, ia menyelimuti saya, kami berciuman dengan mata tertutup. Pun juga adalah sebuah kesementaraan. Saya menikmatinya dengan sungguh-sungguh. Kesementaraan adalah sesuatu yang akan lewat begitu saja. Kau tak dapat menahannya. Kau tak dapat memegangnya erat-erat— seperti langit senja kesukaanmu, kau hanya butuh sebuah singgah lantas beranjak. Lekas. 

Saturday, June 10, 2017

Sayang Indonesia Peluk Nusantara











Sayang Indonesia Peluk Nusantara adalah sebuah metafora. Saya membayangkan Indonesia atau Nusantara sudah seperti kekasih. Saya memulai dengan sebuah undangan singkat yang berbunyi begini:

"Dear kawan-kawan, mengingat saat ini Indonesia kita bersama sedang bersedih dan dirundung banyak sekali persoalan yang membuat sedikit pusing kepala. Nah, tidak ada salahnya kita meluangkan waktu bersama untuk sayang dan peluk Indonesia."

Undangan pribadi saya via whatsapp tersebut kemudian dijawab antusias oleh beberapa kawan. Mereka bahkan mengiyakan duluan untuk datang, walaupun pada akhirnya ada yang kemudian bertanya kepada saya, “Theo, tapi aku baca apa, ya?” pertanyaan ini kemudian saya jawab dengan, “baca apa saja kok, tidak perlu puisi, bisa sebuah tulisan pendek, cerita pendek, karya sendiri maupun karya lain pun tidak apa-apa.”

Waktu berjalan dan kemudian saya harus mengurus beberapa perintilan (seperti poster, diskusi menentukan tanggal) yang dibantu oleh Vira dan Ihsan, pemilik Kedai Cas. Jumat, tanggal 9 Juni kemarin, saya tiba di Kedai Cas sekitar pukul empat sore, dengan pemikiran barangkali saya mau bantu menyiapkan beberapa hal.

Tidak disangka-sangka, hujan turun petang itu hingga membuat aktivitas menyiapkan sound system kita tunda sejenak. Sekitar pukul tujuh lebih sedikit hujan agak berhenti, namun ketika hampir jam delapan (sesuai dengan jadwal di poster kita harus mulai pukul delapan) hujan belum reda juga. Padahal di langit bulan begitu terang dan purnama. Namun niat baik pasti menemukan jalannya, sekitar pukul delapan lebih tiga puluh menit hujan pun reda. Sebuah alas yang digelar untuk dipakai lesehan persis di depan panggung kemudian dikeringkan kembali, supaya setiap orang dapat memakainya untuk duduk. Sound System kemudian disiapkan dan acara pun dibuka.

Kedai Cas ramai, banyak kawan-kawan dekat dan kerabat yang turut hadir. Acara pun berjalan dengan lancar, hampir ada dua puluhan penampil yang membacakan puisi, cerita pendek, prosa, dan juga menyumbangkan lagu. Beberapa adik-adik yang masih duduk di bangku SMA pun ikut hadir menyumbang puisi mereka. Sayang Indonesia Peluk Nusantara adalah rangkaian keberagaman yang menyatu dalam sebuah rasa sayang yang kuat. Malam ini berkumpul: musisi, pelukis, perajut, guru, penulis, pemain pantomim, arsitektur, wartawan, dan kawan-kawan dari latar belakang yang berbeda-beda untuk mengungkapkan rasa sayang dan peluk mereka untuk Indonesia.



Ruri dan Icha yang membuka acara

Lian dan Sissy yang membaca puisi mereka.

Navida Suryadilaga.

Grace Saherian dan Dhira Bongs yang menyanyikan Melati Putih.

Rain Chudori yang membacakan salah satu cerita pendeknya.

Palupi Kinkin dengan sebuah puisi pendek yang ia tulis di tahun 2010.

Nasrul Akbar yang membacakan puisi dari setiap doodling yang ia buat dan membagikannya juga kepada penonton.

Dimas Wijaksana dan Dwi Kartika Yudhaswara

Dimas Hary dengan sebuah tulisan pendeknya.

Ayu Kuke dengan sebuah nyanyian.

Rizky Satria dengan dua buah tulisan pendeknya.

Natalia Oetama dengan tulisan pendeknya.

Jabbar Muhammad dengan puisi yang ia tulis sendiri.

Karina yang membacakan puisi Rendra.

Priska Putri Widjaja dengan dua buah puisi pendeknya.

Boit dengan salah satu tulisan pendeknya. 

Zaky Yamani dan Reita Ariyanti.

Wanggi Hoed.

Tetangga Pak Gesang.

Untuk itu saya mau mengucapkan terima kasih saya kepada setiap kawan-kawan yang sudah meluangkan waktu dan menyumbangkan “sayang” dan “peluk” mereka untuk Indonesia:

Natalia Oetama, Navida Suryadilaga, Dimas Hary, Ayu Kuke Wulandari, Catur Ratna Wulandari, Rizky Satria, Rain Chudori, Palupi Sri Kinkin, Iit Boit, Zaky Yamani, Reita Ariyanti, Wanggi Hoed, Nasrul Akbar, Dimas Wijaksana, Dwi Kartika Yudhaswara Ruri Fitriyanti, Icha, Grace Sahertian, Dhira Bongs, Bintang, Lian, Sissy, Mira, Mas Gatot, Karina, Priska Putri Widjaja, Jabbar Muhammad, Aum Dayu & Meicy Sitorus (Tetangga Pak Gesang).

Juga kepada kawan-kawan dari Kedai Cas yang sudah menyediakan tempat dan mau direpotkan: Vira, Ihsan, Dissa, Yusuf, Baya, Adjo (dan kawan-kawan yang menyiapkan dekorasi lilin), Angga (Dokumentasi), dan tim belakang meja kopi yang sibuk melayani pemesanan.

Sekali lagi kebaikan hati kawan-kawan semua tidak dapat saya balas satu per satu, tapi semoga alam raya yang berkenan memelihara, merawat, dan menyebarkannya sampai ke ujung bumi. Hendaknya pertemuan-pertemuan untuk menyebarkan lebih banyak lagi cinta seperti ini haruslah kita pelihara, mengutip sebuah cuplikan cerita pendek Samad Mencari Bangsa, yang dibaca oleh Zaky Yamani dan Reita Ariyanti, “apa kamu nggak ada kerjaan lain? memikirkan negara dan bangsa sampai mau putus urat kepala segala.”

Kita tak perlu putus urat kepala, putus harapan, apalagi mau pindah ke bangsa lain segala, namun kita dapat tetap tinggal di sini, bertahan dan terus mengusahakan hal-hal baik untuk Indonesia dan mewariskan lebih banyak lagi benih cinta kepada generasi di bawah kita. Maka teruslah Sayang Indonesia Peluk Nusantara!


[foto oleh Ruri Fitriyanti, Windy Pramudya, Angga Hamzah]







Friday, June 2, 2017

Selamat Menjalankan Ibadah Rindu











Bagiku rindu adalah sebuah pekerjaan rumah. Jika kehidupan adalah sekolah maka dapatkah kau bayangkan kau mengerjakan rindu sebagai pekerjaan rumahmu seumur hidupmu. Aku kembali ke meja penuh dengan tulang-tulang ikan dan percakapan-percakapan tentang hidup yang dilalui di kota-kota perantauan. Kau duduk dengan kemeja kotak-kotak berwarna merah yang digulung sampai siku, kemudian memperhatikanku bercerita dengan dua pupilmu lekat-lekat. Sesekali mengangguk, meletakkan sebelah lenganmu di atas meja, sekilas kuperhatikan bulu-bulu halus pada lenganmu, dan rambut-rambut halus yang tumbuh di rahangmu. Aku sengaja makan sedikit malam itu. Barulah ketahuan setelahnya bahwa aku adalah si tukang makan banyak, aku adalah si tukang tertawa besar. Namun, kau yang pemalu, bahkan sejak pertama bertemu tidak berani menatapku lama.

Aku punya pertanyaan untuk diriku sendiri, sejak saat itu hingga sekarang, berapa banyak rindu yang sudah kukerjakan? Berapa banyak lagi rindu yang harus kukumpulkan supaya kelak aku naik kelas? Berapa banyak lagi rindu yang harus kujalani sebagai ibadah hingga pada akhirnya aku mendapatkan sebuah pahala? sayang sekali, semua pertanyaan ini belum dapat kujawab. 


Saumlaki, Ambon, Namlea, Bandung, Jakarta, Salatiga, Jogjakarta, Solo, adalah sebagian kota yang kita jejaki bersama. Malam itu ketika pulang meninggalkanmu bersama meja makan yang penuh dengan piring berisi tulang-tulang ikan, sesampaiku di rumah, aku lupa untuk mengirimkan pesan pendek kepadamu: aku rindu. Keesokan harinya, aku terbang di atas pulau Yamdena dan lahirlah kalimat-kalimat pendek berbunyi: perempuan dan gelisah.     

Saturday, May 27, 2017

#sebuahcatatanharian : Seni Berbicara Kepada Kawan-Kawan dengan Skisofrenia






Setiap orang tidak pernah miskin karya. Mengalami kebuntuan, iya, namun miskin, tidak. Bagi saya, mengajar adalah sebuah karya. Ketika mengajar, bukan berarti saya tahu segalanya dan merasa lebih pandai dari mereka yang saya ajar. Namun sebaliknya, saya datang dengan keinginan untuk belajar.
Beberapa potret di atas adalah ketika saya mengajar seni berbicara di depan umum kepada teman-teman skisofrenia dan bipolar di galeri gerilya tempo itu. Datang tanpa siasat tahu banyak, malah membawa pulang banyak kejutan. Ternyata teman-teman skisofrenia dan bipolar patut dicintai, sebagaimana kita mau selalu dicintai.
Lalu apapun karya yang sedang kamu kerjakan, jangan lupa bersungguh-sungguh melakukannya. Karena ketika sungguh-sungguh, karya yang keluar dari hati, tidak pernah balik menyakitimu.

[foto dok. panitia berakal berkuasa]

Thursday, May 18, 2017

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran




foto oleh lukman hakim

Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang paling akhir? Bagaimana sampai dia tertuang di atas kertas?

Puisi tercipta dari hal-hal yang paling keseharian di dalam diri saya. Jika ditanya seperti apa prosesnya, saya senang mengamati. Senang mengamati hal-hal kecil di sekitar saya, misalnya rumput-rumput hijau, daun kering dengan teksturnya ketika melangkah, air dari dahan yang menetes pada kulit, hujan di jendela pendar cahaya dari lampu-lampu mobil ketika gelap, dan kelopak kekasih. Hal-hal semacam itu senang saya amati lekat-lekat dan lambat-lambat. Setelah diamati lalu saya sambungkan dengan rasa yang ada di dalam diri saya. Kemudian proses selanjutnya adalah menuangkannya ke dalam kertas.

Seperti apakah tempat yang 'paling liar' di muka bumi menurut Theo? Bagaimana kamu memaknai kata "LIAR" itu sendiri? Apa kamu punya kenangan atau ingatan tertentu mengenai kata LIAR? :)

Tempat ‘paling liar’ di muka bumi itu menurut saya adalah di dalam kepala manusia. Karena ada dunia yang tidak berbatas di dalam sana. Jika harus memaknai kata ‘liar’ maka saya akan melihatnya sebagai sebuah ‘petulangan rasa’ bagaimana kita berani untuk menjelajahi setiap rasa yang ada di dalam diri kita, rasa apapun itu dengan berani. Kenangan tentang kata ‘liar’ sendiri ketika berumur dua belas atau tiga belas tahun, saya pernah mengendap-endap keluar dari rumah tengah malam, hanya untuk menonton bioskop tengah malam, tanpa izin kepada kedua orang tua saya, hihihi.

'Keliaran' macam apa yang menurutmu mengalir dalam dirimu? Dari mana dia berasal, dan bagaimana kamu berteman dengannya?

Saya senang dengan hal-hal yang datang kepada saya di kali pertama. Baik itu kalimat-kalimat yang datang pertama kali, maupun setiap rasa yang datang untuk pertama kali. Saya tidak suka menyuntingnya. Karena sesuatu yang lebih ‘mentah’ itu biasanya jauh lebih jujur. Itulah sebabnya, mengapa saya tidak pernah menyunting puisi-puisi saya, terkecuali urusan diksi. Segala sesuatu yang lebih ‘mentah’, lebih ‘apa adanya’, lebih ‘jujur’ memiliki keliarannya sendiri. Dan itu ada di dalam saya.

Bagaimana caranya menemukan puisi di sekitar kita? Harus mulai dari mana? Bisakah kita berpuisi tanpa kata-kata?

Saya percaya bahwa inspirasi mampu menjawil siapa saja yang ia kunjungi. Permasalahannya adalah siapa yang peka dan siapa yang tidak. Jika ketika dijawil, lalu orang tersebut abai, maka inspirasi sudah pasti mencari orang yang lain. Jadi jika mau menemukan puisi yang ada di sekitar kita, kuncinya hanya satu: jangan abai. Berpuisi bagi saya tidak perlu dengan kata-kata kok. Hal ini bisa kita contohi dari bagaimana alam raya berpuisi, itu bisa melalui pelangi, warna-warni senja, deru angin kena muka, asin laut yang menempel pada kulit, maupun jejak pasir pada telapak kaki.


Bagaimana tempat kelahiran Theo memengaruhi karya-karya Theo, cara Theo melihat dunia, atau cara Theo berproses secara kreatif?

Ambon, tanah kelahiran saya, sangat mempengaruhi karya-karya saya, cara saya melihat dunia, hingga kemudian cara berproses kreatif saya. Ayah dan Ibu saya sudah mengenalkan saya kepada ‘dunia panggung’ ketika saya masih sangat kecil. Saya dengan dua kakak perempuan saya juga tumbuh dengan mencintai menyanyi sejak kami kecil. Tidak hanya menyanyi, baca puisi, akrab di panggung untuk bermain drama/teater kecil-kecilan, Ayah dan Ibu pun tak lupa mengenalkan kami kepada buku. Ketika remaja, saya ingat, saya sudah membuat karangan cerita pendek pertama saya, walaupun cerita pendek itu tidak selesai hingga sekarang.

Latar belakang alam Ambon yang eksotis pun merangsang saya yang tumbuh di sana untuk mencipta. Entahlah, tetapi saya merasa lautan tidak hanya sekedar berwarna biru, tetapi ada gradasi warna yang jauh lebih kaya. Dan pegunungan pun tidak melulu berwarna hijau. Ia bisa saja berwarna seperti telur asin. Di situlah saya belajar untuk melihat segala kemungkinan di dalam segala ketidakmungkinan.

Apakah setiap hari Theo berpuisi, atau meluangkan waktu untuk melahirkan karya kreatif? Bagaimana Theo bersetia (atau tidak bersetia) pada seni dan kreativitas di dalam diri Theo?

Apakah setiap hari Theo berpuisi? Jika pertanyaan ini ditujukkan kepada saya sekarang, maka jawabannya adalah iya. Karena saya sedang mempersiapkan sebuah karya buku puisi selanjutnya. Tapi, terkadang saya juga tidak berpuisi dalam waktu yang lama kok.

Namun yang penting bagi saya adalah melahirkan karya kreatif, itu musti dilakukan setiap hari, jika tidak berpuisi, paling tidak saya menulis untuk blog, jika tidak menulis untuk blog, paling tidak saya menulis sekelebat kalimat-kalimat yang lewat di kepala saya di dalam buku catatan kecil yang suka saya bawa atau di laman notes telepon genggam saya. Jika proses ini diabaikan oleh saya, saya suka gelisah dan rungsing.

Saya memilih untuk bersetia pada seni dan kreativitas di dalam diri saya. Saya pikir ini adalah persoalan membuat pilihan saja. Gairah saya tidak akan jauh-jauh dari seni dan kreativitas. Hidup dan memilih untuk melakukan kegairahan secara sadar dan penuh, saya anggap sebagai sebuah pencapaian di dalam hidup. Dan yang paling terpenting dari melakukan semua kegairahan ini adalah melakukannya dengan hati bulat, bukan hanya sekedar keren-kerenan. Supaya tidak menyesal ketika mati nanti.


[tulisan ini dalam versi bahasa inggris juga diterbitkan oleh Hanny Kusumawati untuk laman behind the pages di beradadisini.com]

Sunday, April 2, 2017

(Semacam Ulasan) Buku Burial Rites, Hannah Kent









*Kadang aku serasa melihatnya kembali—rumah pertanian itu, terbakar dalam gelap. Kadang aku bisa merasakan perihnya musim dingin di paru-paruku, dan sepertinya aku melihat lidah-lidah api itu terpantul di samudra, airnya begitu aneh, kerlap-kerlip oleh cahaya. Malam itu aku sempat menoleh sejenak. Aku menoleh untuk mengamati api itu, dan andai kujilat kulitku, masih bisa kurasakan asinnya. Asap itu. Dulu tidak selalu sedingin ini. Aku mendengar bunyi langkah kaki.

Adalah sebuah prolog. Kemudian aku melihatnya. Ia berambut hitam panjang. Tubuh kurusnya tersingkap dari lengan dan tulang pipinya yang mencuat sedikit. Ia sedang duduk dan melihat ke jendela. Sementara udara di luar berdentum menghantam jendela. Musim dingin yang berat belum berakhir.

“Agnes, bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya menjelang kematianmu sendiri?”

Aku memberanikan diri bertanya kepadanya. Ia tidak bergerak dari tempat ia duduknya sama sekali. Ia masih melihat ke jendela. Temaram sinar bulan yang memantul ke tumpukan salju di pekarangan, membuat malam itu tidak terlalu pekat.

“Aku.. aku belum siap.” Jawabnya perlahan, ia lalu mengembuskan nafasnya pelan.

Aku mendengarkan embusan nafasnya. Berat. Kali ini ada jeda di antara kami. Kemudian aku merasakan ruangan di Stora-Borg itu kini melayang-layang.

“Aku, aku belum siap..” ia tiba-tiba melanjutkan kalimatnya, “tapi satu hal yang mungkin menyenangkan adalah bertemu dengannya.”

“Natan, maksudmu?” tanyaku kemudian.

Ia  menjawabku hanya dengan mengangguk.

** “Di Geitaskard kami suka berjalan-jalan di salju pada saat-saat senja, dan salju itu berdecit di bawah injakan kaki kami. Pernah, sekali waktu, aku terpeleset di salju, dan kusambar lengan Natan hingga dia hilang keseimbangan. Kami tergelimpang bersama-sama, tertawa-tawa, dan di tanah ia mendorongku hingga telentang, sehingga kami tengadah memandang bintang-bintang di atas sana. Dia menyebutkan nama-nama rasi bintang itu untukku.”

Agnes kini memalingkan wajahnya dan melihat lurus ke arahku. Aku yang sedari tadi tidak pernah melihat matanya secara langsung ketika bicara, kini agak merasa sedikit gelisah. Aku lalu menggeser pantatku di kursi dan membetulkan posisi dudukku.

Kini, mataku langsung melihat ke arah matanya, dan menajamkan telinga untuk mendengarkan ceritanya selanjutnya. Sementara deru angin masih saja memburu di luar, aku menunggu Agnes melanjutkan ceritanya kembali.

Ia lalu melanjutkan ceritanya, “menurutmu, ke sanakah kita akan pergi setelah kita mati?” tanyaku kepada Natan waktu itu. “Aku tidak percaya ada surga,” Natan kemudian berkata kepadaku.

Ruangan itu lengang lagi untuk beberapa saat. Tapi kini terasa ada sesuatu yang mencair di dalamnya. Rasanya seperti menggenggam salju pada kedua telapak tanganmu, cairan dingin itu mencair di telapak tanganmu, meninggalkan rasa gemetar kemudian.

Untuk pertama kalinya aku merasakan sebuah kesunyian. Kesunyian yang aneh.


***


Apa yang membuat saya berdegup kencang kepada buku sungguh aneh—biasanya sebelum membeli, buku-buku itu tampak memanggil saya. Ketika saya menyentuh, memegang punggung mereka, membaca sekilas bagian sinopsis, saya biasanya jatuh cinta duluan dengan tema yang diangkat. Saya tidak akan melewatkan membaca halaman hak cipta terjemahan dan sebagainya, kemudian dilanjut dengan membaca halaman persembahan. Tema-tema menyenangkan bagi saya, salah satunya tentang: kematian.

Saya menghabiskan buku ini di dalam kereta menuju Solo. Saya bertemu dengan Agnes di dalam kepala saya. Hannah Kent menggambarkan Agnes dengan metaforanya sendiri. Bahwa menghadapi sebuah kematian, bukanlah sebuah perkara yang gampang, karena menghadapi mati adalah persoalan yang berbeda daripada menghadapi hidup. Tak ayal lagi, Burial Rites, kemudian memenangkan sejumlah penghargaan.

Satu hal yang juga sangat berarti dan mesti diberikan penghargaan adalah, Tanti Lesmana, terima kasih sudah menerjemahkannya dengan sangat mumpuni. Termasuk metafora-metafora yang sangat mewakili. Seperti kalimat-kamlimat ini: “aku ingin memetik langit sekepal-kepal dan memakannya.”

Bagi yang menyukai metafora yang (tidak biasa) mungkin akan menyukai buku ini.



-
* bagian epilog
** bagian percakapan Agnes dengan Natan di halaman 269.


Saturday, April 1, 2017

APRIL: Selamat Merayakan Kesenangan-Kesenangan Kecil











Setiap orang pasti punya satu kesenangan kecil di dalam dirinya, yang jika dilakukan olehnya, akan membuat orang tersebut bahagia. Itu hanya satu kesenangan kecil. Bayangkan, jika di dalam diri tiap orang ada berpuluh-puluh kesenangan kecil, maka betapa bahagianya orang tersebut.

Namun persyaratannya sederhana saja, kesenangan kecil tersebut harus dinikmati penuh. Ada sebuah buku yang berjudul, The Little Way of Hygge, the danish way to live well, yang ditulis oleh Meik Wiking. Buku ini membahas tentang kebahagiaan yang dimaknai oleh orang-orang di Denmark. Dan mengapa pada akhirnya Denmark disebut sebagai negara paling bahagia di dunia.

Hygee (dibaca: hyu-gah) adalah sebuah konsep yang dipakai oleh orang Denmark untuk kemudian (bisa dikatakan) menjadi bahagia. Menurut buku tersebut, ‘Hygge has been translated as everything from the art of creating intimacy to cosiness of the soul to taking pleasure from the presence of soothing things.’

Jika diterjemahkan dengan bebas, maka dapat dikatakan seperti ini, Hygee adalah sebuah seni untuk menciptakan suasana intim bagi kenyamanan jiwa untuk menikmati kesenangan dari keadiran hal-hal kecil yang menenangkan.

Masih ingat dengan hashtag #bahagiaitusederhana yang sering kita pakai? konsep Hygee ini juga mengajak kita untuk menikmati kesenangan-kesenangan kecil sehingga ada sebuah rasa penuh di dalam dan membuat kita bahagia.

Kesenangan-kesenangan kecil ini dapat berupa: menulis di dalam temaram lampu, menikmati kopi di pagi hari sambil menghirup aroma rerumputan, berlama-lama duduk di kloset dan melihat semut-semut berjejer di dinding, membaca buku pelan-pelan dan menikmati setiap visual yang muncul di kepala, berciuman dengan kekasih dan menikmati lembut bibirnya, mengamat-amati kelopak matanya ketika sedang tidur, memakai lipstik merah untuk sebuah hari yang rasanya tawar, duduk di dekat jendela angkot dan menikmati setiap hiruk pikuk di jalan, mengobrol intim dengan kekasih tentang hal-hal yang akan dilakukan ke depan, atau tertawa.

Semua hal di atas ini (dan akan dapat bertambah lagi) jika dilakukan dengan penuh-penuh, dengan sebuah kesadaran akan kualitas, maka dapat dijamin bahwa #bahagiaaitusederhana bukan hanya sekedar hashtag.








Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...