Thursday, February 11, 2016

Hari ke-9 : Surat Cinta kepada Dilale





Dilale,

Kau pasti pernah bermimpi nak.

Dilale, suatu hari ketika malam malammu penuh dengan mimpi, aku rasa kau harus mulai mencatatnya.

Aku lupa. Tepatnya sekitar sepuluh, iya, mungkin sepuluh tahun lalu. Aku pernah bermimpi. Di mimpi itu, aku sedang berada di dalam bioskop. Aku sedang mendorong kereta bayi. Dan di dalamnya ada seorang bayi perempuan.

Bukan hanya ada aku, tetapi ada juga seorang anak laki-laki, dan seseorang yang pasti adalah suamiku. Ia duduk persis di sebelah kiri. Gelap. Aku tidak dapat melihat wajahnya. Kami menonton film yang entah apa. Aku tidak dapat mengingatnya.

Di tengah tengah film, anak laki-lakiku agak bosan, dan mulai berdiri dari kursinya. Ia hendak berjalan keluar ruangan. Sementara aku hendak menahannya. Laki-laki yang duduk persis di sebelah kiriku, berbicara, suaranya halus, hampir berbisik. Ia mengelus lenganku, dan aku lupa, apa yang ia katakan, tapi itu sesuatu yang menenangkan tepat di telingaku.
Aku tidak lihat wajahnya karena gelap. 

Tetapi aku mengingat sentuhannya. Ketika bangun dari tidur, Dilale, sentuhan di lenganku masih terasa. Aku bertemu dengannya, kurang lebih sepuluh tahun kemudian. Aku mengenalnya, dari sentuhan pada lengan. Sentuhan yang sama sepuluh tahun yang lalu di dalam mimpi.

Dilale, tidak ada yang terlalu misterius di dalam hidup. Rasanya jika peka, hidup bahkan sudah bicara kepada kita jauh-jauh hari sebelum akhirnya dipertemukan dengan kenyataan. Walau hanya lewat mimpi.

Bioskop, kereta bayi, anak laki-laki, anak perempuan, dan sentuhan. Anak perempuan itu adalah dirimu, Dilale. Jauh, jauh sebelum kau ada dan surat surat ini dibuat, aku sudah melihatmu.

Jauh, jauh sebelum aku jatuh cinta dengan ayahmu, sekarang, besok,  dan nanti. Aku sudah bertemu dengannya lewat mimpi: di sana kami memang sudah sepasang.


Ibu.  

Tuesday, February 9, 2016

Hari ke-8 : Surat Cinta kepada Dilale








Dilale.

Apakah yang daat dilakukan oleh seorang yang tenang. Di dalam diri kita, banyak bergemuruh, ombak dan semacamnya. Dapat kau rasakan dalam diam. Tetapi kau hanya perlu meyakini bahwa: banyak hal yang dapat dilakukan oleh ketenangan.

Jika kau sulit untuk menemukannya, carilah di dalam sunyi, sunyi yang paling bawah, sunyi yang paling gelap, sunyi yang tidak berbunyi. Di sana barangkali ia sembunyi.

Kau adalah ombak yang  paling ribut atau badai yang tak henti. Tetapi setiap kali ka butuh percaya kepada satu dan dua: sunyi dan kesunyian. Temukan keduanya.

Ibu sayang.


Hari ke-7 : Surat Cinta kepada Dilale








Dilale,

Tidak ada surat hari ini, hanya sepotong nyanyian burung di jendela, samar-samar. Semoga kau dengar. Ia riang, begitu riang, seperti kau: dengan deretan gigi-gigimu yang putih ketika tersenyum.

Ibu.




Hari ke-6 : Surat Cinta kepada Dilale









Dilale tersayang,

Tidak ada jalan jalan yang mudah. Termasuk hal-hal yang telah disepakati, dan risiko yang mengikuti. Kau akan menemukannya. Tertidur lelap di dalam lorong-lorong gelap.

Hal pertama yang harus kau lakukan jika sudah begini adalah sabar. Hal ke dua adalah sabar. Dan hal ketiga adalah tetap sabar. Ujungnya belum kelihatan. Pintu itu seperti tertutup. Tapi sabar memang bukan pintu dan bukan ujung.

Selalu sayang kamu,

Ibu.


Saturday, February 6, 2016

Hari ke-5 : Surat Cinta kepada Dilale








Yang tersayang Dilale,

Kemudian tentang cinta. Cinta yang bulat-bulat, purnama, itu rasa-rasanya tidak selalu ada. Kadang ia berubah menjadi sabit. Bulan separuh. Ketika melihat ke langit, kau akan menemukannya.

Langit hitam dengan bulan sabit separuh. Tidurmu tidak selalu nyenyak. Ketika merasa seperti ini, jangan lupa untuk buka jendela lebar-lebar dan rasakan angin kena muka.

Lihat ke langit yang hitam kelam. Kau akan menemukan bulan sabit itu: ia sementara senyum kepadamu.

Tutup jendela lagi dan selamat tidur nyenyak.

Ibu.





Hari ke-4 : Surat Cinta kepada Dilale








Dilale sayang,


Indah itu tak selalu ada. Ada perasaan perasaan yang memang sifatnya hanya sementara. Untuk itu ketika mengerjakan segala sesuatu tidak seharusnya berlebihan.

Aku menamakannya rasa cukup. Di dalam kata cukup, tidak ada yang terlalu. Pada waktu aku belajar tentang rasa cukup ini rasanya seperti sedang menjalankan doa Bapa Kami.

Bapa Kami yang di Sorga, berilah  kepada kami makanan kami yang secukupnya.

Aku ingat Tuhan.

Aku ingat bahwa Ia memang tidak pernah berhenti pegang tanganku. Dalam masa-masa yang tidak bahagia. Tidak indah sekalipun. Dalam masa masa ketika sendiri. Dan sunyi.

Ia di sana pegang tanganku.

Di dalam ruang-ruang gelap, tidak ada satu manusia pun yang mengerti. Ia ada. Ia ada dan memberikan rasa berlebihan. Ia menyayangiku terlalu berlebihan.

Ketika aku sedang belajar tentang kata cukup, Dilale, Tuhan tidak kenal kata cukup untuk menyayangiku.

Aku sayang kamu, D.



Ibu. 

Monday, February 1, 2016

Hari ke-3 : Surat Cinta kepada Dilale






Dilale sayang,

Ajaib. Satu kata yang dapat aku temukan dalam perjalanan ini. Ketika kanak kanak, cinta hanya sebatas berbagi bekal makanan. Menjadi remaja, cinta menjelma menjadi ciuman ciuman. Kemudian dewasa, cinta menjelma menjadi kehilangan dan menemukan.

Suatu waktu, aku pernah menulis seperti ini: ketika menemukan seseorang yang tepat, kau akan lupa pernah kehilangan panjang.

Tiap aku mengingat kata menemukan, selalu ada perasaan ajaib!

Begitulah, cinta, ia menemukan. Suatu hari dalam perjalanan yang cukup panjang ke sebuah pulau, ketika itu aku sedang bahagia, aku sedang mengerjakan masa depan, aku mengalir, rasanya tidak ada yang dapat menahanku. Ia, di sana. Berdiri dengan senyuman dan sepatu berwarna coklat.

Ia santun. Dengan gaya bicara alami, pelan, tidak dibuat buat. Ia penuh cerita. Ia sederhana: tapi ia tidak berani menatapku lama lama. Lucu, karena ketika itu di dalam sini, tidak ada debar sama sekali.

Yang terjadi malah, kami, bercerita seperti sepasang teman lama. Ia mengajakku pergi melihat hutan yamdena dan gugur bunga sakura. Kami sempat mampir menyaksikan matahari terbenam.

Malamnya, di hari yang sama, kami duduk di meja makan bersama tulang tulang ikan yang telah habis dagingnya. Aroma colo colo masih menyeruak. Aku menatap matanya, dan aku menemukan sesuatu: ia tidak mau aku pergi.

Begitulah cinta, ia menemukan. Menemukan aku dan jauh jauh membawaku kepadanya, Ayahmu.

Ketika cinta hinggap, Ayahmu  menulis: melawan cinta adalah perbuatan yang sia-sia.

Oh, Dilale sayang, kami tidak melawan. Kami bahkan roboh dibuatnya. Gusar, gelisah, berbunga bunga, rindu, dan rindu dibuatnya.

Dengar, Dilale sayang, tidak ada nasihat yang paling indah tentang cinta: selain dengarkan Ayahmu: melawan cinta adalah perbuatan yang sia-sia.

Kami menyayangimu,

Ibu.



Hari ke-2 : Surat Cinta kepada Dilale










Dilale sayang,

Ketika menulis ini, Ayahmu sudah mengakhiri sesuatu. Setelah melewati banyak sekali ruang ruang gelap bersama. Akhirnya ia berhasil melompatinya.  Ayahmu adalah orang yang hebat. Namun perjuangannya belum berakhir. Kami masih harus melewati banyak sekali kemuraman. 

Tetapi taukah kamu Dilale, ada keindahan keindahan bahkan ada di dalam kemuraman sekalipun.

Pada waktunya, kau akan mengerti. Bahwa di dalam hidup, ada kalanya, kau akan dipenuhi dengan banyak sekali kemuraman kemuraman, kekhawatiran kekhawatiran, kau perlu masuk ke dalam dan mengenali rasa rasa itu, tinggal di sana, tapi ingat jangan bermalam. Melainkan berjalanlah terus: temui kegelapan kegelapan itu dan kenalilah mereka.


Karena setiap kali kita membutuhkan kegelapan, supaya bintang bintang tampak.

Dilale sayang, Ayahmu dan aku, kami sama sama punya ruang gelap. Sama seperti jiwamu juga. Tetapi di sanalah kau akan menemukan banyak sekali bintang bintang. Mereka mampu menerangi lorong lorong muram dan pekat sekalipun. Tidak perlu takut. Berkenalanlah dengan rasa itu, jadilah berani!


Ibu.