Monday, June 23, 2014

[semacam review] Menonton Selamat Pagi Malam











Pernahkah kamu memandang langit malam, tanpa bintang. Hanya bulan setengah dengan sinar redup. Dari jendela kamarmu bahkan sinar redup bulan yang hanya setengah itu, tidak bisa menemani kekosongan yang ada di dalam hatimu. Itulah rasanya ketika menonton film Selamat Pagi Malam.

Selain itu Lucky Kuswandi sengaja memasukkan beberapa kritik sosial tentang Jakarta, bahwa manusia pada umumnya sudah kehilangan kemampuan untuk “membahasakan” perasaan-perasaannya secara langsung. Bahwa saat ini semua perasaan sudah tergantikan dengan gadget dan emotikon. Tetapi sungguh mereka lupa bahwa, emotikon titik dua bintang tidak sanggup untuk menggantikan rasa bibir ketemu bibir yang sebenarnya.

Selamat Pagi Malam banyak bicara banyak soal rasa. Tentang bagaimana mengungkapkan rasa dengan berani. Tentang “membahasakan” rasa. Tentang belajar untuk membaui sesamamu dengan jujur.


Film ini mengajak saya dan kamu untuk melihat sekelumit permasalahan orang-orang Jakarta, yang bisa saja salah satu dari orang-orang itu adalah saya atau kamu. Lalu ada sebuah pertanyaan besar di kepala saya ketika selesai menontonnya yaitu: apakah saya berani memaknai sebuah kekosongan?

Friday, June 20, 2014

[semacam review] Menonton Cahaya Dari Timur: Beta Maluku













Cahaya Dari Timur: Beta Maluku adalah film yang membekas. Mebuatmu terjaga dalam setiap adegannya. Menonton film ini seperti membuka kardus usang, yang hampir berdebu, selama ini diletakkan di bawah tempat tidur, ketika dibuka dan di sana banyak ditemukan kenangan lama. Kenangan yang bisa jadi malah membuat kita lebih kuat.

Salembe adalah anak yang banyak menyimpan kenangan itu. Ia dan teman-temannya yang sedari kecil mengalami pahit yang mungkin tidak seharusnya dialami oleh mereka. Tapi ternyata pahit itu memang diijinkan, supaya kelak mereka bisa mencipta rasa manis.

Tokoh utama di salam film ini Sanny Tawainella adalah destiny. Ia tidak megah seperti kebanyakan pembuat perubahan. Ia bahkan jauh sekali dari kehidupan gemerlapan. Tetapi ia seperti lilin kecil, yang cahayanya mampu menerangi kegelapan paling buta sekalipun.

Menonton film ini, menampar wajah saya dengan sebuah pertanyaan besar “saya sudah berbuat apa?” pertanyaan ini bukan hanya kepada diri saya sendiri, tetapi juga kepada diri anak muda Maluku lainnya. “Katong semua sudah berbuat apa?”

Ternyata niat baik saja tidak cukup. Niat baik tanpa melakukan apa-apa sama dengan kosong dobol. Kekalahan tepat kepada diri sendiri. Kemenangan Tim Maluku yang diceritakan di dalam film ini hanyalah bonus. Bonus supaya saya dan setiap orang muda lainnya belajar tentang sebuah perjalanan.

Tetapi kemenangan sejati adalah ketika Sanny Tawainella berhasil “berbuat” ia tidak tinggal diam, ia menerobos tembok agama, denominasi, mendobrak sebuah kepercayaan tanpa kehilangan prinsip, dengan sebuah tagline: Beta Maluku!  

Sampai di sini pekerjaan rumah saya dan kamu bukan hanya menonton filmnya, terkagum-kagum, merinding, tercengang, berlinang air mata, atau perasaan emosional lainnya yang akan keluar.

Tugas saya dan kamu adalah seperti seorang Sanny Tawainella: membangun jiwa. Tidak hanya tulus. Tetapi berbuat di dalam ketulusan.

[catatan kaki: salut kepada semua tim Cahaya Dari Timur: Beta Maluku yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu untuk ketulusan yang tidak terucap tetapi terasa ketika menonton film ini.]


Tuesday, June 17, 2014

Membaca Rahasia Renjana






gambar dari googling. 




Membaca Rahasia Renjana, Prita Prawirohardjo hanya dalam semalam. Saya begitu hanyut. Satu dari beberapa cerita itu adalah saya. Membaca Rahasia Renjana seperti membaca diary, diary hati. Terasa atau tidak, setiap hati kadang terlanjur menyimpan rahasia. Hati seperti dipaksa untuk “menyembunyikan.” Lalu apa rahasiamu?

Rahasia Renjana tidak hanya menyuguhkan cerita, tetapi rasa. Setiap kita diajak untuk turut icip setiap rasa yang ada. Rasa jatuh cinta, kehilangan, melepaskan, menyembunyikan. Semuanya dirasakan dengan jujur. Toh makna jujur dalam hal ini adalah bukan kepada orang lain melainkan ke diri sendiri. Seperti anak remaja, menulis diary dengan kode-kode lalu digembok. Seperti itulah Rahasia Renjana akan membuatmu menebak segala teka tekinya.

Ketika membaca Rahasia Renjana, saya teringat kata “punggung.” Sesuatu yang terletak di bagian belakang tubuh manusia ini, adalah penumpu tubuh. Tetapi dengan hanya melihat punggung, itu bisa membuat seseorang jatuh cinta. Lainnya, punggung juga bisa bercerita tentang rahasia. Rahasia ada yang disimpan, tetapi ada juga yang dibagi. Dibagi kepada siapa, tentunya dengan orang dekat. Bukankah hanya orang dekat yang biasanya mampu melihat punggung kita dengan jelas. Dan bahkan tahu setiap jerawat yang tumbuh di sana.

Rasanya Prita seperti mengajak saya bukan untuk melihat punggung saya. Tetapi melihat punggung orang lain. Melihat punggung orang dekat saya. Tempat di sana saya pernah jatuh cinta, memeluk punggungnya dari belakang, kemudian melepaskannya perlahan. 


[silakan dapatkan buku Rahasia Renjana di http://nulisbuku.com/books/view_book/5598/rahasia-renjana dan follow Prita Prawirohardjo di @prita165]