Friday, January 10, 2014

Sepanjang Februari Sumbang Buku #BukuUntukTabaos









Beberapa tempat yang akan dipakai sebagai drop box di Bandung yaitu: 

1. Radio MGT Jalan Buah Batu no. 8 Bandung
2. Tobucil, Jalan Aceh no. 56 Bandung
3. Kineruku, Jalan Hegarmanah no.52, Bandung

Di Ambon (sementara sedang di koordninasikan) 
Silakan hub. @almascatie di 081344915611. 

Waktu Pengumpulan Buku
Awal Februari sampai akhir Februari. Dan kami menerima buku dengan jenis apapun. 

Info lebih lanjut contact: 

Theoresia Rumthe
Email: perempuansore@yahoo.com
telp/sms/whatsapp: 081320033268

Buku Untuk Tabaos (Sumbang Bukumu Untuk Perpustakaan di Ambon)





Ada sebuah kerinduan terhadap Maluku, sebagai tampa putus pusar. Tampa putus pusar atau dengan kata lain adalah tanah kelahiran, selalu punya hubungan yang sifatnya sentimental.

Seperti rahim ibu. Membuat setiap anak yang sudah “keluar” ingin “kembali lagi” untuk melakukan sesuatu. Melakukan sesuatu di sini bukan hanya perkara, melihat sesuatu yang tidak ada, lalu dibuat ada.

Tetapi melakukan sesuatu di sini adalah bentuk kepedulian untuk melihat potensi yang sudah ada dan membuatnya lebih maksimal lagi. Jika kita amati, perkembangan seni dan anak muda kreatif saat ini di Maluku, khususnya kota Ambon sedang mekar.

Kata lainnya: anak-anak muda Maluku saat ini sedang menancapkan kuku jari mereka kuat-kuat ke tanah. Mereka sedang menggali akar mereka dalam-dalam untuk menanam sebuah identitas yang kuat.

Jika kembali kepada kata “identitas” seharusnya anak-anak muda Maluku mengenal cerita rakyatnya: sejarah cengkih dan pala yang membentuk mereka. Ada pengetahuan dari catatan-catatan perjalanan. Dari buku-buku yang ada di perpustakaan.

Tapi apa yang diharapkan ketika di Maluku, khususnya di kota Ambon sendiri tidak memiliki fasilitas perpustakaan yang memadai. Dengan buku-buku yang cukup mendukung.

Tentu saja ada beberapa perpustakaan yang cukup mumpuni. Tetapi tidak ada salahnya ada itikad baik untuk menambah perpustakaan di sana. Setelah itu pekerjaan rumah tidak berhenti sampai di situ, karena akan diadakan juga berbagai cara untuk membangun minat baca kepada anak-anak muda Maluku.

Paling tidak, ketika ada fasilitas buku dalam hal ini perpustakaan, pekerjaan rumah untuk kembali kepada identitas yang hilang, bisa diam-diam terjembatani.

Setelah itu, pekerjaan rumah lainnya seperti mengenalkan kembali “catatan perjalanan yang hilang” bisa dengan mudah untuk dilakukan.


Dengan ini, maka perkenalkan #BukuUntukTabaos sebutlah ini adalah sebuah gerakan pengumpulan buku bekas atau baru dengan berbagai genre. Gerakan ini, sementara bermuara di Bandung.  

Thursday, January 9, 2014

Bacarita Dengan Revelino Berry




Ketika di Ambon, saya tidak punya waktu yang banyak untuk langsung “bercerita” dengan Berry. Akhirnya setelah di Bandung. Saya melakukannya. Walaupun hanya lewat emailSeperti komitmen saya, blog ini kedepannya akan mendedikasikan “isi-nya” kepada segala sesuatu yang berbau lokal. Tentang Maluku. Tentang anak-anak Maluku. Tentang kegiatan-kegiatannya. Terlalu berat. Tapi saya mau mencoba dari yang kecil-kecil.

Semoga bacarita dengan Berry, bisa singgah di hati. Ini doa saya kepada pembaca.

Saya: kapan mulai menulis puisi?

Berry: menulis puisi, pertama kalinya ya Pas sekolah dulu, pelajaran Bahasa Indonesia. Hehehe. Mulai senang dan suka menulis sejak 2010, selepas acara Tribute to Bing Leiwakabessy meski tidak sering.

Saya: pernah tembak cewek pakai puisi?

Berry: tembak cewek pakai puisi belum pernah ( semoga bisa seperti Pablo Neruda :D )

(Amin. Sudah jarang ternyata cowok-cowok melakukannya. Padahal bagi perempuan-perempuan tertentu, ditembak pakai puisi, bisa bikin bergetar :D )

Saya: ada buku favorit yang mempengaruhi selama menulis puisi?

Berry: kalau buku favorit tidak ada, tetapi  ada beberapa yang mempengaruhi, isinya tentang tips menulis, lupa judul tapi membantu dan ngaruh. Hehehe.

Saya: ada puisi favorit dari penulis tertentu dan kenapa suka sama karyanya?

Berry: suka Bird Opinion dari Nietszche. Semacam gambaran puisi lahir dari hasil perenungan. Tapi favorit sekali itu milik Weslly Johanes, “Barangkali cinta memang harus buta” selalu enak untuk dicoba menafsir berlawanan.

(baca bagian ini, jadi ingin segera mungkin coba bacarita dengan Weslly Johanes. Sayangnya saat ini Weslly sedang vikaris di daerah Tanimbar Selatan. Tapi siapa tahu saya bisa menulis surat untuknya.)

Saya: bagaimana menurut kamu tentang minat baca anak anak muda Maluku?

Berry: minat baca anak muda Maluku masih kurang. Entah kenapa, kurang diracuni mungkin.

Saya: boleh cerita sedikit tentang #MalamPuisi? apa yang bikin acara ini menarik untuk dikunjungi?

Berry: sastra (dalam hal ini puisi) di Ambon hari ini sementara dalam perjuangan membangun segmennya sendiri. #MalamPuisi menjadi salah satu kegiatan yang berupaya membawa puisi untuk mendapat tempat selain genre-genre seni lain. Selain itu malam puisi juga mempertemukan anak-anak kreatif dan suka puisi entah penyair, penyair pemula, bukan penyair pemula bahkan yang bukan penyair. #MalamPuisi layak dikunjungi, karena selain sebagai alternatif menikmati bentuk-bentuk seni, suasananya yang cair  membuat kita lebih bisa menikmati meski bukan seorang yang paham seni sastra, puisi-puisinya variatif,  ruang jumpa “tanpa tembok”, tongkrongan. Banyak hal menarik di sana.

Bagian #MalamPuisi, saya setuju dengan Berry. Dan sangat mendukung adanya kegiatan ini. Saya diundang ke sana untuk membaca puisi. Terus terang saya sendiri belajar banyak. Rasanya ingin bilang bahwa: sebuah sentuhan “seni baru” di Ambon, Maluku sedang lahir. Bahwa anak-anak muda di sana tidak pakai embel-embel kata “kreatif” untuk membuat sebuah acara kreatif.

Bahwa anak-anak muda Ambon, Maluku, tidak perlu mencari galeri terkemuka untuk “memamerkan” karya mereka supaya dianggap “keren.” Tapi karya mereka tidak dibuat-buat. Karya mereka turun ke jalan. Berinteraksi langsung dengan masyarakat. Dapat dinikmati oleh semua kalangan.

Ya, semangat ini yang saya pelajari ketika terlibat dengan kegiatan-kegiatan mereka beberapa hari kemarin.


Revelino Bervion Nepa. Lahir 13 September, penyair yang aktif bersama Bengkel Sastra Maluku, tergabung dalam Kelompok Seni Manis Pait. Berry juga aktif sebagai rapper di Molukka Hiphop Community (MHC) dan juga aktivis tenaga kependidikan. Silakan temui Berry di twitternya @revelinoberry .  

Wednesday, January 8, 2014

The Secret Life Of Walter Mitty: stop dreaming start living!








Menulis sesuatu, bukan untuk "keren kerenan." Tetapi menulis sesuatu karena ada yang menggerakan. Itu baru keren.

Ketika pulang dari sebuah tempat.  Akan membuat saya tidak bisa berhenti menulis. Kalimat-kalimat seperti hendak muntah. Membuat kamu tidak bisa berhenti. Saya akan menceritakan kepadamu tentang sebuah film pertama di tahun ini yang baru saja saya tonton.

Judulnya adalah: the secret life of walter mitty.

Saya dan kamu adalah walter mitty. Kita semua terjebak di dalam sebuah rutinitas. Dan lupa untuk bersenang-senang. Tapi saya senang dengan kebiasaan melamun seorang walter mitty. Istilahnya, walter mitty pergi ke "dunia kecilnya" dan ia bisa melakukan banyak hal di sana.

Saya juga punya dunia kecil itu. Saya suka sekali pergi ke sana.

Tetapi suatu hari, walter mitty bangun dengan kondisi serius. Bahwa ia tidak hanya bisa hidup dalam “dunia kecilnya” melainkan ia harus pergi dan bertarung dengan dunia asing di luar sana untuk menemukan dirinya sendiri.

Saya senang dengan film ini, karena film ini mengandung banyak tanda tanda kecil yang dikumpulkan oleh walter mitty di dalam kehidupan. Untuk menyusun sebuah komposisi hidup yang lebih besar.

Mengumpulkan tanda. Istilah saya. Dan dari seorang walter mitty, saya belajar banyak untuk berani, pergi ke tempat asing, dan melakukan perjalanan.

Persis seperti apa yang  saya inginkan di tahun ini: lebih berani, pergi ke tempat asing, dan mulai melakukan banyak perjalanan. Tahun ini adalah tahun dengan banyak perjalananan.

Ah, satu lagi walter mitty punya jurnal perjalanan. Bisa juga ditiru. Lalu sean o’conell fotografer ganteng dan misterius di dalam film itu berkata “terkadang hal-hal yang indah, tidak minta untuk diperhatikan.”

Rasanya perkataan ini seperti ditujukan kepada saya. Lakukan perjalanan. Catat perjalananmu dalam diam. Tidak perlu pamer.





Anak Perempuan Tidak Akan Bisa Bertahan Tanpa Nasihat Ayahnya

gambar diambil oleh saya. sunset di belakang the natsepa resort. 




Apakah peran yang paling penting dari seorang ayah kepada anak perempuannya: nasihat-nasihatnya. Anak perempuan tidak akan bisa bertahan tanpa nasihat ayahnya. Dan seorang ayah tidak akan bisa bertahan tanpa kasih sayang anak perempuannya.

Ketika berbicara mengenai rumah. Saya adalah orang yang selalu sentimentil. Sekaligus keras kepala. Kontradiktif. Dan hal-hal yang sentimentil adalah selalu menyangkut ayah dengan nasihat-nasihatnya.

Semuanya adalah kalimat-kalimat pembuka. Seperti dasar untuk mengawali tahun ini. Nasihat ayah itu seperti sesuatu yang teduh. Kamu yakin kamu tidak akan kepanasan ketika sedang berada di bawah teduh.

“Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” Begitulah ayah memulai nasihatnya. Ada satu hal yang terbersit di dalam pikiranku bahwa, tahun ini adalah bukan tahun terkenal.

Tahun ini adalah tahun yang mengandung nama baik dan dikasihi. Karena bukan “keterkenalan” yang akan membawamu kepada kekayaan besar, melainkan “nama baik” atau dengan kata lain, saya menyebutnya “integritas.”

Dan “dikasihi” lebih berharga daripada emas dan perak. “Loving favour” bagaimana rasanya dikasihi? Dikasihi seperti ada yang selalu memelukmu selalu. Ada jaminan selalu dicintai, bahkan ketika kamu merasa bahwa kamu tidak dicintai.


Ayah dengan nasihat-nasihatnya. Selalu menjadi momen berharga bagi saya. Untuk mengawali tahun-tahun saya. Bagaimana denganmu?

Tuesday, January 7, 2014

Bacarita Dengan Tero Borut




Suatu ketika ada sebuah pertanyaan oleh seorang teman. Ia berkata: adakah penyair-penyair muda asal Maluku? Saya terdiam. Ada, jawab saya di dalam hati. Sayang sekali mereka tidak kelihatan. Mungkin saatnya untuk memunculkan mereka walau itu hanya di blog saya.

Saya: kenapa senang puisi?

Tero: suka saja, sulit untuk benar-benar menjelaskan kenapa suka sesuatu. Banyak hal yang bisa menjadi musabab, mungkin tidak sama sekali sebagai sebab. Tetapi kalau disuruh beralas-alasan, sebagian mungkin karena ada kesenangan tersendiri bermain dengan kata-kata. Dan lebih pokok lagi, mungkin karena menemukan cara untuk menyembunyikan isi kepala dan hati lewat bahasa yang samar.

Saya: “menyembunyikan isi kepala dan hati” <-- merujuk pada kalimat ini, rasanya tidak ada yang perlu “disembunyikan” justru kadang puisi bisa buka hati kita dengan jelas. Menurut kamu?

Tero: tergantung yang bikin puisi. Kalau mau samar bisa jadi samar, kalau mau langsung ya bisa langsung, tapi bahkan yang telanjang pun akan bisa jadi sangat samar. Seperti puisi-puisi manjaling tampias. Saya percaya yang benar-benar tahu makna sebuah puisi hanya yang membuat. Orang lain hanya menebak. Bahkan kalimat yang terucap pasti lewat mulut saja sering bercabang.

Saya: apa maksudnya “kalimat yang terucap lewat mulut saja bisa bercabang”?

Tero: kelas ringannya mungkin kalimat-kalimat bersayap. Kalimat seperti kutemui kau malam nanti, instead of nanti malam kau kutemui. Rasanya kalimat kedua jauh lebih pasti.

Saya: oke, sekarang kita masuk proses kreatifnya. Bisa cerita biasa tulis puisi dimana? Ada ritual khususkah? Dan bisa bagi puisi sepotong yang tercecer di hape atau notes kah?

Tero: tidak ada tempat khusus. Tapi pantai dan gunung jelas membantu. Saya kebetulan selalu membawa satu buah buku yang belum habis dibaca kemana-mana dan pena. Karena selalu bawa ransel. Tetapi kalau ada ide, biasanya dicatat di notes hape atau dibikin jadi draft sms.

mari kuseberangkan engkau ke hari baru
biar hidupmu menetap di pucuk
biar matari menghangati mimpimu tiap kali ufuk menyala

(ini adalah bagian favorit saya dari sepenggal puisi yang Tero kirim. Bagian ini rasanya hangat. Dan jika saya bisa mewarnainya. Warnanya adalah biru langit.)

Saya: boleh tahu referensi kamu apa?

Tero: jaman masih SD, ada semacam buku wajib yang dibaca dari kelas 4-6 yaitu AA. Navis, NH Dini, dan Hamka. Dan saya baru tahu kalau di jaman itu Achdiat K Mihardja sebenarnya tidak boleh dibaca, tapi ketika SD itu saya masih ingat bahwa, kita harus membuat resensinya. Tapi semua buku-buku itu lupa. Pas SMA justru jatuh cinta dengan Emha, Markesot lalu catatan pinggir, Goenawan Mohammad, yang juga mempengaruhi gaya-gaya menulis sampai awal-awal kuliah. Lalu ketika kuliah di Jatinagor, kenal Pram, Camus, sedikit Satre dan Marguez. Dan justru yang dibaca sampai selesai (berkat pacar saya) adalah supernova, Dee. Tapi kalau buku yang kena banget itu ya Pram yang Bumi Manusia, dan Paulo Coelho yang Alcemis. Mainstream sekali sebenarnya.

Saya: menurut kamu seberapa jauh pengaruh “membuat resensi” dalam menulis?

Tero: berpengaruh banyak. Membuat kita memaksa diri untuk mengerti tentang isi bukunya. Juga bikin berani berpendapat tentang buku yang sedang kita baca. Dan yang paling saya ingat adalah resensi itu bagus untuk mendamaikan saya dengan Ibu Mainake. (Tero dulunya aktif naik gunung semasa SMA. Dan itu yang membuat ia terlambat masuk pelajaran bahasa. Ibu Mainake adalah gurunya.)

Saya: lalu menurut kamu, bagaimana dengan minat baca anak-anak Maluku sendiri?

Tero: agak kurang. Kurikulum di sekolah tidak kondusif. Dan televise bikin anak-anak jadi lebih visual. Beda dengan jaman saya. Saya kasih lucky luke dan asterix untuk keponakan saya, tapi sampai sekarang belum dibaca-baca. Dan satu lagi perpustakaan tidak kondusif. Tidak membantu minat baca anak-anak Maluku dengan baik.

Ini hanya sedikit percakapan saya dengan Tero. Ia bukan penyair. Ia hanya anak muda yang senang menulis. Beberapa dari buah pikirannya adalah puisi. Tidak ada salahnya kita kenal sedikit dari pemikirannya.







Tero Borut bernama lengkap Muhammad Burhanudin Borut. Sekarang aktif membantu kampanye damai di @ambonbergerak, juga aktif menjadi provokator damai dengan teman-teman komunitas kreatif di Ambon. Dan saat ini sedang menuntut ilmu di Australian National University. Tero bisa ditemui di twitternya @Tero2_Boshu. Atau blognya di:  http://terometamorfolio.blogspot.com/

Tentang Maluku, Tentang Tampa Putus Pusar.




gambar diambil oleh saya. pemandangan dari belakang the natsepa resort. 




Perjalanan selalu mengisahkan banyak. Dan sebagai seorang perantau, perjalanan pulang ke tampa putus pusar adalah sebuah hak istimewa. Tempat putus pusar, dengan kata lain adalah tempat dimana kita akan selalu memiliki hubungan emosional yang tidak bisa dipungkiri.

Maluku adalah tampa putus pusar beta. Dan akhir tahun selalu menjadi sebuah perjumpaan yang sakral dengannya. Kembali pulang bukan karena keharusan. Tetapi pulang karena tanah yang memanggil. Ada keluarga yang menunggu.

Perjalanan kali ini, membuat saya melihat banyak. Membuka mata hati saya, membuka telinga saya lebar-lebar, bahwa ada tanggung jawab ketika “tanah panggil pulang” ia seperti mengajak untuk berkolaborasi dengannya. Melakukan sesuatu.

Saya banyak mengobrol. Saya banyak menggali informasi tentang Maluku, dan saya masih melihat semangat itu ada. Saya masih merasakan kegairahan yang membara dari mata anak-anak muda. Bahwa tanah ini tidak mati. Tanah ini sedang menggali, menggali kembali akar, untuk menancapkan kuku semangat juang dalam-dalam.

Ketika diundang untuk membaca puisi pada #TrotoArt9 sebuah acara Kota Musik Pinggir Jalan, ketika semua seniman, kawula muda turun ke jalan untuk memamerkan karya mereka. Saya sendiri terkagum-kagum dengan semangat militan yang teman-teman miliki.

Bahwa setiap orang berjuang di dalam keterbatasan. Dan itu yang membuat mereka kuat. 

Everything that kills me makes me feel alive. Itu adalah ungkapan sebuah lirik lagu. Belum hidup jika belum merasa mati. Dan saat ini yang saya rasakan adalah: setiap anak-anak muda di kota ini sedang tumbuh. Mereka seperti tunas-tunas muda yang sedang menancapkan akar-akarnya di tanah.


Perjalanan pulang kali ini, membuat saya merenung kembali bahwa: sudahkah saya berjuang untuk tanah Maluku, tampa putus pusar saya

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...