Thursday, October 2, 2014

Belajar Dari The Giver












Malam itu saya adalah malam yang cukup random. Maksud hati menonton Tabularasa, tetapi karena jadwalnya telah lewat akhirnya kami (saya dan teman saya) memilih untuk menonton The Giver. Alasan pertamanya karena kami malas menonton Anabelle yang horor. Dan di The Giver ada Meryl Streep. Akhirnya kami memutuskan untuk menonton film itu.

The Giver dibuka dengan narasi yang cukup memikat. Saya adalah pemerhati narasi dan setiap voice over. Mungkin aneh, tapi bagi saya narasi awal biasanya membangun sebuah bangunan film tersebut. Di awal itu ada Jonas yang bersepeda dengan dua orang temannya. Jonas berkata bahwa ia tidak seperti anak-anak kebanyakan. Ia melihat sesuatu di luar kebiasaan setiap orang.

Ternyata The Giver adalah tentang sebuah komunitas yang akhirnya dibentuk dengan sebuah bentuk keseragamannya. Ada rumah yang disebut family unit, jam bermain mereka dibatasi, mereka dibagi dalam beberapa kelompok pekerjaan, cara berpakaian mereka sama, bahkan ketika di dalam pertemuan cara menepuk tangan mereka semua sama, mereka menggunakan bahasa-bahasa yang layak, dan tiap pagi mereka harus disuntik supaya mereka kehilangan emosi sebagai cara untuk merasa.

Yang menarik adalah ketika menonton film ini dari awal adalah warna filmnya yang abu-abu. Tidak ada satupun warna yang keluar, hanya abu-abu. Jonas, tokoh laki-laki yang digambarkan sebagai “memory receiver” di dalam film itu menghabiskan waktunya sebagai “pelatihan” dengan The Giver, sang pemberi memori itu sendiri.

Selain itu di film ini banyak sekali dialog-dialog quotable yang memukau. Dalam hal ini saya mungkin akan dapat banyak jika membaca langsung bukunya yang ditulis oleh Lois Lowry.

Ada beberapa catatan yang saya dapat ketika menonton film ini:

1. Kita tidak bisa “menghilangkan” kenangan begitu saja, karena ternyata kenangan yang memuat kita belajar merasa. Selain itu kenangan itu adalah bagian dari diri kita dan itu akan menentukan seperti apa masa depan kita nantinya.

2. Untuk apa menjalani hidup jika kita tidak bisa merasa. Ternyata bisa merasakan sesuatu itu sangat penting. Bayangkan jika di dalam hidup kita tidak bisa merasakan cinta, maka hidup kita tidak berwarna, melainkan hanya abu-abu.

3. Dunia ini tidak bisa diseragamkan. Di dalam keseragaman hanya akan ada robot dan rasa bosan, karena setiap manusia ternyata diciptakan dengan sebuah keinginan bebas. Bahwa di dalam ketidakseragaman dan kita tidak hanya merasakan hal-hal yang senang—melainkan juga sedih, sungguh membuat kita adalah manusia yang seutuhnya.

4. Ada beberapa adegan yang mungkin tidak masuk akal. Yah, namanya juga film Hollywood. Sudahlah terima saja. Fokus saja sama sinematografi dan dialog-dialog di dalam film ini. Everything is connected. Everything is balance. Where there is good, there is bad. Lihatlah bahwa segala sesuatu terjadi untuk menyeimbangkan kita. Bertahan!

5. Bagian yang saya paling suka adalah ketika Jonas meliha warna rambut Fiona yang berubah menjadi merah atau ketika ia melihat sinar matahari yang keluar dari sulur-sulur pepohonan. Seperti itulah cinta. Ketika kita bisa merasakan dan melihat segala sesuatu di sekitar kita selalu berwarna. Karena dengan begitu kita bisa merasa.

If you can't feel, what's the point?


Selamat menonton!

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...