Wednesday, May 29, 2013

Tindakan

“Cinta emang enggak perlu dibicarakan, kadang kata cinta itu hadir di momen-momen kecil, kayak misalnya ciuman”.

Ini adalah sebuah kutipan yang saya ambil dari film What They Don’t Talk When They Talk About Love. Filmnya bagus. Saya tidak akan mereview filmnya. Saya hanya baru selesai membaca review film tersebut dan kembali ingat dengan sebuah kutipan di atas.

Memang seru kalau cinta kadang tidak perlu dibicarakan. Dan setiap manusia hanya butuh menjalani “rasa” yang sudah ada, yang ia sebut dengan cinta. Tetapi kenapa ketika kita menjalani “rasa” tersebut. Perlahan dan pasti akan membawa kita ke sebuah perasaan yang kemudian menuntut.

Kita menjadi manusia penuntut. Kita tidak hanya memberi. Kita kepingin diberi. Kita tidak hanya memperhatikan. Kita meminta diperhatikan kembali. Dan tuntutan lainnya yang kemudian semakin menambah daftar kita.

Saya tidak senang bilang “gue cinta sama lo” saya lebih suka bilang “gue sayang sama lo.” Entah mengapa yang kedua lebih hangat saja perasaannya. Perasaan cinta terhadap seseorang bisa habis suatu hari. Tetapi apakah perasaan sayang bisa habis?

Dan “cinta hadir pada momen-momen kecil.” Saya setuju sekali. Terkadang pelukan erat, bergandengan tangan lama, lalu ciuman. Adalah momen. Dimana kita merayakan cinta itu. Kita tidak perlu mengeluarkan kata-kata. Hanya tindakan.

Hanya keintiman yang kita berdua yang tahu. Saya takut berubah menjadi seorang penuntut. Karena bisa saja saya ini monster. Dan menuntut orang lain melakukan ini dan itu. Bukankah itu mengerikan.


Tuesday, May 28, 2013

Sembunyi Sembunyi




Menakjubkan ketika menjalani sesuatu dalam kondisi “sembunyi sembunyi” tak ada yang terselubung padahal. Setelah dewasa, tak ada yang terselubung. Malam itu di gerbong kereta api nomer tujuh. Dengan AC gerbong kereta yang lumayan dingin. Duduklah seorang perempuan.

Ia sendiri begitu nekat. Ia ama sekali tidak tahu apa yang ia lakukan. Hanya mengikuti kata hatinya saja. Hanya mengalir. Hanya mengikuti arah kakinya melangkah. Tak ada batasan, mungkin dalam hatinya, ia hanya kepingin jadi orang bebas.

Ia seperti melawan arus. Ia seperti memberontak. Tapi, ia tidak suka kata “memberontak” mungkin lebih pas dengan menikmati sesuatu penuh-penuh. Keputusan dan konsekuensi. Segala sesuatu dimulai dengan menimbang nimbang apapun yang ada di kepala dan apapun yang ada di hati. Ia menyukai sesuatu yang seimbang.

Pada dasarnya ia adalah pejuang. Ia tidak suka menyerah kepada keadaan. Jadi jika ada yang mengomentari sok tahu. Ia tidak akan mendengarkan orang itu. Ia keras kepala. Tetapi, ia memang lebih suka disebut keras kepala dan bukan keras hati. Hatinya sebetulnya lembut. Perpaduan itu yang membuat peremuan itu seksi. Ia mempertanyakan segala sesuatunya bukan hanya dengan kepala tetapi juga dengan hatinya.

Di gerbong kereta yang dingin, perempuan itu duduk manis. Menuju sebuah kota. Dimana, di sana akan ada ciuman panjang sebelum akhirnya lelap. 

Selamat Menikmati Hari Ini!


“Pastilah, gue Cuma pengen lo dapetin mimpi-mimpi lo. Gue nggak mau kalo keberadaan gue malah hentikan ‘lari’ lo. Semangat! Jangan bingung atau bimbang ya.”

“Pastinya. Semoga kita tetap fokus sama hal-hal yang baik dan saling support ya.”

“Rasain sesuatu yang positif itu kadang menyenangkan.”

Ya, setuju. Rasain sesuatu yang positif itu memang sangat menyenangkan. Rasain sesuatu hari demi hari. Tanpa memaksakan dirimu untuk melihat sesuatu terlalu jauh. Sesuatu yang nantinya akan berakhir tidak sesuai dengan keinginanmu.

Hari ini ketika di jalan, saya melihat garis-garis putih yang ada di jalan sebagai penanda. Cat garis-garis putih yang ada di jalan itu ternyata kadang tidak lurus. Tidak sempurna. Terkadang garis-garis putih tadi adalah bekas cat yang telah bertumpuk. Sehingga bekas cat yang lama kadang keluar dari garisnya.

Dan ketika mengamati itu, saya merasa hidup ini adalah bagian-bagian yang bertumpuk tadi. Kita bukan sesuatu yang baru. Kita hanya memoles dan memoles supaya kelihatan baru.

Tetapi menyenangkan menemukan ada orang yang mendukung menggapai mimpi. Perasaan senang ini tidak datang setiap hari. Mereka hanya sesaat. Kadang tidak tahu hingga kapan mereka ada. Tapi berjanjilah untuk menikmati hari ini. 

Friday, May 17, 2013

Selamat Berbagi





Tak ada yang sempurna. Tak ada yang ideal. Biarkan semuanya berjalan apa adanya. Sambil terus memeriksa hatimu. Bahwa segala sesuatu yang sedang terjadi memang harus terjadi dengan sebuah kesadaran penuh.

Hari ini banyak hal baik sedang datang menghampiri. Dan saya melihat ini sebagai sebuah “tanda” yang baik. Anggap saja, bahwa hal ini datang karena kita memang diijinkan. Atau kita memang diijinkan dalam momen ini.

Sebuah momen. Dimana saya akan merayakan berbagi. Bahwa semangat berbagi di sini adalah seperti ucapan “terima kasih” semakin banyak kita TERIMA semakin banyak kita KASIH juga. Bahwa berbagi itu tidak menyimpan untuk dirimu sendiri. Bahwa berbagi itu natural dilakukan segampang mulutmu berterima kasih.

Saya menyebut momen ini dengan momen “berbagi” bahwa selamanya saya akan selalu diijinkan untuk menemani. Dan kali ini saya menemani teman kecil untuk tumbuh dewasa. Teman kecil yang dulunya bodoh matematika. Teman kecil yang dulunya suka mandi bersama.

Ini momen-nya, yang tak akan diketahui akan dijalani sampai kapan. Tetapi saya mau bilang kepada diri saya sendiri, tak ada salahnya menikmati harimu hari lepas hari. Masa depan akan datang. Tapi sungguh mereka terlalu jauh untuk dapat dikontrol dari sekarang. Dan kamu bukan Tuhan.

Jadi bagaimana kalau, kita sebut ini dengan momen berbagi. Momen yang mendatangi dirimu. Dan di sana, ketika kamu banyak terima, kamu akan banyak kasih juga.

Selamat berbagi. 

Thursday, May 16, 2013

Kesepakatan Bersama


Kami punya kesepakatan bersama untuk menjalani dan melihat tanda sepanjang jalan. Saya selalu suka dengan tanda. Saya percaya bahwa selain orang-orang di sekitar, Tuhan akan berbicara langsung pada dirimu melalui tanda-tanda yang ada di sekitarmu.

Dalam sebuah hubungan dan keterlibatan-keterlibatan saya dengan laki-laki. Saya terlatih membaca tanda. Kadang-kadang hal ini tidak bisa dijabarkan dengan pemikiran yang logis. Semacam, harus peka terhadap sekitarmu saja.

Saya tidak kepingin terburu-buru. Karena (kali ini) butuh perhitungan yang matang. Bukannya saya tidak suka melakukan kesalahan. Tetapi saya hanya ingin lebih matang kali ini. Dan tingkat kematangan, mungkin salah satunya bisa dilihat dengan sebarapa santainya saya dalam menghadapi segala sesuatu.

“Duh, kita in kayak abege yang ‘sembunyi-sembunyi’ mau ciuman aja.”

“Iya, tuh dia serunya. Bikin deg-degan.”

Segala sesuatu harus jelas dari awal. Maksud saya, saya musti punya batasan. Saya musti punya kesepakatan yang disepakati berdua. Saya harus dapat melihat segala sesuatunya dengan jelas.

Tetapi (lagi-lagi) saya harus jelas melihat bahwa batasan yang saya buat ini, tidak mengganggu kenikmatan naik “rollercoaster.” Semoga kamu mengerti.

Hari ini, saya menemukan sebuah buku yang bercerita tentang kotanya. Dan entah mengapa saya ingin sekali membaca buku itu di hari ini. Sebelumnya, ia mengatakan bahwa, kenapa juga ia kepingin beli motor dengan warna itu. Sebelumnya lagi kenapa, saya harus menemani Ibunya dalam masa-masa itu.

Saya percaya tanda. Saya mencari tanda. Tapi yang yang lebih besar dari tanda adalah  “suara hati.”

Untuk itu saya perlu menulis, menyuarakan apa yang ada di dalam. Mengenal sudut pandang. Dan cara berpikir. 

Bahwa, jika seseorang ingin bersama (sesulit apapun) seharusnya ada jalan. Dan tanda-tanda akan menyertai mereka sepanjang jalan. 

Wednesday, May 15, 2013

Seperti Rollercoaster


“Gue takut jatuh cinta sama lo.”

“Uhm, iya. Yang buat takut itu karena banyak batasan-batasan ya. Kadang semua nggak seperti yang dimau ya.”

“Lo, orang yang menarik. Gue suka sama lo. Hanya saja kita nggak bisa.”

“Yang bikin excited itu, ketika bagian dari diri kita bilang “iya” dan bagian lainnya bilang “tidak.”

***

“Kenapa jadi bahasan yang sulit ya, padahal ini bisa jadi penyemangat di saat-saat sulit dan di saat-saat sepi. Kita juga nggak tahu apa yang bakal terjadi, yang penting kita nggak saling menyakiti, jadi apapun kita nantinya.”

“Kenapa sulit? Karena lo dan gue menahan sesuatu. Si ‘menahan’ ini yang nggak enak. Gue suka kok si ‘letupan-letupan kecil’ ini dan gue mau rasain si rollercoaster ini penuh-penuh.”

“Betul, dan jangan lupa pakai safety belt-nya loh.”

Semua untuk kebaikan. Semua untuk kebaikan.

***
Walaupun seperti rollercoaster. Ada perasaan yang turun naik. Ada banyak pertanyaan di kepala. Semua butuh dicerna dengan baik. Semua butuh mendengar ke dalam. Tetapi yang saya rasakan kemudian adalah perasaan santai yang sebelumnya tidak pernah saya miliki ketika sedang bersama.

Santai sekali. Rasanya seperti memakai sendal jepit. Atau pakai bikini. Dan di depanmu adalah pemandangan lautan biru yang begitu luas. Kali ini saya tidak mau mempertanyakan bagaimana nantinya. Melainkan saya hanya ingin menikmati setiap harinya.

Akhirnya kami sepakat bahwa kami akan menjalaninya. Bentuk hubungan yang entahlah seperti apa ini. Hanya menjalaninya dan fokus kepada hal-hal yang baik. Bahwa akhirnya kami juga sepakat bahwa ketika kami fokus kepada hal-hal yang baik, maka kami pun akan mendapati kebaikan juga.

Seperti hukum tabur dan tuai. Ketika saya  bangun pagi, saya hanya bilang kepada diri saya sendiri bahwa, jika memang ini adalah jalannya, saya mau menjalaninya dengan sederhana.

Keputusan ‘menjalani’ punya konsekuensi. Dan ketika berpikir bahwa konsekuensi dari semua hal ini adalah sulit. Saya tidak mau jadi orang yang sulit. Saya mau jadi orang yang sederhana saja. Saya mau lebih santai menghadapi segala sesuatunya.

Konon, saya ini kan orang yang keras kepala. Tetapi untuk yang satu ini, bukan hanya saya yang keras kepala. Tetapi ada kesepakatan bersama. Bahwa kita akan menjalani (apapun bentuk hubungannya), saling mengisi, dan jika bertemu lagi nanti kami akan berciuman di bawah bintang-bintang.

Hahaha.

Rasa-rasanya memang, seperti pergi ke loket beli karcis, mengantri panjang, bergandengan tangan, dan naik rollercoaster.

Deg-degan tapi nikmat.

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...