Thursday, March 28, 2013

#iDOVEit #SisterHoodBdg


Perempuan dengan rambut. Takkan terpisah. Saya sendiri berambut pendek setelah sekian lama memelihara rambut saya yang keriting dengan sangat panjang. Pada akhirnya saya menyerah. Selain memang perawatannya yang tambah ribet. Di sisi lain, saya ingin mengganti gaya.

Rambut keriting panjang saya, saya potong pendek sekali. Mengurusnya pun kini lumayan gampang. Saya pemakai Dove, sejak lama. Bukan apa-apa, saya senang karena produk ini membuat rambut saya tidak gampang kering. Selain itu Dove memang membuat rambut saya lebih lembab.

Hari ini #iDOVEit #SisterHoodBdg mengadakan acara yang penuh inspiratif di Aula PusdikPom, Cimahi, di dalamnya ada talkshow yang dibawakan oleh pembicara-pembicara perempuan yang menginspirasi juga: Ibu Anna Surti Nina, selaku psikolog yang berbagi tentang inner beauty. Bahwa perempuan harus tangguh dari dalam.

Selanjutnya ada Ibu Indari Mastuti yang telah mengelola komunitas ibu-ibu yang senang menulis di Bandung dan mengelolanya sebagai mata pencaharian mereka juga. Di acara #iDOVEit #SisterhoodBdg juga kita bisa ngecek rambut kita sendiri, ada kelas kecantikan, dan sepanjang acara banyak sekali hadiah yang dibagikan.

Termasuk memfoto acara yang berlangsung dan diupload ke twitter dengan mention @iDOVEit dan @TabloidNova.

Sepanjang perjalanan perempuan saya berpikir lagi: berbahagialah perempuan yang punya sahabat-sahabat perempuan yang setia, karena tidak hanya berbagi, tetapi sahabat selalu menjaga kita selalu ada di jalan yang tepat. 

Monday, March 25, 2013

Hujan Yang Kurang Ajar!


Dalam perjalanan saya selalu memikirkan sesuatu yang random. Hubungan-hubungan yang telah lalu. Wajah kekasih yang kemarin, yang telah pergi meninggalkanku. Lalu bau tubuhnya. Legit bibirnya. Dan kenangan.

Dan katanya ketika hujan turun selalu membawa banyak memori berhamburan di kepala. Memori-memori itu lalu mengepul-ngepul seperti hangatnya kopi yang baru saja disajikan. Mereka tiba-tiba muncul seperti baru.

Seperti baru kemarin kamu mengalaminya. Tetapi mereka datang begitu saja berhamburan di kepalamu. Mungkin tepat ketika banyak orang mengatakan bahwa ketika hujan, itu akan menjadikan kita lebih melankoli daripada biasanya.

Ya, ini soal kekasih. Berulang-ulang kali saya selalu diingatkan oleh Ibu, bahwa hati-hati memilih kekasih. Hati-hati ketika jatuh hati. Karena ini bukan persoalan yang sederhana. Bahwa seringkali cinta selalu mengubah manusia menjadi seseorang yang tidak menyenangkan. Dan hal ini memang benar adanya ketika, urusan hati yang tidak benar itu akan membuat kita juga akan rungsing di luar.

Lalu suatu ketika aku bertanya kepada Ibu. Apa Ibu juga pernah rungsing soal cinta. Iya katanya. Waktu itu Ibu punya pacar dua. Tetapi yang satu terlambat untuk melamarnya. Jadinya Ibu menikah dengan Ayah. Kalau waktu itu Ibu menikah dengan “Om Siapa Itu Namanya” mungkin sekarang ini tidak ada kamu.

Jadi sebenarnya persoalan dulu itu sederhana saja. Hanya soal siapa cepat dan dia yang dapat. Begitu pikir saya. Sedangkan sekarang lebih sulit. Bukan masalah siapa cepat. Tetapi siapa yang bisa meyakinkan.

Laki-laki yang punya keyakinan akan dirinya akan mampu meyakinkan orang lain. Akan mampu meyakinkan kekasihnya untuk hidup bersamanya. Sayang sekali laki-laki yang seperti itu jarang ditemukan di jaman digital sekarang.

Saat ini yang saya perhatikan adalah banyak laki-laki yang penakut. Mereka tidak percaya sama diri mereka sendiri dan itu yang membuat mereka sulit percaya kepada orang lain. Bisa seperti itu atau bisa juga itu semua karena saya selalu punya ekspektasi yang terlalu tinggi teradap orang lain.

Kembali ke hujan. Mungkin hal-hal dan pemikiran seperti ini datang hanya ketika hari sedang hujan. Membua saya kepada melankoli yang terlalu berlebihan. Nah, bisa jadi saya juga dipermainkan oleh hujan.

Hujan yang kurang ajar! Yang buat saya rindu legit bibirmu.




Monday, March 18, 2013

Pesan yuk!

WAWBAWtotebag X PEREMPUANSORE 1.0 // code TB-P1 canvas 30s-40s broken white 10%-30% // 40cm x 30cm. IDR 60.000 (belum termasuk ongkos kirim).



WAWBAWtees X PEREMPUANSORE 1.0  // code T-P1 All Size - Male/Female. IDR 95.000 (belum termasuk ongkos kirim).


Order : 081320033268 / perempuansore@yahoo.com

Format Order:
1. nama-kode produk-alamat lengkap (sertakan kode pos)-jenis transfer bca/mandiri
contoh: (enjoy-totebag7.0-jl.wawbaw no.1 bandung 1111-bca)
2. setelah mengirimkan order melalui sms, akan mendapatkan data ongkos kirim dan total transfer beserta no.rekeningnya.

Friday, March 15, 2013

Because of Winn-Dixie




“Tapi kadang-kadang hal-hal begitu menyedihkan sehingga terasa lucu.” Ini adalah sebuah kalimat yang dari Gloria Dump kepada Opal. Laki-laki kecil yang berteman dengan seekor anjing.

Anjing itu diberi nama Winn-Dixie. 

Winn-Dixie adalah anjing yang begitu cerdas. Opal menemukannya pada sebuah toserba yang ada di kota itu. Anjing itu seperti sebuah penanda bahwa: sebenarnya di dalam hidup ini manusia itu tidak pernah kesepian.

Bahwa manusia selalu bisa menemukan apa saja yang bisa menemaninya. Opal punya seorang Ayah, dan ia adalah seorang pendeta. Dan pada buku ini diceritakan bahwa Opal dan Ayahnya ditinggalkan oleh Mamanya ketika Opal masih kecil sekali.

Ketika itu Opal pernah bertanya kepada Ayahnya, bahwa bisa sebutkan sepuluh hal yang bisa diingat oleh Ayahnya tentang Mamanya. Dan setelah Ayahnya menjawab, Opal kembali ke kamar untuk menulis sepuluh hal tersebut. Dan menghafalnya.

Dengan niatan bahwa suatu hari nanti, ketika ia bertemu dengan Mamanya, ia bisa mengenalinya.

Tetapi Winn-Dixie hadir dengan sebuah tujuan. Ia membawa Opal untuk bertemu dengan banyak orang. Ia membawa Opal untuk mengenal dan akhirnya menjadi teman yang baik kepada beberapa orang. Ada Gloria Dump, Miss Franny, Amanda, Otis, Dua bocah dari kelarga Dewberry.

Mereka akhirnya membuat sebuah pesta. Tadinya pesta itu rencananya akan diadakan di halaman rumah Gloria Dump tapi ternyata hujan turun begitu derasnya. Dan Winn-Dixie hampir hilang.

Banyak sekali bagian-bagian dari buku ini yang membuat saya sedu sedan perlahan.

Banyak sekali bagian-bagian dari buku ini yang membuat saya sedu sedan perlahan. Karena terkadang saya merasa kesepian seperti Opal. Dan sering juga saya merasa bahwa merindukan seseorang itu seperti kita selalu menekankan lidah kita pada bagian kosong bekas gigi kita yang telah dicabut.

Dan ketika itu saya ingat kembali kata-kata Gloria Dump kepada Opal “Tidak mungkin kau bisa menahan sesuatu yang ingin pergi, kau mengerti? Kau hanya bisa menyayangi apa yag kaumiliki selama kamu memilikinya.”


Tuesday, March 12, 2013

Ijinkan Saya Bicara Tentang Kota


Akhir-akhir ini saya senang sekali memperhatikan kota. Memperhatikannya dalam diam. Kota yang telah saya tinggali, selama kurang lebih 9 tahun ini. Bandung. Saya menyukai Bandung sejak saya berlibur pertama kali ke sini.

Sekitar tahun 1995, saya, Tante, dan Oma, kami liburan bersama. Dan waktu itu adalah liburan kenaikan kelas. Saya, Theo remaja, ketika itu pergi mengunjungi Cihampelas. Ada di antara jejeran celana jeans yang waktu itu sedang in berat. Dan kaos oblong yang kedodoran.

Saya juga membeli sebuah celana jeans dan sebuah gelang kembaran dengan sepupu saya. Dan saya mencintai Bandung pada pandangan pertama. Diam-diam saya berbisik untuk diri saya sendiri “suatu hari nanti saya pasti akan tinggal di sini.”

Dan hal itu kejadian. Tahun 2005, saya pindah ke kota ini. Saya jatuh cinta kepada Bandung. Bandung jatuh cinta kepada saya. Kami seperti pasangan.

Saya seperti punya dua pacar: Ambon dan Bandung. Ambon adalah pacar pertama saya, dan kini kami Long Distance Relationship. Karena saya hanya bisa pulang sesekali saja.

Dan Bandung adalah pacar kedua saya. Kami saling percaya. Dan saling mendengarkan satu dengan yang lain. Kami hanya berjodoh. Kenapa saya begitu yakin bahwa kami berjodoh, karena di Bandung saya mendapatkan pekerjaan impian saya.

Pekerjaan impian yang tadinya hanya cita-cita, diwujudkan di kota ini. Bandung seperti menjawab semua mimpi-mimpi saya. Dan sampai saat ini saya masih bertahan di kota Bandung. Karena saya percaya kami punya ikatan yang lebih dari sekedar kota dan penghuninya.

Hanya saja akhir-akhir ini saya merasa bahwa ketika memasuki weekend atau libur panjang. Bandung akan terasa sesak. Banyak sekali mobil-mobil akan berdempet-dempetan dengan sangar dan tidak mau kalah.

Kota ini seperti diinvasi besar-besaran. Saya sebagai pendatang yang akhirnya menjadi penghuni kota ini merasa diserang habis-habisan dan tidak punya tempat menikmati kota ini lagi sebagai kota yang menyenangkan.

Kini, ketika liburan panjang tiba atau memasuki weekend, saya sudah stress duluan karena takut macet jika ingin pergi ke acara-acara tertentu. Dan pada akhirnya, saya hanya bisa pergi ke satu tempat saja. Lalu tinggal di situ sampai malam.

Kemarin, ketika libur panjang memasuki hari Nyepi, saya terlambat sampai 45 menit menuju radio tempat saya siaran. Padahal jam berangkatnya pun seperti biasa dan tidak mepet. Hal ini terjadi ketika pakai angkot, macet dimana-mana.

Sedih sekali ada di kota ini. Sedih sekali ketika kini pacar saya ditiduri oleh banyak orang, one night stand, dan setelah itu selesai setelah puas.

Ijinkan saya berbicara tentang kota. Bahwa kota bukan hanya tempat tinggal semata, menikmati keenakannya saja, dan melupakannya begitu cepat. Tetapi kita bisa membuka telinga kita untuk mendengarkannya. Mendengarkan kota bicara.

Kini, Bandung berbicara kepadamu, hai pengunjung Bandung seminggu sekali: choose to be nice in our city, please!  

Friday, March 8, 2013

Mungkin Yang Kita Perlukan Adalah Hidup Yang Tanpa Basa Basi


Kenapa setiap orang tidak tumbuh saja menjadi seperti apa dia. Tanpa perlu didefinisikan. Ia hanya perlu tumbuh menjadi seperti apa dia. Ia tidak perlu memaksakan dirinya untuk menjadi “sama” dengan orang lain. Untuk menjadi seperti apa yang orang lain “mau” pikirkan tentangnya.

Kenapa ketika bertemu dengan orang baru, kita tidak menerima orang itu apa adanya saja. Tanpa perlu melihat dia siapa. Tanpa perlu tahu kepentingannya apa. Tanpa peduli amat keuntungan dia buat saya apa. Hanya sekedar berkenalan. Hanya sekedar saling menghormati. Hanya sekedar mengobrol asik.

Hidup yang tanpa basa-basi. Hidup yang tanpa bertanya: keuntungan dia buat saya apa.
Sudah jarang sekali saya mendapati orang yang seperti itu. Sudah jarang sekali, saya sendiri memperlakukan orang seperti itu. Yang terjadi pada saat ini adalah saya berkenalan dengan orang baru sebagai sebuah iming-iming “membangun jaringan.”

Ataupun sebaliknya ketika orang berkenalan dengan saya, karena saya adalah seseorang yang bisa membawa keuntungan bagi mereka. Atau mungkin saya bisa membawa kepentingan buat mereka.

Untuk itu kita diajarkan banyak hal tentang “basa basi” ketika mengobrol dengan seseorang. Kita perlu untuk hanya sekedar berbasa-basi sebentar dan kemudian baru masuk ke inti persoalan.

Hal ini kemudian coba saya obrolkan dengan seorang teman, dan kemudian dia berpendapat bahwa “keramahan” adalah sebuah nilai yang sangat diagungkan. Karena kita Indonesia. Karena sejak dulu memang kita telah diajarkan untuk senatiasa “ramah” kepada siapapun termasuk orang yang tidak kita kenal.

Tapi hal ini kemudian hanya menjadi sesuatu yang indah di “permukaan.” Keramahan itu sendiri hanya sebagai pemoles dalam bersikap. Seperti lipstik merah yang saya pakai sekarang. Hanya sekedar pemanis.

Kenapa kita melakukannya: karena kita tidak ingin dinilai jutek.

Haha. Bahasan ini kemudian semakin menarik. Karena apapun yang kita lkukan terhadap orang lain. Selalu erat hubungannya dengan penilaian orang lain terhadap kita. Penilaian yang baik menjadi tujuan. Dan selalu ingin dilihat “baik-baik” menjadi sebuah pencapaian.

Saya berpikir bahwa, terlalu dangkal jika yang kita kejar dalam hidup adalah supaya kita terus-terusan menyenangkan orang ain dengan apa yang kita lakukan. Kita “baik-baik”, selalu bisa ber”basa-basi”, selalu “ramah” denga orang lain hanya karena kita takut. Takut dinilai buruk oleh orang lain.

Padahal tidak perlu.

Saya ingin memandang segala sesuatu lebih sederhana. Bagaimana jika ketika bertemu orang baru, kita ramah karena keramahan itu memang ada di dalam kita. Tetapi sebaliknya ketika bertemu dengan orang yang nyebelin, kita juga bisa menunjukkan bahwa kita tidak suka. Dan bahwa kita juga bisa nyebelin. Haha.

Lalu berhentilah berbasa-basi. Katakanlah apa yang memang ingin kamu katakan kepada seseorang: baik ataupun buruk. Dengan jujur. Dan tahanlah dirimu dari mengatakan hal-hal manis tapi omong kosong.

Wednesday, March 6, 2013

Molukka Hip Hop, kami dari Maluku!

Molukka Hip Hop terbentuk kapan? (bisa ceritakan sekalian anggota personil awalnya juga yak)

Morika: Molukka Hip Hop Community (MHC) terbentuk pada tanggal 1 Juli 2008 di Rumatiga. Pada saat terbentuk, diawalmya MHC hanya terdiri dari 2 grup (Ghetto Flow dengan formasi Arles Tita, Althien John Pesurnay dan Morika Tetelepta. Grup ini jemudian bubar pada pertengahan tahun 2009. Selanjutnya grup kedua adalah RTD yang merupakan singkatan dari Rap Till Die. Grup ini beranggotakan Revelino Bery Nepa atau 2slow, Johanis Salakory atau Killa MC dan Dave Latuny atau 12 Saint), selain itu juga tergabung beberapa rapper yang tidak termasuk dalam grup seperti Flip Nixon Pormes, Henry Tetelepta, Franz Nendissa, serta Billy Saimima sebagai DJ dan engineer.

Berry: Tahun 2008. MHC terbentuk dari beberapa grup dan rapper-rapper solo yang tidak bergabung dalam grup. Ghetto FLow/Sageru terdiri dari Morika, Althien dan Arles), RTD (Revelino Berry,  Killa dan Dave Latuny , Franz Nendisa , Henry Tetelepta , Nixon Flip Pormes serta Billy Saimima (DJ).

Hayaka: MHC terbentuk tgl 1 juli 2008. Di Almoryn house, Ruma Tiga, Ambon. Beberapa orang yang bersama-sama membentuk MHC, Diantaranya adalah too slow, Althien John, N'morita dan saya sendiri (Hayaka).

Apa yang bikin kalian tertarik dalam Molukka Hip Hop?

Althien: Karena molukka hiphop itu,  musik dan kultur. Makanya tertarik.

Mark: Sedari lahirnya, MHC boleh dikatakan sebagai penghasil tembang hiphop rajin di kota ambon pada era dimana hiphop tak seramai sekarang ini (era di bawah 2010), dimana karya-karyanya diproduksi dengan equipment terbatas. Disnilah ketertarikan itu dimulai, kata “berkarya” pantas menjadi alasan utama, karena hiphop yang belum begitu familiar masih perlu diperkenalkan dengan positif. MHC sebagai grup lokal mewakili semangat kami sekalian untuk bermusik dengan cara kami.

Morika: Yang membuat beta tertarik dengan MHC yang pertama adalah musik. Sebab ia adalah salah satu elemen yang membuat kita tetap bersama sampai hari ini. Selanjtnya adalah kekeluargaan. Di dalam MHC kita tak lagi merasa sebagai anggota komunitas namun sudah merasa sesama kita sebagai saudara sekandung. Hal yang berikut adalah kecintaan terhadap tanah Maluku. Dalam komunitas, cita-cita kami hanya satu yaitu membesarkan Maluku kepada dunia lewat musik rap. Tiga alasan itulah yang bikin beta sangat suka berada dalam komunitas ini.

Berry: Pikiran tajam untuk perubahan, Maluku.

Hayaka: Kami tertarik untuk membentuk MHC, karena sepengetahuan kami saat itu hanya ada beberapa grup rap atau hiphop di Ambon, namun belum ada komunitasnya. Oleh itu kami sepakat untuk membentuk MHC. Selain itu kami juga memiliki visi dan misi yang sama, yaitu agar hip-hop atau Rap dapat diterima oleh masyarakat, serta kami juga ingin mengajak anak muda Maluku agar bukan hanya menjadi penikmat, namun juga pelaku hip-hop/Rap. Karena kesamaan itu akhirnya kami menemukan ikatan seperti keluarga. Jadi MHC bukan hanya komunitas, tapi keluarga.

Kalau ngomongin soal roots, kalian paling terinspirasi dari siapa?

Mark: Inspirasi berkarya muncul dari pendahulu seperti Wu-tang, Method Man, Krs one, Jay-z sampai Kanye West.

Morika: Selain sebagai penyanyi rap, beta juga suka menulis. Terlebih puisi. Oleh sebab itu beta sangat suka penyanyi-penyanyi yang memiliki konstruksi lirik yang bagus, dewasa serta banyak makna dan pesan. Beberapa di antara mereka yang menginspirasi beta adalah Gil Scott-Heron, John Lenon, Marvin Gaye, KRS ONE, Immortal Techique, Jim Morisson, Harry Roesli, Iwan Fals, Bob Marley dan Woody Guthrie.

Berry: Kalo roots yang saya tahu sih ada afrika bambataa, the soulsonic force, blackspades, Africa Inayan, tapi yang jadi inspirasi malah Bob Marley, karena esensi perjuangan dan perlawanan terhadap kondisi sosial yang sama-sama dibawa lewat lirik. untuk saat ini barangkali Immortal technique-lah yang paling mempengaruhi.

Hayaka: Berbicara tentang roots, kami sama-sama tahu bahwa hip-hop itu pertama kali berkembang pada awal tahun 1970-an di kawasan Bronx, New York. Saya pertama kali mendengar lagu rap yaitu lagu-lagunya Emcee Hammer dan Two Live Crew. Namun, awal pertama saya terinspirasi untuk menjadi pelaku rap adalah Snoop Dogg dan T-Bone.

Musik Ambon sendiri kalo menurut kalian gimana? terus punya peyanyi Ambon favorit gak? siapa dan kenapa?

Althien: Musik ambon? Asik-asik saja. Tapi sekarang hilang bentuk dan hilang sifat. Gak tahu Ambon tuh yang kayak gimana lagi. Mungkin terlalu menglobal segala jenis musik, jadinya campur sari.

Mark: Secara umum Ambon sebenarnya sudah bertahun-tahun didominasi lagu pop yang itu-itu saja dengan tema cinta yang itu-itu saja kadang sampai terasa over jika dicerna otak. (bagi saya pribadi ini kejatuhan dari era musik ambon dibawah tahun 90an, yang sesungguhnya dikemas dengan rapi dan terdengar sangat santai bersahaja dan sederhana, namun justru berkelas) Dan itulah yang menjadi konsumsi publik sehingga level pendengar bisa dibilang tidak bisa naik ke tipe musik berkualitas dengan tingkat bermusik yang lebih tinggi, hal ini tentunya sungguh disayangkan. Padahal ambon memiliki pemusik yang handal. Mestinya ada pembaharuan nuansa dalam peta musik Ambon. Salah satu penyanyi Ambon favorit saya adalah Monica Akihary, penyanyi jazz ethnic yang bernyanyi dengan caranya sendiri nuansanya sungguh “kental”. Benar-benar bermusik dengan hati.

Morika: Musik Ambon menurut beta sampai hari ini kemajuannya sangat lambat atau bahkan menurun jika harus dibandingkan dengan pencapaian-pencapaian dalam karya seperti yang sudah terjadi pada album-album di tahun 1980an seperi Ambon Jazz Rock, Lex Trio, Chris Kayhatu, dll. Hari ini jika ada yang bertanya apakah itu musik Ambon, maka yang mungkin bisa didapati adalah musik pop daerah yang melulu cengeng dengan irama yang mundur ke era Panbers, Djakrta Loyd dan Pance Pondaag. Kemudian penyanyi atau pemusik Ambon yang beta sukai adalah Bing Leiwakabessy, Hellas (yang darinya beta belajar juga cara menyanyi cepat yang mirip rap), Jopie Latul, George de Fretes, Utha Likumahuwa.

Berry: Musik Ambon dulunya adalah musik yang dinamis, sarat makna dan sangat menyenangkan dinikmati, sayangnya beberapa tahun belakangan ini kita seperti mundur. Om  Yoppie Latul, suaranya khas.

Hayaka: Untuk perkembangan musik di Ambon saat ini, menurut saya mengalami kemunduran musikalitas di akhir tahun 1990-an hingga akhir 2007, ketimbang sekitar tahun 1980-an sampai 1990-an awal. Tapi untunglah sekarang ini sudah banyak musisi yang semakin memperhatikan musikalitas dalam bermusik, maka menurut saya, perkembangan musik di Maluku semakin mengalami kemajuan. Ada beberapa musisi Maluku yang menjadi idola saya. Diantaranya adalah Opa Bing Leiwakabessy dan anaknya Om Georgie Leiwakabessy, Om Benny Likumahuwa dan adiknya Om Utha Likumahuwa. Mengapa saya mengidolakan mereka, hal itu karena saya sangat mengagumi cara mereka menghargai musik, dan total dalam bermusik.

Oke, denger-denger udah punya album kan yak? ada berapa lagu dalam album ini? berapa lama proses pembuatan albumnya?

Morika: Album Beta Maluku mulai katong kerjakan sejak Oktober-Desember 2010 (take vocal yang cukup panjang waktunya sebab data musik harus dikirim dari Jakarta kemudian workshop di Ambon barulah dimulai proses take vocal). Proses editing dilakukan di Jakarta sejak Januari hingga Maret 2011. Dalam album itu ada 10 lagu.

Berry: 10 lagu, sekitar 4 sampai 5 bulan.

Hayaka: Seiring perjalanannya MHC sudah memiliki beberapa album. Baik yang disebar secara free download, maupun berupa piringan cd yang dijual. Mulai dari Molukka Islands vibe volume 1 & 2 yang disebar melalui free download, Beta Maluku, dan juga kompilasi bersama beberapa grup hip-hop asal Maluku yang bertajuk "Social RapACity". Dari setiap album tersebut memiliki jangka waktu pengerjaan yang berbeda. Beta Maluku sendiri memiliki delapan lagu di dalamnya. Proses pengerjaan album ini memakan waktu sekitar tujuh sampai delapan bulan. Sedangkan untuk Social RapACity sama-sama berisi delapan lagu, namun hanya memakan waktu kurang lebih sekitar tiga bulan.

Ada gak sih lirik favorit dalam album Molukka Hip Hop ini? kalau ada (bisa kasih liriknya dan liriknya itu cerita tentang apa?)

Althien: Lirik lagu Puritan. Sopo muriale, Mamalole, Dying Nation.

Mark: Lirik favorit “ we’re livin in the system, we are the victim, no ones to blame, and justice remains the same “ – 2slow, MHC – Dying Nation .... Lagu ini menjadi tumpahan kekecewaan atas segala kebobrokan negri, dan lirik ini mewakili ekspresi kemarahan atas keadilan yang memang hasil konspirasi belaka.

Morika: Lirik terbaik menurut beta dalam album maupun lagu-lagu dari MHC yaitu, "sapa angka Maluku, Maluku bela dia (dari penggalan lirik Bery Revlino di lagu Maluku Manis), kemudian lirik di lagu Sopo Muriale dari album Beta Maluku yang bercerita tentang pengangkatan mansia ke dimensi yang lebih tinggi untuk menyatu dengan tuhan-nya.

Berry: “sapa bale batu, batu gepe dia, sapa langggar sumpah, sumpah bunuh dia.” Tentang segala sesuatu memiliki konsekuensinya, contoh kecilnya  jika sudah berjanji jangan dilanggar.

Hayaka: Dari setiap lagu di dalam album-album di atas, saya paling menyukai lagu "Beta Maluku (Hena Masa Waiya)" dan "Puritan" yang terdapat di dalam album Beta Maluku. Selain liriknya yang kuat, kedua lagu tersebut seperti memiliki roh di dalamnya. Di dalam lagu Beta Maluku kami menggabungkannya dengan kapata yang berjudul "Hena Masa Waiya". Kapata adalah sastra tua yang ditinggalkan oleh orang tua dulu-dulu (nenek moyang) orang Maluku kepada anak cucu mereka. Hena masa waiya sendiri artinya adalah "rumah di atas air". Kemudian lagu "puritan" merupakan lagu bernuansa heroik, yang dikombinasikan dengan penggalan syair dalam kapata "lawamena" sebagai chorus-nya. Lagu ini bercerita tentang kembali ke kemurnian jati diri Maluku seutuhnya.

 Perkembangan Musik di Maluku sendiri kalo menurut kalian kayak apa?

Althien: Musik Maluku berkembang tanpa arah, hanya maju sesuai kehendak industri. Kalo musik cuma soal industri maka berarti sudah benar arahnya, kalo lebih dari itu berarti belum ada arah. Makanya Molukka Hiphop berusaha terus menjadi arahan kemana musik maluku ideal menurut kami.

Mark: Dewasa ini peta musik dikalangan indie (bukan mainstream berlebel), yang didominasi anak muda Ambon yang sangat-sangat berbakat, sungguhlah memberi harapan cerah bagi perubahaan nuasa musik di kota Ambon kedepan. Begitu banyak pemusik muda dari berbagai aliran yang giat berkarya atas musik- musiknya sendiri. Tentunya dihari-hari mendatang perkembangan ini makin terasa, yang jelas bagi kami musik saling mendukung adalah cara kami menyambut kemajuan musik di negri ini.

Morika: Perkembangan musik di Maluku -sejauh yang beta amati sampe hari ini- sudah mulai pelan-pelan beranjak dari trend musik pop daerah yang melulu cengeng. Perkembangan ini juga terlihat seiring dengan terbentuknya banyak komunitas musik di Ambon. Genre-genre seperti punk, reggae, blues, jazz sudah mulai terlihat geliatnya. Demikian juga dengan produksi karya-karya musik dari komunitas-komunitas yang muncul dengan tema-tema serta musik yang bagus. Hal ini tentu pelan-pelan akan menggeser paradigma orang banyak tentang karya produksi musik daerah Ambon yang sudah sekian lama dikuasai industri pop daerah yang cengeng dan biasa-biasa saja.

Berry: Industri, pasar membuat musik saat ini turun jauh, tanpa edukasi.  Salut untuk mereka yang terus berjuang diluar pasar dengan kreatifitas dan musik yang berpikir serta mendidik.

Pengen banget manggung dimana dan kolaborasi bareng siapa?

Althien: Manggung di Bronx, NY. Kolaborasi dengan Cool Herg, siapa saja hiphoper-hiphoper besar agar bisa jadi karya besar, sehingga berdampak bagi banyak orang. mengantarkan orang-orang menemukan fitrahnya sebagai manusia.

Mark: Manggung dimana saja yang penting crowd menikmati dan “menghargai" musik. Kalo bermimpi kolaborasi saya mau berkolaborasi dengan B.O.B HAHAHAHA.

Morika: Sangat ingin manggung di Ternate, Banda, Tual, Saumlaki, Seram dan pulau-pulau lainnya di Maluku. Mimpi beta adalah bisa berkolaborasi dengan musisi seperti Immortal Techinque, KRS One serta Bing Leiwakabessy.

Berry: 1. Di Ambon, sepanggung dengan kawan-kawan pergerakan hiphop sejak awal. 2. Bareng Immortal Technique, Damien Marley plus M. Shinoda.

Hayaka: Hingga saat ini, saya memiliki kerinduan untuk tampil di depan para musisi Maluku di seluruh dunia ataupun di depan para musisi Indonesia lainnya, bersama di dalam satu track dengan sang maestro musik Maluku yang awal bulan kemarin genap berumur 90 tahun, Opa Bing Leiwakabessy.

Interviewnya hanya  lewat email. Tapi ini hanya demi sebuah kerinduan bahwa dari Timur ada anak-anak muda yang berkarya dan mereka bukan hanya patut dilirik saja. Mereka butuh didengar dan diapresiasi.

Maju Musik Maluku!

Check their video, Puritan









































Tuesdays With Morrie





Namanya Morrie. Ia bukan Kakek saya. Tapi saya suka kepadanya. Saya suka caranya bercerita. Saya suka memperhatikan ketika Morrie sedang bercerita tentang hal-hal yang menyangkut tentang hidup.

Kita bertemu setiap hari Selasa. Dan setiap hari Selasa itupun Morrie selalu bercerta tentang hal-hal yang mungkin tidak bisa saya temukan dari orang lain.

Satu ketika Morrie pernah bercerita kepada saya tentang kematian, ia mengatakan bahwa “begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, itu sama dengan belajar tentang bagaimana kita harus mati.”

Kalimat-kalimat ini sangat dalam. Kita tidak pernah tahu kapan kita mati. Tetapi menjalani saat-saat hidup saya yang sekarang. Ada baiknya untuk saya lebih berhati-hati dengan pilihan-pilihan saya untuk terus hidup.

Morrie juga bercerita tentang nilai. Bagaimana di dalam hidup kita harus punya nilai-nilai. Nilai-nilai ini harus kita bentuk sendiri. Bukan karena dibentuk oleh orang lain atau lingkungan sekitar kita.

Dan saya setuju. Sulit sekali untuk hidup di jaman sekarang dan tidak memiliki nilai yang kita yakini lalu menjalaninya. Karena jaman tidak akan memberikan sebuah nilai yang baik. Sayalah yang harus membentuknya.

Pada hari saya berteu lagi dengan Morrie, ia bercerita tentang keluarga. Ia mengatakan bahwa keluarga adalah sebuah landasan yang kokoh. Bayangkan kalau ia tidak punya keluarga, bagaimana ia menanggung semua yang ia rasakan pada saat ini.

Saya sendiri memperhatikan bagaimana Morrie berinteraksi dengan kedua anak laki-lakinya. Rob dan Jon. Morrie tidak pernah segan-segan untuk menyatakan bahwa ia sangat menyayangi mereka. Dan ia menunjukannya.

“Pengalaman punya anak itu tidak ada bandingannya. Dan itu tidak bisa digantikan oleh apapun. Walaupun saya harus dibayar mahal untuk itu.” Ujar Morrie.

Saya setuju. Saya belum punya anak. Saya sedang berpikir untuk menikah. Dan Morrie mengajarkan pengalaman tentang anak yang sangat luar biasa kepada saya. Mungkin suatu saat nanti ketika saya punya anak, paing tidak saya sedikit belajar untuk tidak segan-segan menunjukkan rasa sayang kepada mereka.

Begitupun dengan pernikahan, Morrie mengatakan kalimat-kalimat yang bagus sekali:
There are a few rules I know to be true about love and marriage: If you don't respect the other person, you're gonna have a lot of trouble. If you don't know how to compromise, you're gonna have a lot of trouble. If you can't talk openly about what goes on between you, you're gonna have a lot of trouble. And if you don't have a common set of values in life, you're gonna have a lot of trouble. Your values must be alike.

Oh Morrie yang baik. Saya bisa melihat kerut-kerut di wajahnya. Gerakan tangannya yang sudah semakin lemah. Dan kakinya yang sudah semakin kurus. Ia selalu suka duduk di dekat jendela. Dan melihat ke arah luar, dengan pemandangan kembang sepatu yang ada pada potnya.

Ia sangat menghayati pemandangan itu. Pemandangan sederhana. Yang membuat saya masuk ke dalam berbagai pengalaman-pengalaman yang sangat dala tentang kehidupan.

Morrie akhirnya meninggal. Dan dimakamkan tepat pada hari Selasa.

Morrie bukan Kakek saya. Tapi saya cuma mau bilang: Terima kasih Morrie untuk mengajarkan saya banyak hal tentang hidup. 

Featured Post

#berpuisibersamakekasih: Tidak Ada Yang Paling Benar Dalam Menulis Puisi (2)

Saya dan Weslly Johannes mendapat kesempatan untuk mengajak teman-teman di #Kanca, sebuah festival literasi dan kepenulisan yang di...