Tuesday, July 26, 2011

Dead Poets Society






Satu hal yang saya suka dari John Keating adalah binar matanya. Ada kehidupan di sana. Terlihat ketika ia menyampaikan sesuatu. Akhirnya saya berpikir begini: saya harus menikah dengan laki-laki yang punya binar mata. Ya, laki-laki dengan binar mata tidak hanya sexy, mereka tidak hanya hidup, tapi juga merayakan hidupnya.

John Keating merayakan hidupnya. Ia tahu bahwa hidupnya lebih dari sekedar biasa. Ia mengerti sangat bahwa adalah suatu kemewahan ketika bisa mengisi hidupnya: dengan kehidupan itu sendiri. Saya menulis ini di sebuah hari yang cukup panas. Adalah pilihan yang tepat ketika saya bangun lalu hendak memilih baju yang tepat untuk hari itu, karena saya mengerti bahwa, hari ini adalah hari yang istimewa. Begitupun besok dan seterusnya. Saya tidak ingin biasa.

John Keating menjadi contoh yang baik. Karakter dan kegilaan yang patut ditiru. Mendadak saya begitu iri dengan Neil, Todd, Knox, Charlie, Richard, Steven, Gerard. Karena mereka duduk bersama, bertemu mata dan mata dengannya, berpikir dan belajar bersama. Andai saya juga salah satu dari murid-murid itu. Ah, tapi ini Welton Academy, sekolah khusus pria.

We don't read and write poetry because it's cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. 

What’s passion? Saya menulis definisinya pada tulisan-tulisan saya yang lalu. Tak ada yang pas lagi. Kau akan tahu seseorang filled with passion: dari binar matanya. Ada gairah. Ada nafsu. Lebih kepada birahi kepada apapun yang ia kerjakan. Ia akan melakukannya, seperti tak ada hari esok.

Saya menonton film ini, lebih kepada judulnya. Saya mencintai puisi. Kelak, siapa tahu saya bisa seperti John Keating. Begitu tergila-gila kepada apa yang saya kerjakan. Lalu banyak yang mencap saya sebagai orang gila—biarkan saja. Yang saya tahu, saya jatuh cinta kepada apapun yang saya lakukan dan itu lebih dari cukup.


Oh, John Keating sangat menginspirasi. Kelak kalau kau bertemu dengan laki-laki yang punya binar mata sepertinya, jangan lupa beritahu saya, mungkin saya akan menikahinya.

Carpe, carpe diem, seize the day boys, make your lives extraordinary.

Simpang Dago, 26 July 2011. 12:0—hari ini saya pakai rok mini, kaus gombrang, anting panjang, sunglasses dan tetap naik angkot. Well, ini cool.
  

Monday, July 25, 2011

ASA - Paquita







PAQUITA dengan album barunya seperti memberikan rongga di dalam dada. Seperti huruf Q yang hadir pada namanya. Tidak hanya lingkaran kosong, melainkan lingkaran kosong yang diberikan secuil garis, secuil kaki sekaligus sebagai penanda bahwa ada sesuatu yang mengikuti kehadirannya. Kemunculannya di tahun 1995 dengan lagu “Dua Manusia” seperti menyihir saya yang masih abege pada waktu itu untuk jatuh cinta, bukan hanya terhadap lagunya, penampilannya, tetapi kepada apa yang dia kerjakan.

Kini setelah enam belas tahun kemudian, ia tetap memesona. Album ASA yang dikemas dengan nuansa chill-out membawa saya duduk di sebuah lounge minimalis. Gaun putih tipis saya melambai. Lipstik merah menyala saya tersamarkan oleh remang lampu di dalamnya. Kemudian duduk di kursi ujung bar, menyisakan kursi kosong satu persis di sebelah saya seperti menunggu seseorang.

Pelayan kemudian datang membawakan sebundel menu. Mata saya lalu tertumbuk pada sederetan menu minuman yang tersedia: dalam kelembutan pagi, sudikah kamu, alam maya, tentang kita, melati suci, rintik hujan, terbunuh sepi, damai.” Persis di bawah nama minuman-minuman itu juga terdapat sebuah penjelasan singkat mengenai perasaan seperti yang nantinya akan datang ketika menyicip minumannya—meminumnya sampai habis.

Tentu saya penasaran. Saya memanggil pelayan lalu mulai memesan semua menu minuman tersebut. Pelayan itu tampak kaget. Sebelum akhirnya patuh, kembali ke balik meja bar untuk mengerjakan pesanan saya.


Kursi di sebelah saya masih tetap kosong. Lounge itu juga tidak terlalu penuh. Saya melirik handphone yang sedari tadi menyala, tidak ada tanda-tanda sms atau telepon. Mungkin dia terlambat.  Pikir saya. Padahal saya sendiri benci menunggu. Tapi sudahlah, bukankah itulah prinsip waktu. Ketika kita “menunggu” kita akan lebih menghargai makna “kedatangan.”

Pelayan itu telah kembali. Kini di hadapan saya sudah hadir delapan racikan minuman dengan warna-warni yang berbeda. Ia lalu menjelaskan mereka satu per satu. Saya tergoda untuk langsung menyicip melati suci, sekilas ujung lidah saya tidak merasa apa-apa. Tetapi ternyata ada gairah tersembunyi menyembul pada pertengahan dan akhir. Dengan rasa yang berubah-ubah. Seperti magical fruits, mengubah lidah saya yang tadinya asam menjadi manis. 

Saya lalu mencoba rintik hujan meneguknya dan merasakan cairannya turun ke dalam tenggorokan. Persis seperti meminum hujan, ada kesan tegas lalu dingin yang terpelanting kemudian menyisa sunyi panjang di akhir. 

terbunuh sepi, pun tak luput saya icip. Rasanya begitu misterius. Seperti langkah-langkah orang di ujung jalan gelap, sepi, mencari cahaya. Mencari peluk untuk pulang. Dan sepanjang jalan itu, ia menyimpan tanya. Tanya yang dingin. Yang belum tentu ada jawaban. Selesai menyicipnya, saya bergidik.

dalam kelembutan pagi. Begitu lembut.  Mengalir Seperti sinar kuning yang merambat ke sulur-sulur daun. Menyibak gordenmu perlahan. Membangunkanmu dengan rindu. sudikah kamu pun meninggalkan rasa tanya yang tidak terlalu tergesa. alam maya seperti membawamu terbang ke awan. Mengapung di dalam birunya. Begitu ringan. tentang kita, ada kesan waas ketika menyicipnya.  Kenangan lama yang hampir terlupa—diingatkan kembali. Lalu damai, seperti judulnya, ia menyisa damai. Seperti angin sepoi yang menyapu muka. Begitu tenang.

Saya menghabiskan semua minuman itu  dengan rakus. Kursi sebelah saya masih saja kosong. Ia tidak  datang. Kali ini saya tidak lagi menangis seperti waktu itu, ketika ia tidak datang. Mungkin belum waktunya, atau memang waktunya belum memilih saya.

Di luar lounge, tampak gerimis kecil turun perlahanan. Saya masih betah duduk di kursi itu—lebih tepatnya tidak mau pulang. Ingin terus menyicip ASA—yang adalah racikan istimewa disuguhkan oleh Paquita. Tidak biasa. Tidak juga sederhana. Kemewahannya justru tersembunyi ketika kau meminumnya perlahan, satu demi satu.

Mengulanginya kembali, lalu mabuk.

Dago 349, 23 July 2011. 12:57

Bercinta di Bawah Bulan







Bercinta di Bawah Bulan. Ketika membaca judul saya bertanya “kenapa bukan Bercinta di Bawah Bintang” atau “Bercinta di Bawah Langit” atau “Bercinta di Bawah Mars” –sekalian, supaya menegaskan bahwa benda langit lainnya juga memiliki keistimewaan tersendiri. Tapi bulan memang istimewa. Sinarnya seperti punya pesona, mampu membawa seorang penyair maupun penulis untuk menulis sesuatu yang indah tentangnya.


Salah satunya adalah Kurnia Effendi. Saya tidak mengenalnya secara personal. Bahkan belum bertemu muka dengan muka. Tapi salah satu karyanya yaitu “Bercinta di Bawah Bulan” membawa saya hanyut. Permainan kata yang tidak gampang ditebak. Membuat saya harus membaca berulang kali, baru kemudian saya mengerti jalan ceritanya secara utuh. Agak sulit menemukan yang seperti dia. Beberapa penulis yang saya kenal—dan saya juga membaca karya mereka. Terkadang hanya perlu sekali membaca sebuah halaman, tanpa perlu diulang, dan kesimpulannya saya akan mengerti.


Tapi tidak dengan tulisan Kef pada buku ini, begitu ia biasa di sapa. Ada misteri yang perlu dipecahkan pada setiap permainan katanya. Ada jawaban terselubung yang hendak ia sampaikan, membawa saya merenung sebentar tentang apa jawaban itu. Lalu ada kehilangan. Setelah judul yang mistis, Kef seperti menuntun saya untuk memaknai kata “kehilangan” itu sendiri. Pada kata “Kehilangan” ada ketakutan yang berkepanjangan. Atau ada rindu yang berkepanjangan. Kehilangan adalah perasaan yang pada akhirnya menimbulkan was-was.


Pada Bercinta di Bawah Bulan Kef seperti menata “kehilangan” dengan begitu rupa. Tidak ada kecurigaan pembaca. Dan pada akhir sebuah cerita hilang sudah. Kef seperti ingin mengatakan bahwa “kehilangan” itu sendiri adalah sebuah perjalanan. Ia bukan sesuatu yang datang ujug-ujug. Ia adalah bagian dari manusia. Dan sudah selayaknya manusia menganggapnya sebagai suatu proses yang alamiah.


Sampai di sini saya berpikir, saya pernah menulis seperti ini: kehilangan adalah perjalanan untuk menemukan. Dan menemukan adalah perjalanan untuk kehilangan. Seperti sinar bulan. Ketika menemukannya kita pun harus siap untuk kehilangannya. Begitupun ketika kita kehilangannya, kita harus siap-siap untuk menemukannya.


Berarti tidak ada yang baru di muka bumi, ini hanya kesimpulan sementara saya. Untuk mengetahui jawabannya, mungkin kamu perlu membaca buku ini. Kumpulan cerpen yang akan membuatmu “kehilangan” kemudian “menemukan.”

Dago 349. 24 July 2011. 17:37—menyelesaikannya ditemani Jacob, sebelum akhirnya ia pergi bermain dengan Hunter dan Brino.  



Saturday, July 16, 2011

Hujan yang Masih Bunyi


Bermimpi tentangmu lagi—tentang mukamu yang sedang kusut. Tentang rambutmu yang acak-acakan. Tentang senyummu yang asin. Tentang bibirmu yang mengekerut—yang aku tahu rasanya.  Kau tidak bayak berubah. Masih percaya bahwa hujan punya nyawa. Masih suka berjalan kaki sendirian. Yang cemburunya masih suka menyala. Lenganmu masih berisi seperti dulu.

Di situ biasanya aku suka dipeluk. Karena aku percaya bahwa pelukanmu selalu menyembuhkanku. Bahkan luka selama bertahun-tahun pun pulih. Kau akan memelukku lama, aku akan berselonjor dengan celana pendek favoritku. Kau akan mengelus-elus punggungku. Dan aku selalu suka—kau pun melakukan hal yang sama di mimpiku.

“Aku kangen.”

Hanya itu yang terdengar di sela-sela pelukanmu. Aku tidak membalas ucapanmu. Aku hanya memejamkan mataku. Mendengarkan bunyi detak jatungku dan jantungmu yang menyatu. Desahan nafas yang naik turun milik kita berdua membumbung pelan di udara. Terasa sesak. Apakah karena ruangan yang sempit. Atau karena hati kita yang sama-sama penuh. Hendak mencurahkan sesuatu.

Sementara di luar hujan. Kau selalu percaya hujan punya nyawa. Bahkan bisa bicara. Waktu itu aku pernah iseng bertanya “apa hujan juga pernah pilek dan terbatuk-batuk?” kau tertawa, kemudian menjawab “tentu saja. Tetapi mereka rentan sakit. Hujan tahu bagaimana melindungi dirinya sendiri supaya tidak kedinginan.”


Aku tak paham maksud jawabanmu. Tapi itulah dirimu, manusia yang penuh dengan keindahan. Termasuk pemikiran-pemikiranmu yang absurd yang bikin aku jatuh cinta.

Masih hanyut di dalam pelukan. Kali ini ada sesuatu yang basah. Hangat yang meluruh jatuh ke bahu. Mungkin itu air mata. Air mata siapa? Aku tak tahu. Demi Tuhan! kalau itu adalah air mataku, aku hendak mengutuk diriku sendiri dalam hati. Aku sudah berjanji tidak akan menangis. Apalagi di depanmu, karena aku punya gengsi. Aku punya harga diri.

Tapi bahkan aku sendiri tidak berani membuka mataku. Aku takut melihat air mataku sendiri. Kau mengerti perasaanku, sesaat pelukanmu bertambah erat. Aku mulai gemetar. Tubuhku terguncang-guncang perlahan. Mungkin karena air mata yang keluar semakin banyak. Di luar hujan berbunyi. Aku hendak lari ke hujan saja, supaya kau tidak melihat mataku yang basah pikirku. Tidak bisa. Pelukanmu masih sangat erat. Aku masih ingin hanyut.

Aku mencoba berkata-kata. Tak ada satupun kata yang keluar dari bibirku. Aku mencoba membuka mulutku, tapi tak bisa. Seperti ada gembok besar di depan mulutku. Terkunci. Di dalam keadaan seperti ini, aku ingin menciummu. Mungkin ini satu-satunya jalan pikirku. Aku menarik tubuhku pelan dari pelukanmu. Pelan sekali, tak ingin jauh dari hangat tubuh. Dan nafasmu yang masih naik turun.


Mencium bibirku sendiri.

Pantulan cermin di depanku silau. Tapi aku masih bisa melihat jelas. Ada kau di sana—mukamu yang kusut, rambutmu yang acak-acakan. Di luar hujan masih bunyi.

Dago 349. 16 July 2011. 09:28


Thursday, July 14, 2011

Risiko





Tak ada yang mudah. Setiap perjalanan yang dilalui penuh dengan risiko. Seperti ketika kau tidak membawa payung, mendung hebat, hujan lebat. Kau akan tertahan di kantormu sementara. Risiko tidak dapat disalahkan. Risiko mengikutimu. Ia seperti bayanganmu sendiri.

Ia berjalan kemanapun kau pergi. Kemana hatimu singgah. Walaupun terkadang itu adalah pekerjaan iseng. Risiko tidak pernah iseng menjadi risiko. Ia akan melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati. Patah hati mungkin adalah risiko ketika mencintai seseorang terlalu. Atau bisa jadi hanya kejadian sederhana, patah hati hanya karena diturunkan dari angkot dan belum sampai ke tempat tujuan.

Tapi pernahkah kau berpikir mencintai tanpa risiko? Jarang sekali. Tapi terjadi. Itu adalah cinta anak-anak. Kau bisa berangkat ke sekolah terburu-buru bawa bekal roti isi dua. Untukmu dan untuknya. Meminjam runcing dan pensil miliknya, sesering mungkin, punyamu sendiri disimpan dalam-dalam di tas. Pura-pura tidak bawa. Bermain dengannya hanya memakai kolor dan kaus dalam tanpa takut diajak ke tempat tidur.

Tapi bahkan mencintai seperti anak kecil pun penuh risiko. Suatu ketika kau harus pindah mengikuti orang tuamu, meninggalkannya. Suatu ketika, kau tidak boleh lagi main ke rumahnya karena mamanya takut, kalian akan main bakar-bakaran. Suatu ketika dia lupa membawa pensilnya dan kau tak bisa meminjamnya lagi.


Bahkan pada cinta yang paling polos sekalipun risiko mengikuti.

Kejam. Tak ada yang sederhana. Tak ada yang hanya polos-polos saja-- mencintai seperti anak kecil, menangis hari ini, tetapi besok bermain lalu jatuh cinta lagi.

Tanpa dendam.

Ruang Siaran. 14 Juli 2011. 17:35 

Wednesday, July 13, 2011

Zebra Cross



weheartit


Jalan kaki adalah sebuah hal kontemplatif bagi saya. Selain duduk di angkot atau duduk di kloset kamar mandi. Risiko yang sering saya alami ketika jalan kaki adalah bertemu dengan orang gila dan yang paling sering adalah disuit-suitin. Untuk alasan yang terakhir, saya rasa mereka pasti rugi jika tidak melakukannya. Trotoar pas-pasan yang saya pakai pun, masih layak.

Sejauh ini, saya masih cukup aman-aman saja ketika berjalan kaki di wilayah Bandung. Dan belum berniat untuk jalan kaki dari Bandung – Jakarta, seperti yang dilakukan oleh teman saya, seorang musisi keren. Jangan tanya, pada akhirnya teman saya tidak bisa melanjutkan perjalanannya karena harus berurusan dengan jasa marga.

Sekali lagi jalan kaki, dimanapun saya melakukannya. Bagi saya itu adalah urusan kontemplatif. Tidak hanya ke dalam tapi juga ke luar. Bukan hanya perkara pencapaian melainkan bagaimana mencapainya. Dalam mencapai sesuatu banyak jeda, banyak kerikil, harus menyeberang jalan beberapa kali, mengatur langkah hendak stabil atau lebih cepat, mengatur nafas jangan sampai ngos-ngosan. Ada perhitungan. Dan butuh kecerdasan.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya ketika jalan kaki yaitu zebra cross. Ia bukan hanya benda mati, letaknya punya fungsi yang tidak biasa bagi saya. Ada kemenangan tersendiri untuk seorang pejalan kaki ketika melewatinya. Ada kebanggaan yang terkadang menyembul dari hati saya, keluar begitu saja ketika menemukan zebra cross.

Zebra cross adalah perpindahan. Sekaligus tempat bertumpunya rasa bangga. Ketika melewatinya, saya selalu merasa dagu saya sedikit terangkat. Mata ke depan. Langkah kaki akan sedikit diperlambat. Mungkin di satu sisi menjadi perhatian itu kemewahan. Tetapi di sisi lain, juga membiarkan orang lain tahu bahwa sedang ada pencapaian yang terjadi walaupun pelan dan sedikit terlambat.

Suatu hari mungkin kamu akan menemukan orang gila, yang sedang berjalan kaki. Anehnya, kamu akan melihat bahwa orang gila itu pun akan terus berpindah tempat. Setiap perpindahan butuh perhitungan. Setiap perhitungan butuh kecerdasan. Maka konsekuensi logis dari kalimat ini adalah: bahkan orang gila pun punya otak dan cerdas.

Dago 349. 13 July 2011. 10:10

Monday, July 11, 2011

Batas






Ia bukan jarak. 

Ia hanya seperti kata cukup. Mengisyaratkan sesuatu hanya “sampai di sini.” Seperti keset di depan pintu, yang merupakan tanda bahwa sebentar lagi kau akan memasuki rumah. Seperti Bruno dan Hunter yang hanya boleh bermain di depan pintu, tidak di bawah kasur. Seperti Handphone yang dimatikan, ketika ingin menikmati waktu sendiri untuk membaca buku. Seperti tepi pantai dan laut lepas.

Terkadang ia seperti spasi, seperti koma, seperti tanda tanya, atau bisa jadi adalah titik. Tergantung kau akan sampai pada bagian yang mana. Mungkin saat ini kita sedang berada pada sebuah batas. Terdapat garis yang kita buat untuk diri sendiri. Ada kata “cukup” yang disodorkan ke permukaan. Batas seperti mengingatkan bahwa, ada masa kita pernah bersama. Supaya kita tidak lupa bahwa kita pernah mencinta tanpa “batas” itu.

Kini tak lagi sama. 

Kita masih saling melihat, tapi tak akan bersentuhan. Kita masih saling menginginkan, tapi tak ada lagi usaha sama seperti waktu itu. Kita masih berdiri di tempat yang sama, tapi hanya melambai dari kejauhan. Kita masih melewati tempat yang sama, tapi hanya bau parfummu yang tercium.

Ia mungkin pemisah. Yang menjalankan tanggungjawabnya sekaligus sebagai pelerai. Mengajarkan kita merenung dan mengambil waktu. Ia bukan jarak, juga bukan sebagai pelarian. Hanya sebagai satu dunia, hanya cukup, hanya sampai di sini, tidak bisa lagi, tidak sanggup lagi, tidak mampu. Beberapa bahkan akan diiringi oleh kata “Tidak.”

Ia adalah “antara” yang membuat kau dan aku akan sama-sama melihat pada hitam mata kita, lalu berucap “sekian dan terima kasih.”

Dago 349. 7 July 2011. 13:02 

Wednesday, July 6, 2011

Mengenal Larasati




Larasati hari itu tampak cantik. Ia hanya mengenakan atasan longgar berwarna gelap dengan rok panjang sebetis, rambutnya dibiarkan tergerai sebahu. Ia terlihat sedang duduk di kedai. Tampak dihadapannya cangkir teh panas yang masih mengepul.

Aku tergesa-gesa memasuki kedai itu. Kebaya dan konde yang sedari tadi menghiasi tubuhku pun belum sempat dilepas. Aku menghampirinya, ia lalu menyodorkan sebungkus rokok.

“Mau?”

“Tidak. Aku tidak merokok.” Kataku membalas tawarannya. Ia tampak cantik di hari itu, tampak beberapa helai kelabu menghiasi rambutnya. Tapi tentu saja itu tidak menyiratkan kecantikannya.

“Habis dari mana, kok berkebaya segala?” ia bertanya sambil menyulutkan rokoknya perlahan.

“Eh, aku habis dari nikahan teman. Kebetulan mereka pakai adat jawa. Aku hanya ingin menghormati.”

“Oh. Lalu apa yang hendak kamu ketahui, The.”

“Hm, begini.. aku baca mengenai kisahmu. Aku paham kalau kamu adalah perempuan yang pemberani. Aku hanya penasaran ingin tahu, apa yang membuatmu seberani itu?”

“Berani? Sejujurnya bukan hanya itu. Aku hanya tidak ingin melarikan diri. Banyak orang menyerah lalu mencoba melarikan diri. Ketika lari itu adalah kekalahan. Dan aku tidak mau seperti mereka.”

“Kamu hanya perempuan, kamu tak punya senjata pula. Lalu dengan apa kamu berjuang?”

“Keyakinan” jawabnya dengan mata menyala-nyala. Ia menatapku lama, menghisap rokoknya dalam-dalam lalu meneruskan “... perjuangan terkadang hanya butuh ini. Sebutlah keyakinan adalah senjata paling ampuh. Tapi kebayakan orang lupa. Mereka memilih fokus kepada sesuatu yang kelihatan ketimbang yang tidak kelihatan itu sendiri.”

Aku mengangguk perlahan. Diam-diam aku salut dengan perempuan yang ada di hadapanku ini. Secara tidak langsung ia sedang mengajarkan sesuatu kepadaku. Aku mencoba menerobos matanya yang hitam, mencari-cari adakah ketakutan itu di sana. Entahlah. Tidak kutemukan.

Dengan pelan aku bertanya “pernahkah kamu takut, Ara?”

Ia menunduk. Memainkan jari-jari di cangkir mungil yang ada dihadapannya. Menghembuskan nafas perlahan lalu menjawab “Tidak takut itu munafik. Jangan pernah biarkan dirimu dikuasai oleh kemunafikan. Lebih baik berkata jujur. Dan jika kamu ingin dengar, aku takut. Tapi  ketakutan itu sendiri hanya perasaan pada awalnya saja. Seperti permulaan, kamu akan segera melewatinya.”

Dalam hati aku merenung. Menelan perlahan setiap kalimat yang keluar dari bibirnya yang tipis. Rasanya aku sendiri perlu membaca ulang setiap kata-kata yang aku dengar di hari ini. Tidak pernah cukup untuk mengerti, merasakan, mendalami pengalaman Ara. Tidak pernah cukup untuk mengerti arti “Kemenangan dari Merah Putih” itu sendiri. Semua butuh waktu, semua patut disyukuri.

Ya, kata syukur. Aku butuh itu. Ara sendiri pun butuh itu.

“Satu lagi Ara, apa arti perjuangan bagimu?”

“Aku setuju dengan Pram dalam hal ini: Kalau mati, dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita. Ada keangkuhan dalam kalimat-kalimat itu. Untuk berjuang diperlukan keangkuhan. Rasa bangga yang tinggi terhadap kepemilikan sendiri. Jika itu adalah milikmu, kamu harus merebutnya. Merebutnya dengan dendam. Merebutnya dengan angkuh. Itulah berjuang. Tapi tidak hanya sebatas itu, Merah Putih bukan hanya soal bendera yang berkibar. Ia nyawa yang tumbuh yang setiap detik harus diperjuangkan.”

“Terima kasih Ara. Aku belajar banyak.”

Ia hanya membalasku dengan senyuman, senyuman paling manis dari seorang pejuang. Perempuan.


Aku keluar dari kedai itu, kebaya dan kondeku masih di kepala. Berjalan pelan di atas trotoar kecil. Toko-toko tua berjejer. Bendera merah putih menyembul dari salah satu etalase toko. Dalam hati aku bertanya, loh ini kan bukan tanggal 17 Agustus? Kenapa musti ada bendera? 

Merah Putih bukan hanya soal bendera yang berkibar. Ia nyawa yang tumbuh yang setiap detik harus diperjuangkan. Sayup-sayup kata-kata Ara terngiang-ngiang..

Mungkinkah perjuangan itu sudah selesai? Atau justru saat ini, kita sedang menghadapi musuh yang lebih hebat lagi.

Dago 349. 6 July 2011. 13:40

*semacam review. Tulisan ini tidak ada bandingannya dengan karya-karya Pram yang begitu agung.

Tuesday, July 5, 2011

Langit Biru





ketika jam mati
aku ingin menciummu dengan bibir berpasir
di langit biru berkelopak
ditemani kucing berbulu mata panjang
anjing bertelinga besar.
tak ada detik sok tahu.