Wednesday, October 26, 2011

Hanya Titipan


Yang terjadi adalah Annelies begitu menginginkan Minke. Ia sampai jatuh sakit, supaya Minke datang ke rumah. Bukan hanya itu Mama juga mengatur segalanya, supaya keinginan anaknya menjadi kenyataan. Supaya hati dan kerinduan anaknya terpenuhi.



Pernahkah kau menginginkan seseorang—tapi tidak ingin memilikinya?

Bisa jadi dia adalah orang yang begitu membuatmu rindu. Kau ingin dia ada untuk malam-malammu, tapi hanya sampai disitu. Kau tidak menginginkannya tinggal lama-lama.

Ibarat pintu hati : bahkan kau tidak memperbolehkan dia masuk. Menjadi milikmu. Sampai di sini, ada satu kebingungan yang muncul : baikkah jika cinta dimiliki? Atau siapa yang berhak untuk memiliki cinta. Bukankah cinta itu menjadi hak semua orang untuk merasa—bukan untuk memiliknya.

Bukankah cinta itu menjadi hak semua orang untuk merasa—bukan untuk memiliknya.

Karena selebihnya cinta terbang bebas. Dan akan mampir pada hati—siapapun sesuka hatinya. Cinta datang karena ia sendiri menginginkannya. Bukan keinginan hati.

Jadi hati tidak berhak untuk memilikinya.

Sama halnya ketika, kau mungkin menginginkan seseorang. Tapi tidak untuk memilikinya. Bukan karena kau tidak berhak—hanya saja di dunia ini tidak ada siapapun yang bisa memiliki siapapun—melainkan hanya titipan.  


Tuesday, October 25, 2011

Seperti Balon


Seperti bosan, terkadang warna-warni balon pun tidak menarik perhatianmu. Padahal setelanmu hari itu adalah rok renda putih, dengan keranjang di sisi tangan kirimu. Hendak piknik membawa balon-balon.

Bercinta. 

Seperti katamu selalu, alam terbuka seperti perempuan telanjang, begitu sexy. Membuatmu selalu ingin berlari dengan kaki telanjang, di bawah ranting, di antara hujan, pada keramaian burung.

Hari itu, langit beku. Hujan berhenti. Tak ada sesuatupun yang hangat yang bisa kau temukan seperti biasa :  matanya. Mata yang hangat, dengan bulu-bulu mata yang lentik. Yang selalu kau tunggu-tunggu, menghampiri dengan tubuh hangat : peluk.

Entah mengapa kini, keranjang berisi balon-balon warna di sisi tanganmu itu seperti melompat kegerahan ingin keluar. Mereka sesak nafas. Hanya ingin terbang. Karena hidup mereka bukan di dalam keranjang.

Antara melepaskan dan tidak. Kebingungan.

Kamu teringat nasihat seseorang di masa lalu : “Cinta seperti balon. Dipegang erat : DAR!”






Thursday, October 13, 2011

#AMBONTRIP #AMBONJAZZ #4

donat dan kue kering kenari


ikan goreng, yang ini rasanya beda sob! :)

bersama SABA team






pantai Liang




pintu kota. *ket: 6 foto terakhir gue culik dari fb.




#AMBONTRIP #AMBONJAZZ #3

depan rumah. hanya sempat nginep semalam, bangun pagi sarapan dengan ibu dan lihat ayah mengurus ayam-ayamnya




depan rumah dan gereja kezia

Marthin Elwarin, nama Opa. sempet ke Kudamati lihat “Rumah Tua” istilah yang gue pakai kepada Rumah masa kecil sampai remaja gue. rumah ini terlalu banyak cerita. terlalu banyak kenangan. gue bersyukur punya masa kecil yang indah dan menyenangkan di rumah ini :)




#AMBONTRIP #AMBONJAZZ #2

menuju “Dancing On The Bay” di Halong


senja dari pelabuhan Ferry Halong


siap-siap untuk “Dancing On The Bay”


pemain musik siap-siap badonci

dari atas kapal ferry


semua menari dan badonci. Dancing On The Bay adalah acara penyambutan kepada semua participant Ambon Jazz Plus Festival. acara ini diselenggarakan di atas kapal ferry, yang membawa seluruh participant menikmati teluk Ambon di waktu malam





#AMBONTRIP #AMBONJAZZ #1

tiket


oret-oret di pesawat 


masih oret-oret di pesawat


the sky



di depan, yang tas coklat itu Sandhy Sondoro :D



oh hometown






Tuesday, October 11, 2011

My Room #2

mari menulis di dinding dengan kapur warna-warni. semua qoutes keren yang gue nemu atau yang gue ciptain sendiri

books


gue kecil. sekitar umur lima, dipotret oleh Om Tris


kami semua anak perempuan, dengan ayah dan ibu keren


gue dengan nail polish


ada foto Hanna, Eldina, dua ponakan gue. yang kertas coklat itu puisi dari pendengar gue pas gue ulangtahun


halaman depan kamar gue. disana kupukupu datang pergi dan Jacob suka bermain

My Room #1




meja dengan pernakperniknya


dinding dengan gambar-gambar Hanna


lampion oranye


sendal tidur dari Ririn


sepatu oranye dari June, my sister


 surat dari Ibu


tulisan tionghoa untuk Theoresia. artinya : Oranye, sore yang bagus banget. Nggak heran, kenapa gue suka sore dan oranye. itu ada di nama gue. 



Sunday, October 2, 2011

Heart In Waiting


Cinta indah pada waktunya, gue bakal nunggu waktu yang tepat itu. Paling tidak, ini keyakinan gue.

Ini status tweet.

Ini curcol. Yes! norak?

Tidak.

Ini yang saya rasakan. Pernah dengar istilah: evaluasi hati? mungkin kamu pernah dengar tapi belum pernah coba untuk melakukannya. “Evaluasi Hati” adalah istilah yang biasanya saya gunakan ketika, saya hanya ingin sendiri “mendengarkan” hati saya.

Tetapi sebelum saya bisa “mendengarkan” hati saya. Saya mengobrol dengan beberapa orang yang sekiranya punya pemikiran dan masukan yang bagus untuk masalah yang sedang saya hadapi. Selanjutnya yang saya lakukan adalah saya akan duduk. Tenang. Mendengarkan hati saya.

Hati tidak bisa dibohongi. Ia seperti seorang sahabat, yang tidak hanya akan mendengarkan ceritamu. Ia mampu bicara. Ia mampu berbisik tentang nasihat yang ia rasa paling baik untukmu. Ia tidak akan membiarkan kamu jatuh. Ia tidak akan membiarkanmu melakukan kesalahan.

Ia begitu sederhana. Yang perlu saya dan kamu lakukan adalah mendengarkannya.

Untuk kasus tertentu—saya memilih untuk mendengarkannya. Walaupun dalam banyak hal, saya ini anak bandel dan suka semaunya sendiri. Tapi tidak kali ini. Kali ini saya musti taat. Dan mau mengalah untuk mendengarkan hati saya yang sebenarnya.

Sekitar setahun yang lalu bahkan lebih, saya pernah menulis begini : “kenapa musti takut patah hati? karena patah hati sebenarnya mengajarkan kita supaya lebih jago membalut.” Tetapi waktu itu, mungkin di hati saya masih terlalu sedikit borok. Belum terlalu banyak. Saya masih sanggup untuk membalutnya.

Tapi apa yang akan kamu lakukan jika borok di hatimu sudah begitu banyak? dan kali ini kamu kelabakan.

Saran saya : berhentilah sakiti hatimu sendiri.

Cobalah sekali-kali ajak hatimu mengobrol dan dengarkanlah dia.

Lebih baik menunggu—waktu yang tepat—supaya bertemu hati yang tepat.

Sampai di sini, akhirnya saya mulai mengerti sedikit tentang kalimat “jagalah hatimu dengan segala kewasapadaan, karena darisitulah terpancar kehidupan.”

Saya dan kamu punya sebuah tugas untuk menjaga hati kita—masing-masing. Bukan malah menitipkannya sembarangan kepada orang lain.

Dago 349. 2 Okt 2011. 00:47.—terimakasih kepada Sara Bareilles dengan Gravity-nya. 

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...