Monday, May 2, 2011

Sesuatu yang Baru. Rasanya Seperti Kupu-Kupu




Saya senang kupu-kupu—dan ingin membuat tattoo sebentar lagi, tapi bukan tattoo kupu kupu. Kalau toh mendapat ijin ayah untuk yang satu ini—oke bicara soal kupu kupu, saya selalu punya pengalaman menarik dengan mereka, saya ingat dulu sewaktu saya masih di kos yang lama Dago 350, saya suka sekali berlama-lama duduk di teras belakang dan menunggu mereka datang. Beberapa tulisan saya juga terinspirasi dari kupu kupu.

Sejak saya tinggal di Dago 349, saya juga mendapat halaman yang cukup luas persis di depan kamar. Dan biasanya mereka suka berterbangan di sana. Ada yang warna putih, kuning dengan bintik-bintik hitam—dan beberapa warna lain. Yang lucu adalah kupu-kupu ini juga senang dengan saya, setiap mereka datang, mereka suka bercakap-cakap—seperti membawa pesan.

Kupu kupu itu semacam penanda—ada mitos yang bilang kalau kupu kupu masuk rumah ada tamu yang hendak datang. Atau istilah kupu kupu di perut, geli-geli perut yang biasanya dipakai untuk orang-orang yang sedang jatuh cinta. Tapi kali ini tidak ada cinta—belum ada cinta. Hanya saja kupu kupu yang membawa pesan tertentu—entah apa.

Tadi malam, saya bertemu dengan Vecky dan Joshua. Vecky adalah teman SMP saya, lebih dari sebelas tahun kami tidak bertemu. Sedangkan Joshua adalah temannya Vecky, mereka berdua datang ke Bandung untuk menonton Kampoeng Jazz di Unpad. Selesai makan bebek betutu di Aji Anom, kami menuju Kopi Ireng atas usulan Ariel, salah seorang teman yang ada juga malam itu.

Kopi Ireng itu tempat yang romantis—di kejauhan terlihat lampu-lampu malam. Dan pelayannya pakai topi lucu. Vecky dan Joshua memesan zig-zag cappucino, Ariel pesan—Hm. Saya lupa. Sedangkan saya sendiri pesan caramel machiato. Sepanjang malam itu Vecky tidak terlalu banyak bicara. Joshua cerewet dan ... sedikit nyebelin. Ariel lebih pendiam lagi. Dan saya banyak tertawa—tertawa kencang-kencang.

Obrolan malam itu begitu menyenangkan. Banyak kebetulan-kebetulan lucu yang hadir di malam itu, begitu banyak kepingan kebetulan yang hadir di kepala saya, masih saya kumpulkan sendiri, sampai saya menulis ini—begitu misterius. Mungkin ini masih ada hubungannya dengan lanjutan keyakinan. Yang saya tulis beberapa hari lalu.  

Seperti mengirimkan pesan. Malam itu di Kopi Ireng, ketika kopi saya di hadirkan di cangkir berwarna oranye. Dengan cream puff berbentuk hati di atasnya. Ada seekor kupu  kupu coklat yang tiba-tiba datang—entah darimana ke meja kami. Ia terbang di ujung meja di atas kepala Ariel. Lalu berputar-putar sebentar.

Momen yang begitu sebentar. Tidak ada yang memperhatikannya. Hanya saya sendiri. Ia membawa pesan kepada saya—pesan yang mungkin kelak akan saya mengerti. Kupu kupu itu bilang “Hi..” begitu kecil, hanya saya saja yang bisa mendengar.  

Saya hendak membalas “Hi..” kembali. Tetapi terlalu terlambat. Ia sudah pergi. Mungkin menjadi salah satu lampu-lampu malam di kejauhan sana—entahlah. Kebetulan lainnya, ini tanggal satu. Tanggal dimana biasanya, kita memulai sesuatu yang baru.

Ya.  Sesuatu yang baru.

Dago 349, 1 Mei 2011. 12:50. 

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...