Friday, October 29, 2010

Kuning

Beberapa hari yang lalu saya duduk di angkot dengan perasaan campur aduk. Saya selalu percaya angkot itu adalah telinga Tuhan. TelingaNya bisa mendengar bahkan ketika kau diam. Entahlah, Tuhan itu begitu canggih. 

Dengan perasaan campur aduk dan air mata di pelupuk. Saya mau dipeluk. Saya mau dinyanyikan sesuatu. Saya mau ada yang menyanyikan sesuatu di telinga saya. Mungkin dengan begitu hati saya lebih tenang. 

Tidak ada seorangpun. Saya di angkot itu seorang diri. Saya duduk di pojokan memandang sambil lalu keluar. Hanya ada pohon-pohon bergoyang. Mereka seperti berusaha menghibur. Ada debu di kaca angkot, hendak melucu. 

Bibir saya tidak bergerak. 

Sampai akhirnya dari arah tape angkot. Ada intro. Intro lagu ini. Tuhan betul-betul mengirimkan seorang pria ganteng. Musisi sexy. Chris Martin. Tidak peduli ia sudah punya istri. Untuk bernyanyi kepada saya. 

Chris Martin duduk di sebelah saya. Jeansnya belel. Sepatunya agak kecoklatan. Memakai jaket kulit hitam. Mulut saya menganga tidak percaya. Pelan-pelan air mata saya jatuh. Masih tetap tidak percaya. 

D’you know. You know I love you so. You Know I love you so.

Chris terus bernyanyi. “It’s true. Look how they shine for you. Look how they shine for you. Look how they shine for you.” Tak ada bintang di langit Chris, hampir saja kalimat itu keluar dari mulut saya. Tetapi genggaman Chris terlalu erat. Membuat saya tak mampu berkata-kata. Diam-diam Chris Marthin memeluk saya dari belakang. 

Ia berbisik lagi di telinga saya. “Look at the stars. Look how they shine for you. In everything you do.” Terngiang-ngiang terus memenuhi angkot. 

Sejenak ada kelip bintang di matanya. Sinarnya begitu terang. Menembus hati saya yang sedang gelap.  Membuatnya kuning, sepanjang hari itu. Bahkan kalau Chris Martin tidak percaya Tuhan itu ada. Saya percaya Tuhan ada di dalam Chris Martin.



Terima kasih banyak Chris. Sun sayang untuk Gwyneth dan Apple.

Saya bahkan tak sempat mengucapkan itu.

Thursday, October 28, 2010

Gadis Hujan



Untuk kau yang sedang berlari di atas awan. Berlari dengan kaki-kaki mungilmu. Bersembunyi di balik gelapnya. Kau, gadis hujan. Kau yang rambutnya berponi dengan mata elang yang selalu melihatku tajam.

Kau yang halus seperti angin. Tidak terlihat tetapi selalu menusuk. Aku mencintaimu, gadis hujan. Tak usah dengarkan mereka. Mereka tidak mengerti cinta kita. Mereka itu dungu, selalu protes dengan kasih.

Bukankah, kasih selalu memberi.

Kini, gadis hujan, kau yang aku cintai diam-diam. Aku berikan cintaku padamu, kau berikan air matamu. Dan lihatlah, cinta kita tumbuh dengan subur bukan?

Ah, kau gadis hujan. Harusnya kita menikah. Aku suka pesta petang hari, di tepi pematang sawah. Di antara bulir-bulir padi. Dengan berkaki telanjang, seharusnya disitulah kita menyebutkan janji suci kita.

Setelah itu kita bulan madu. Di bawah laut yang paling biru. Kita belajar melayang di sana. Berteman dengan ubur-ubur, bercerita dan tertawa. Lalu kita terbang bersama burung-burung berbentuk V yang hendak pulang.

Hei, kita bisa pulang ke sangkar mereka. Dan bertelur di sana.

Telur kita lalu menjadi ilalang. Terbang.

Wednesday, October 27, 2010

Lagi

Tidak bisa tidur. Lalu tanganku menuju krusor dan mulai mengetik. Aku ingat dirimu, tadi ketika sedang di jalan. Tiba-tiba. Aku tidak suka dengan ingatan yang tiba-tiba. Raut mukamu sangat jelas. Tatapan matamu. 

Lalu ciuman itu.

Aku membayangkannya, sambil memejamkan mataku sebentar. Kau begitu dekat. Wangimu begitu lekat. Aku selalu menyukai parfummu. Parfum itu pernah menghantuiku di kamar beberapa waktu yang lalu.

Kata beberapa teman, itu artinya kau sedang kangen. Kangen padaku? Benarkah?

Lalu kemudian itu hanya menjadi cerita di hatiku. Kau tahu aku tidak terlalu suka membagi-bagi cerita cintaku kepada siapapun. Kau tahu kan aku selalu menyimpan ceritaku rapat-rapat.

Kalau cerita cinta itu ibarat kue, aku akan memakannya sendiri. Sembunyi-sembunyi. Aku akan menggitnya pelan-pelan, merasakan kenyalnya di sekitar gigiku, menelannya. Merasakan ia begitu lembut turun ke tenggorakanmu. Diam di dalam ususku. 

Terjerembab. Lama di sana. Cerita cintaku tidak akan keluar.

Kau tahu, berapa lama aku mencintaimu. Dua puluh empat jam. Detik demi detik. Dari hujan ke pelangi. Pelangi ke hujan lagi. Tidak atau lebih tepatnya, belum lelah. Suatu hari nanti aku (mungkin) akan lelah. Kalau hari itu telah datang aku tak akan bilang-bilang.

Cinta dan ceritanya itu selalu membuat aku mabuk. Aku mabuk tentangmu. Aku muntah tentangmu. Mabuk lagi tentangmu. Begitu saja. Biarkan berputar, aku suka perputaran ini. Perputaran yang selalu menyandu.

Hei, malam ini aku berdoa untukmu. Aku berdoa, supaya ketika kita berciuman lagi untuk kesekian kalinya. Entah..



Selalu ada wangi cinta di bibirku, yang membuatmu ingin menciumku lagi dan lagi.

Monday, October 25, 2010

Selamat Pagi




Pagi ini aku bangun dan melihat pucuk hujan di balik dedaunan. Kaukah itu di sana yang menghantuiku, wahai hujan. Setelah beberapa lama ini kita tidak bertemu, tampaknya kau luka. Ah bukan, kau terlalu rindu padaku sampai rindu itu melukaimu.

Jangan ngambek kalau rindu padaku. Tidakkah kau tahu, aku terlalu lama menanti di jendela. Aku duduk di sana sampai mengantuk. Menunggu kau lewat, hanya untuk sekedar berpelukan.

Dan sekarang ketika rindu itu melukaimu, kau terlalu banyak mengeluh. Kau bilang aku tak lagi cinta, kau bilang aku begini dan begitu. Kau bilang aku sudah punya orang lain. Kau bilang, ah sudahlah...

Jalanilah kehidupanmu sendiri hujan. Tetaplah jatuh, tetaplah rindu, tetaplah terluka. Karena kalau tidak ada luka, itu bukan cinta. Ya, akhirnya aku menyebutkannya. Aku terlalu lama menunggu dan kini waktuku telah habis.

Hei. Dan sekarang kau bilang “aku yang terluka.”

Sekali lagi aku ulangi hujan, tidak ada cinta yang tidak terluka. Tidak ada rindu yang tidak melukai. Mereka terlalu tajam seperti pisau, dapat membunuhmu.

Hujanilah aku dengan lukamu. Aku anggap itu ucapan "selamat pagi."

Saturday, October 23, 2010

Balada Suatu Nanti




Kelak kau mungkin akan menyesal, tidak memberikan kesempatan sedikit pun kepada saya untuk mengenal. Mengenal bentuk cinta, apakah ia segitiga, lingkaran, trapesium, atau tidak berbentuk sama sekali.

Nanti kau akan mengerti, hati saya bukan seperti bunga di dalam vas bunga. Hati saya tidak selalu menyesuaikan dengan wadah. Hati saya terkadang memberikan nafasnya lebih besar dari wadah. Hati saya tidak kaku.

Hati saya tidak hanya pandai menyesuaikan diri dengan apa yang ada di sekitarnya, ia cepat lengket. Menyatu. Ia seperti lem, sekali menempeli tidak mudah lepas. Kecuali kalau kau mencabutnya dengan paksa. Maka kau akan melihat bekas lama. Bekas itu jelek.

Tapi sudahlah, bekas dari sesuatu itu tidak selamanya jelek. Terkadang bekas itu bisa jadi menjadi penggalan yang akan membawamu kepada sejarah. Sejarah bahwa kau pernah tersesat karena cinta.

Tersesat yang berjarak. Akhirnya dari jarak itu kau akan menemukan sendiri bentuk cintamu. Kau akan menemukan jalan pulang. Tidak perlu buru-buru sehat. Tidak perlu buru-buru berlagak seperti tidak terjadi apa-apa.

Bentuk cinta di dalam hati itu bisa berubah. Kadang ia hadir dengan bentuk sofa yang empuk. Kadang ia juga hadir dengan kursi tua yang ringkih. Apapun, ia adalah bentukmu. Ia adalah nadimu.

Apapun bekasnya, ia tidak jahat. Ia mengajarkanmu untuk semakin... hum, semakin dewasa? tidak juga. Bukankah saya selalu kepingin seperti anak kecil dengan hati yang elastis. Mencintai tanpa pamrih. Menampung dengan banyak.

Mungkin kelak di balada suatu nanti. Akhirnya kau baru menyadarinya. Dan itu sudah sungguh terlambat.

Mungkin waktu itu saya buta.

Tapi apa kau lupa. Kalau cinta itu buta, dalam kegelapan pun saya tidak akan tersesat menjelajahi tubuhmu.

Saya tidak pernah.

Wednesday, October 20, 2010

Gadis Berpayung Merah




Aku ini adalah gadis berpayung merah, yang berdiri di samping jalan raya. Gadis yang sama dengan baju yang tidak pernah diganti. Gadis yang sama dengan kuncir di rambutnya yang sudah mulai lusuh. Gadis yang sama dengan maskaranya yang telah luntur.

Aku ini adalah gadis berpayung merah, yang berdiri di samping jalan raya. Gadis yang sama, yang pernah kau ajak bercinta di balik jendela. Gadis yang sama yang pernah memilin rambutmu yang gondrong sebelum kau jatuh tertidur. Gadis yang sama yang selalu berbagi rokok dan cangkir kopi bersamamu.

Aku ini adalah gadis berpayung merah, ingatkah kau bertahun-tahun yang lalu kita pernah berbagi duka di dalam selimut. Aku pernah menyeka air matamu yang turun pelan. Aku pernah berbisik lembut, sehingga bisikanku membalut hatimu yang sedang luka... “aku cinta”.

Aku ini adalah gadis berpayung merah, yang pernah ada di mimpi-mimpimu. Yang selalu ada di masa depanmu. “Bagaimana kalau anak kita empat, dua laki-laki dan dua perempuan” waktu itu kau mengatakannya. “Ah tidak usah banyak-banyak, nanti repot mengurusinya” balasku. Lalu kau mencium bibirku lama.

Aku ini adalah gadis berpayung merah, yang selalu suka ketika hujan merekah, bunga-bunganya biasanya suka kita kumpulkan bersama. Kau bilang untuk menghiasi malam, kalau tak ada bintang. Dan betul saja, kita pernah menghadapi malam-malam tanpa bintang bersama. Berdua saja. Maka bunga hujan itu kita sebarkan di langit.

Begitulah kisahku.

Aku ini adalah gadis berpayung merah, berdiri di sepanjang jalan raya. Sepanjang pagi hingga pagi lagi. Sudah lama aku berdiri di sana. Menunggu. Tidak ada seorangpun yang melihatku.

Sunday, October 17, 2010

Jangan Jatuh Cinta

Jangan jatuh cinta dengan saya, karena kau akan menyesal. Saya tidak akan menjadi seperti yang kau mau. Saya adalah saya, yang selalu mencintai hal-hal sederhana. Seperti menghirup wangi kopi hitam di cangkir yang saya pakai setiap pagi.

Seperti menyukai wangi tanah sesudah hujan. Seperti menyukai wangi bunga rumput. Seperti menyukai sesuatu yang tidak teratur. Seperti menyukai warna oranye. Seperti menyukai kaos dengan bagian leher yang dipotong. Seperti menyukai hujan, menatap dan bercakap dengan mereka lama-lama.

... dan lainnya. Akan terlalu banyak. Kau akan sebut saya gila, kalau menyebutkannya satu-satu. Kau tidak akan pernah mengerti mengerti kalau saya menjelaskannya sampai berbusa-busa.

Jangan jatuh cinta dengan saya, karena kau juga mau seperti saya. Karena saya terlalu keren untukmu, sampai kepingin kau tiru. Maaf, saya tidak ada tiruannya. Saya hanya satu. Dan mengenai hal-hal yang saya sebutkan dan belum saya sebutkan itu, mereka hanya datang begitu saja. Karena saya yang mengundang mereka masuk ke dalam hati saya.

Berapa kali saya harus bilang, jangan membanting pintu kamar, kau harus menutup mereka dengan sopan, alias pelan-pelan. Seperti saya bilang, kau harus menutup pintu pagar tua itu dengan baik. Dan perlakukanlah Graciella (netbook saya) dengan manis, karena ia akan kembali manis kepadamu.

Seperti jendela kamar besar yang menanti saya menyapa mereka, dan lantai mengkilap setiap kali sehabis dipel, mereka bisa bercakap, mereka bisa mengerti. Ketika kau menyentuh mereka, sentuhlah dengan hati. Sentuhlah dengan cinta.

Betul kan? sudah saya bilang, jangan jatuh cinta dengan saya hei kau yang glamour itu, karena kita tidak akan pernah cocok.

Kecuali kalau kau juga mencintai hal-hal sederhana, kau pasti akan membuat saya jatuh cinta balik kepadamu.



pic by Edi Omen

I always enjoy the little things in life.


Diary Pink

"kenapa papa mengkhususkanku? apa yang kualami saat ini aku sebut dengan proses pengudusan, pada akhirnya aku baru mengerti bahwa saatnya telah tiba yaitu saat dimana papa mau aku mengenal kehendaknya dengan sempurna. setelah membaca buku Relationship-nya Les dan Leslie Parrot, papa terus berbicara bahwa “aku mengkhususkan kamu”, kenapa harus mengkhususkan? hal ini berarti, papa peduli dengan hatiku, apa yang aku alami, papa lebih kenal siapa diriku daripada aku mengenal diriku sendiri. papa tahu aku tidak akan mampu melewatinya sendiri tanpa dia, papa mau kehidupanku seutuhnya menjadi miliknya, karena ia sangat menginginkanku dengan cemburu. oleh karena itu ia mengkhususkanku. selama ini ia menjagaku dengan peraturannya, supaya apa? bukan untuk mengekang. tetapi ia tidak mau aku cacat, melainkan menjadi murni. apalagi sewaktu aku berjalan diatas sana. kenapa ia mengkhususkanku, supaya aku tidak salah pilih sebab ia mempersiapkan yang tepat itu. karena aku hanya milik seorang yang benar layak untuk mendapatkannya."

Ini dari file lama, tertanggal 28 January 2005. Saya edit sedikit sekali beberapa bagiannya. Menemukan file lama adalah hal yang terkadang membuatmu bergidik sendiri, kau pernah merekam hal-hal yang begitu intim dengan seseorang.

Hal-hal intim yang pernah kau tulis di diary berwarna pinkmu, hal-hal yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Terkadang ketika kau membacanya kembali, kau seperti dibawa kembali untuk mengenali “perasaanmu” pada saat menulis itu.

Namun apapun yang kau rasakan, saya selalu menyukai sensasi membuka kembali diary lama dan mencium bau kertas tua.





.... saya suka membolak-balik beberapa halamannya dan menghirup baunya dalam-dalam. 

Saturday, October 16, 2010

Day #30: My birthday

Ya, ini ulang tahun saya. Sekaligus juga mengakhiri misi menulis selama 30 hari ini. Dalam rangka memberikan hadiah kepada diri sendiri. Saya terlalu percaya bahwa di dalam hidup, terkadang kita terlalu banyak menuntut orang lain memberikan hadiah kepada kita.

Bagaimana kalau sebaliknya, kau yang menjadi hadiah untuk dirimu sendiri, atau kau yang menjadi hadiah untuk orang lain.

Ketika saya menulis ini, tidak ada cemilan keju lagi yang tersisa, tidak ada stock kopi lagi di dapur. Hape pun mati. Tidak ada yang sempurna. Jauh-jauh hari sebelum saya berulang tahun, saya meminta untuk dikirimkan hujan saja. Jangan lupa dibungkus dengan pita warna-warni. Mereka pikir saya bercanda. Tidak, saya terlalu menginginkan hujan untuk turun di hari ulang tahun saya.

Itu adalah hadiah.

Berulang tahun dengan uang di dompet pas-pasan. Atau jauh dari keluarga bukanlah masalah besar. Belajarlah untuk mengalami kesendirian, karena biasanya disitu akan muncul karaktermu yang sebenarnya. Tidak ada permohonan yang spesial ketika saya berulang tahun.

Karena saya sudah cukup. Saya terlalu berharga.

Paling tidak untuk diri saya sendiri. Mungkin saat ini tidak ada pencapaian yang bisa kau ceritakan kepada orang lain. Kau masih bergumul untuk mencapai cita-citamu dalam diam. Kau masih belum masuk di hitungan siapa-siapa.

Tidak perlu juga. Kau tidak perlu menjadi sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain. Itu adalah penyimpangan. Lakukan apapun yang kau mau. Lakukan apapun yang kau suka. Lakukan itu dengan tertawa lebar.

Hari ini saya memasuki angka dua puluh tujuh. Angka istimewa. Bukan hanya hari ini, tetapi tiap hari selalu istimewa bagi saya. Semuanya bergantung kau mau merayakannya atau tidak, bukan?

Tadi malam sebelum tidur, saya hanya bercakap-cakap dengan diri saya sendiri? apa itu bertumbuh? apa yang kau ingin tambahkan ketika kau bertumbuh? kau ingin bertumbuh menjadi apa.

Tidak mau.

Saya tidak mau bertumbuh menjadi apa-apa atau siapa-siapa. Saya mau tetap menjadi saya. Saya mau tetap muda. Saya mau tetap istimewa. Tetapi maaf itu bukan untukmu.

Saya mau bertambah.

Itu adalah untuk diri saya sendiri. Bertambah dalam kesendirian, mengajarkan saya satu hal: apa saya percaya dengan diri saya sendiri? karena ini adalah modal dasar. Modal dasar untuk terbang lebih tinggi.

Hari-hari lelah dan menguras air mata, tetap akan saya hadapi kedepan. Itulah kenyataan hidup. Begitupun sebaliknya. Tidak perlu mengeluh, toh dengan mengeluh membuatmu semakin kurang sexy.

Mari angkat gelas, rayakan ketidaksempurnaan. Dan rayakan hujan yang mengguyur di luar.

Sometimes I wish that I was the weather, you`d bring me up in conversation forever. And when it rained, I`d be the talk of the day.

Happy birthday Jhon Mayer!

Friday, October 15, 2010

Day #29: Selingkuh

“Aku kangen. Kenapa kau pergi lama sekali?”

“Maaf Non, aku bayak urusan. Lagipula aku kan juga harus mengintai seseorang di sebelah Selatan, seperti pesananmu.” Jawabnya sambil mencium bibirku perlahan.

“Lalu, bagaimana keadaannya sekarang? apa ia sudah punya pacar baru?”

“Aku mencoba menyelidikinya Non, hari ini aku sengaja membanjiri depan kamarnya, supaya aku bisa meresap masuk melalui keset di depan pintu kamarnya.”

Hujan menjelaskan dengan penuh semangat. Matanya yang besar dan bulu matanya yang letik, memandangku dengan penuh... sesuatu, rahasia.

“Lalu, informasi apa yang bisa kau sampaikan padaku?” tanyaku dengan tidak sabar.

“Umm. Tampaknya ia masih single, belum ada tanda-tanda kalau ia sudah punya pacar lagi Non.” Hujan menjawab dengan lancar, tapi tidak dengan apa yang aku rasakan di sini. Aku masih merasa ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Sore itu berakhir dalam bisu lama. Akhirnya hujan pergi lagi meninggalkanku di bangku itu. Bangku yang dulu pernah kita... ah, sudahlah aku tidak ingin mengingatnya. Terlalu manis. Tidak, terlalu pahit. Bercampur. Aku sendiri bingung.

***

“Iya barusan aku bertemu dengannya, hum tampaknya ia tidak mencium hubungan kita.”

“Good! Kau mau datang malam ini, apartemenku sepi malam ini. Ia lembur sampai malam. Kita bisa bercinta di balkon utama.”

“Ah, kau memang selalu tahu apa yang aku mau.”

Klik. Telepon terputus.

Sejak saat itu, hujan tidak pernah menemuiku lagi.

pic by Desiyanti


hujan selalu membuat saya gila. tidak ada yang lebih penting selain menikmati hujan dari jendela: bercakap dengan mereka. (@perempuansore)

Thursday, October 14, 2010

Day #28: Seperti pindahan

Akhirnya ini adalah hari ke enam saya tinggal di kos baru saya. Dan ada satu hal yang saya ingin sampaikan, saya tidak jadi kos di daerah Trunojoyo. Ya, jangan kaget ya, ternyata ada beberapa hal yang tidak dapat saya kompromikan dengan jadwal pekerjaan saya. Apalagi setelah mendapat jadwal siaran malam di radio yang baru. Betul sekali, kendalanya adalah jam pulang malam. Akhirnya saya pindah lagi, Tante Simon terima kasih untuk kebaikannya. Nanti saya pasti main-main lagi ke sana.

Singkat cerita, saat ini sudah enam hari saya tinggal di kos baru saya, yang notabene masih di Dago juga. Kalau menurut beberapa teman, mereka mengatakan bahwa, saya memang sudah terlalu jatuh cinta dengan daerah Dago. Jarak antara kos saya yang lama dengan kos yang baru, tidak terlalu jauh. Masih bisa ditempuh dengan jalan kaki. Dan saya suka kos baru saya.

Ini adalah rumah keluarga, dengan halaman yang sangat luas. Kamar yang saya tempati adalah kamar yang menempel dengan rumah utama, tetapi memiliki akses keluar masuk sendiri. Dengan jendela lebar, dan pemandangan ke halaman langsung. Itulah kenapa saya tergila-gila dengan tempat ini. Tidak lupa seperti yang saya inginkan: ada teras mungil dan halaman.

Pindah kos, itu adalah hal yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Ada dua hal yang bertolakbelakang namun berhimpit. Mereka menciptakan adrenalin tersendiri. Proses pertama yang saya pelajari adalah membongkar barang, kemudian memasukannya ke dalam kardus. Ada hal yang saya pelajari ketika membongkar. Untuk membangun sesuatu, relakanlah dirimu untuk di bongkar. Kalau tidak ada yang membongkar, bongkarlah dirimu sendiri.

Membongkar itu seperti mengacak kembali pakem yang telah ada, dan bersiap dengan pakem baru. Membongkar itu berarti rela rusak. Untuk membongkar dibutuhkan keberanian. Biasanya situasi yang menuntut sesorang untuk mulai “membongkar” sesuatu di dalam hidupnya.

Proses kedua adalah menatanya di dalam kardus. Tidak sembarangan menata, hal ini membutuhkan tingkat organisir yang cukup tinggi. Buku tidak bisa diletakkan dalam jumlah yang banyak di dalam satu kardus, harus dicampur dengan barang lain yang lebih ringan, supaya ketika mengangkatnya tidak terlalu berat.

Begitupun dengan barang pecah belah tidak dapat diletakkan begitu saja, paling tidak ia harus dibungkus terlebih dahulu atau diletakkan dengan barang lain yang lebih empuk. Menata di dalam kardus pun membutuhkan tingkat keapikan yang tinggi.

Proses terakhir adalah membongkar kardus sebelumnya kemudian menatanya kembali di tempat yang baru. Ini adalah hal yang biasanya paling malas saya lakukan. Terkadang saya lebih suka melihat barang-barang tersebut di dalam kardus saja, dan terlalu keberatan untuk menata mereka kembali di tempat yang baru.

Bagaimana kalau hatimu yang dibongkar? seperti pindahan, kau butuh untuk membongkar, mengepak hatimu dan pindah. Kau butuh untuk membongkar hatimu yang sebelumnya, menatanya ke dalam kardus, dan kalaupun kau mendapatkan tempat baru, kau akan menata hatimu kembali di sana.

Tetapi bagaimana juga kalau saat ini, hatimu sedang ada di dalam kardus. Ia tersimpan dengan rapih, sedikit berdebu, bercampur dengan barang-barang lainnya.Dan ketika kau telah sampai di tempat yang baru, kau sedikit malas untuk mengeluarkannya apalagi menatanya. 


 

 pic by me

Kalau menurut saya, sesekali biarkan hatimu di sana. Di dalam kardus, berdebu dan tergeletak di ruangan gelap, karena justru di dalam kegelapan itu ia belajar untuk melihat.

Doakan saya betah di kos yang baru. Ada yang butuh kardus untuk menyimpan hati? saya punya banyak.

 ini pemandangan dari depan rumah orang tua saya di Ambon: ada teras, halaman luas, dan laut. tentu saja laut tidak dapat saya temui di sini.

Wednesday, October 13, 2010

Day #27

aku masih menyimpannya.

 pic by Jena

Day #26

ingatkah kau pernah menampungnya?
berember puisi kini tergeletak
di pojok kamar bisu


 pic by Jena

Day #25

 pic by Jena


tak banyak bicara. hanya berlari.
luruh bersama rindu

Day #24

pic by Jena


tangantangan halusnya
memegang duka

Day #23

pic by Jena



tubuhnya menari
tanpa irama

Day #22

seketika hujan luruh dari mataku
kakikaki kecilnya meraba pipi
menjadi puisi


pic by Jena

Day #21

pic by Jena

aku ingin.

Day #20

pic by Jena


“aku ingin mencinta putih rambutmu,
mengecup bibirmu yang keriput,
menyentuh susumu yang renta.”

Tuesday, October 5, 2010

Day #19: Layulah Gerimis

*weheartit.com



lalu layulah gerimis ke bumi
hempaskan badannya
kepada rindu yang berwarna hitam pekat
supaya ia tidak segera mati.
lalu layulah gerimis ke bumi
rebahkan tungkainya
kepada cinta yang sedang tidak ramah
supaya ia berhenti marah.
layulah, bersama kupukupu.

Monday, October 4, 2010

Day #18: WOW

Ya, ini adalah hari ke delapan belas saya menulis. Tentunya saya masih dalam rangka menulis blog dalam tiga puluh hari. Sudah ada beberapa posting cerita pendek, puisi pendek, curhatan pendek, atau apa saja yang ingin saya tuangkan ke dalam blog.

Misi ini adalah misi untuk menghadiahkan diri saya sendiri dengan tulisan, apapun itu, melalui misi ini saya hendak belajar memberikan yang terbaik kepada diri saya sendiri. Untuk itulah saya menulis.

Sepanjang tahun 2009, banyak hal yang terjadi. Ini adalah tahun berkah. Ini adalah tahun yang penuh dengan kasih karunia. Di tahun ini ada Rona Kata (buku antologi puisi) yang hadir, ada Mama yang sakit, ada masa-masa labil dimana saya harus memutuskan untuk pulang ke Ambon atau tetap tinggal di Bandung, ada masa-masa terpaksa cuti dari pekerjaan sebelumnya, kos yang harus direnovasi dan harus mencari tempat tinggal baru, mencari peluang pekerjaan baru kembali, kondisi keuangan yang tidak begitu baik dan masih banyak hal yang lain.

Pertengahan bulan September sampai dengan memasuki bulan Oktober, saya memiliki banyak sekali permohonan. Satu hal yang paling esensial adalah menyangkut tempat tinggal. Seperti tulisan saya yang sebelumnya, saya mengatakan bahwa, saya sangat pemilih mencari kos.

Banyak hal yang kemudian menjadi bahan pertimbangan, namun waktu saya tidak lama lagi, karena sebentar lagi, kos yang sekarang saya tinggali akan segera direnovasi. Ceritanya, pada suatu hari saya memang sengaja berjalan di daerah sekitar Trunojoyo, untuk mencari kos dan saya menemukan sebuah pengumuman persis di depan sebuah rumah, yaitu menerima kos putri.

Akhirnya saya memasuki rumah itu dengan harapan saya akan medapat berita bagus dari si empunya rumah. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya saya bertemu dengan si empunya rumah yang sejak saat itu saya ketahui namanya adalah Tante Simon.

“Wah, Tante Simon senang sekali kalau Theo bisa kos di sini.”

“Iya Tante, aku juga suka nih, soalnya dekat kemana-mana.”

“Tapi sayang Theo, sekarang sih kamarnya masih penuh, nanti saja ya Tante kabari Theo lagi kalau kamarnya sudah kosong.”

“Yah, iya deh Tante. Aku tunggu kabarnya ya. Terima kasih.”

Itu percakapan singkat saya dengan Tante Simon, sebelum pulang kita memang sempat bertukar nomor handphone. Dengan harapan dalam waktu dekat ini, Tante Simon akan mengabari saya perihal kamar kosong.

Semenjak dari itu, saya selalu berharap dalam hati, kalau saya bisa mendapat kesempatan untuk tinggal di situ saja. Selain karena tempatnya lumayan sesuai dengan apa yang saya inginkan (walaupun berbeda jauh dengan kos saya yang sekarang) namun dari segi harga memadai dan letaknya yang sangat strategis, sekaligus ada semacam chemistry yang sudah terbangun dari awal antara saya dengan Tante Simon maupun saya dengan rumahnya. Ini awal yang bagus.

Beberapa minggu setelah itu, saya tetap berkirim kabar dengan Tante Simon, dengan harapan ada kabar baik. Selain itu kondisi di kos yang lama, juga memaksa saya untuk segera pindah. Ini adalah kondisi “tengah-tengah” antara harus pindah di kos yang baru supaya bisa fokus ke hal lain, tapi belum juga dapat kos yang sesuai.
Ini tidak enak.

Belum juga ada kabar dari Tante Simon.

Inisiatif yang lain saya jalankan, mulai dari bertanya lagi ke teman-teman. Dan mulai menyusuri daerah Dago lagi. Suatu hari saya menemukan sebuah rumah di sekitar Dago Atas, persis seperti yang saya inginkan, dengan harga yang lebih mahal sedikit dan ada kamar kosong yang tersedia.

Di dalam hati saya berpikir, oke, kalaupun saya akan tinggal di kos ini, berarti saya harus berpikir untuk budget tambahan yang harus saya alokasikan untuk kos baru dan ini peer baru lagi untuk saya. Di dalam hati saya bilang begini, oke deh Tuhan, kalau memang saya harus kos di sini, Engkau harusnya mencukupi saya. Kalau tidak berikanlah saya kos sebelumnya yang sesuai dengan budget saya saat ini, terserahlah Kau yang lebih tahu. Ya, sebutlah itu semacam keyakinan saya.

Setelah hari itu, saya memang berjanji untuk kembali lagi pada tanggal 3 Oktober, tepatnya kemarin sekaligus pindah kos. Tetapi karena tanggal 2 sebelumnya saya ada acara di Jakarta dan baru subuh sampai ke Bandung, maka rencana packing sebelumnya terpaksa saya undur. Tadinya akan dikerjakan Sabtu pagi itu saja, tapi entah kenapa saya melewatkannya lagi. Saya malah menghabiskan waktu untuk online dan menulis.

Kalau memang belum waktunya, itu tidak akan diberikan kepadamu. Kalaupun memang sudah waktunya ia akan diberikan, bahkan damai sejahtera di alam akan menghantarkannya padamu dalam diam. Tuhan pegang keyakinan saya, apa yang tidak pernah saya sebutkan lewat bibir saya. Sesuatu yang saya hanya simpan di hati saya, sendiri. Sesuatu yang saya tidak perlu saya pamer kepada orang lain, yaitu: keyakinan saya.

Di hari Minggu sore, di hari yang seharusnya saya packing untuk pindah ke kos di daerah Dago Atas, handphone saya berdering, ada nama Tante Simon di layar.

“Hallo, Theo, iya nih Tante Cuma mau bilang, kebetulan sekarang ada kamar kosong untuk Theo. Mari berkumpul.”

WOW.

Tidak ada kata lain, saya kaget. Jantung saya berdegup kencang, antara senang bercampur dengan kegelisahan saya untuk memaknai segala sesuatu yang baru saja saya alami.

Begitulah ceritanya. Saya selalu percaya Tuhan sudah pensiun dari gereja. Dia kini banyak duduk di luar gedung mewah itu, Dia ada di sekitarmu, Dia tidur di hatimu dan mendengarkan apa yang bahkan tidak pernah kau minta dengan lantang. Dan saya hampir lupa, ini hari minggu. Bahkan kau tidak perlu duduk di gereja untuk mendapatkan mujizat.

Mujizat itu mengikutimu. 


 pic by Jena

Mereka kejutan.

Sunday, October 3, 2010

Day #17: Hilang



kini kau pergi,
meninggalkan tahun yang tidak berpenghuni
kalender kosong dan kekuningan
tanggal dan harinya rapuh berguguran

di luar gerimis berpayung hitam
menemani pilu orang hilang.
darah tangisnya mengalun pelan
kau purapura tuli.

Friday, October 1, 2010

Day #16: Selfnote




Apa yang kau harapkan di umurmu yang ke dua puluh tujuh. Apa yang pernah kau impikan ketika kau melangkahkan kakimu di angka dua puluh tujuh. Tentunya kau memiliki banyak mimpi, kau mulai menulis mimpimu di balik Alkitab, kau mulai mendoakan mimpimu, salah satunya adalah kau mulai mendoakan bertemu dengan seseorang yang tepat.

Angka dua puluh tujuh, mungkin adalah sebuah perjalanan panjang. Dari angka ke dua puluh enam ke angka dua puluh tujuh. Atau tergantung dari mana kau mulai menghitung. Menghitung untuk mulai jatuh cinta. Menghitung untuk kemudian patah hati. Menghitung untuk kemudian jatuh cinta lagi. Dan patah hati lagi.

Sampai kemudian kau mulai bosan menghitung. Sampai kemudian kau mulai tidak menyukai sesuatu yang bergerak maju. Kau hanya mau jatuh cinta di tempat. Kau hanya mau cintamu diam, kau merasakan getarnya sendiri, kau merayakannya dalam diam, tanpa seorangpun yang tahu kalau kau sedang jatuh cinta.

Diam-diam kau mulai menulis puisi, diam-diam kau mulai menulis di diary, diam-diam kau mulai menulis tentangnya dan tentangnya. Tidak ada topik yang lebih keren selain tentangnya. Tidak ada yang lebih penting selain mengetahui kesukaannya. Tidak ada yang lebih deg-degan selain; menantikan telepon darinya atau bertemu mata dengan mata dengannya.

Kau paling hapal. Kau tahu segala gerak-geriknya. Kau tahu dia akan memberikan advice apa. Kau tahu nada suaranya, kapan dia akan berbicara dengan nada ke atas, kapan dia akan berbicara dengan nada turun ke bawah. Kau akan memperhatikan kaus kakinya atau sepatu yang dia kenakan. Kau akan menilai, kemejanya paling cocok dikeluarkan atau dimasukan saja.

Kau mendengarkan segala keluh kesahnya. Kau adalah orang paling pertama yang dia hubungi. Kau mendengarkan tawanya dan tangisnya. Atau dua-duanya. Kau tidak melirik yang lain, karena kau tahu kau sudah memiliki seseorang. Kau cukup setia.

Apa yang kau harapkan ketika kau memasuki umur yang ke dua puluh tujuh; menikah? mungkin belum. Karena kau merasa, masih ada banyak hal yang kepingin kau kejar. Ada mimpi yang begitu tinggi, yang selalu kau visualisasikan sebelum kau tidur; menandatangani bukumu sendiri.

Banyak yang menyinggung soal cita-cita. Dan mereka berpikir kau itu terlalu gembel untuk memiliki cita-cita. Mereka pikir kau itu masih terlalu kecil untuk punya cita-cita. Kau masih harus diberitahu tentang ini dan itu. Kau dianggap tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Apalagi menyangkut sesuatu yang perlu dibanggakan kepada orang tua. Kau mungkin tidak punya itu.

Umur dua puluh tujuh adalah angka yang sangat istimewa. Karena kau selalu menyukai angka tujuh, angka sempurna. Karena memasuki umur ini, kau belajar banyak; belajar banyak untuk direndahkan.

Bisa jadi ketika kau memasuki angka dua puluh dan tujuh. Adalah angka dimana kau kehilangan banyak hal. Banyak yang diambil dari dirimu sekaligus. Kau harus mencari pekerjaan baru, kau harus mencari tempat tinggal baru, cinta dalam bentuk yang baru.

Rasanya, kau ingin berhenti saja. Rasanya kau ingin diam saja di tempat. Supaya apapun yang kau miliki selalu dapat kau miliki. Mereka akan selalu menjadi milikmu. Rasanya kau mau egois saja, dengan mendapatkan semuanya. Tapi bagaimana, kalau semuanya seperti diambil, tidak ada yang tersisa.

Suatu ketika kau pulang ke rumah, setelah mendengarkan lagu Adelle ‘make you feel my love’, berulang-ulang, kau hanya bisa berkaca-kaca. Kau ingin bercerita kepada seseorang, namun tidak bisa. Terpaksa, kau diam sendiri saja, kemudian menangis sendiri.

Kau bosan bercerita, karena kau pikir itu bukan urusan mereka atau urusannya. Kau pikir, angka dua puluh tujuh adalah angka dewasa, kau adalah perempuan yang kuat dan kau tidak perlu cerita-cerita kepada orang lain. Karena bukankah selama ini, kau memang sendiri. Bukankah ketika berumur enam belas, pertama kali kau memutuskan merantau, sebenarnya kau telah memutuskan hidupmu sendiri.

Sudahlah, kalaupun kau mau menangis. Menangislah untuk dirimu sendiri, jangan pamer mata bengkakmu kepada orang lain. Bukankah kau itu adalah perempuan yang ceria, kau sumber kemeriahan. Banyak orang yang selalu iri dengan kemeriahan itu. Padahal sejujurnya yang paling kau sukai adalah; pulang ke rumah, duduk di dekat jendela besarmu dan mulai menulis.

Sendiri. Mendengarkan hatimu.

Mengertilah bahwa semakin umurmu bertambah, kau mulai percaya hal-hal yang long lasting. Bukan hal-hal yang pendek. Kau semakin menginvestasikan hari-harimu untuk melihat keindahan-keindahan kecil dan menikmatinya. Seperti lidahmu yang hanya ingin mencicipi kopi di cangkir. Seperti kau yang selalu menatap hujan lama-lama dari balik jendela. Atau bermain diantara sinar-sinar sore.

Ketahuilah, kau tidak kehilangan apa-apa. Kalaupun pada saat ini segala sesuatu seperti sedang ditarik darimu, kau seperti sedang kehilangan banyak hal. Sebenarnya tidak, mereka diambil karena nantinya kau akan diisi penuh sampai melimpah ruah. Bersiaplah, karena ketika waktu itu datang, kau tidak akan kuat untuk menampungnya.

Tidak ada yang abadi. Mencintai itu bukan keabadian. Patah hati bukan mati. Namun kau adalah keindahan. Keindahan akan menciptakan keindahan dengan tangannya, dan setiap orang di sekitarmu akan mengerti bahwa mereka yang rugi kehilangan keindahan itu, mereka yang rugi kehilanganmu.

Jadi mari mencatat, apa yang sudah kau lakukan pada dirimu sendiri bukan kepada orang lain. Jika sekali lagi, pertanyaannya diulang; apa yang kau harapkan ketika kau memasuki umur dua puluh tujuh?

Ciptakanlah keindahan dengan tanganmu.

Hal ini tidak ada urusannya dengan pencapaianmu saat ini, jatuh cintamu saat ini, patah hatimu saat ini, menangismu saat ini, tertawamu saat ini atau apapun yang orang lain tempel kepada kehidupanmu saat ini.

Keindahan itu adalah dirimu seutuhnya. Mereka, dia, yang terlalu rugi untuk tidak melihatnya. Tertawalah yang keras, karena mereka, dia, tidak memilikimu sebagai keindahan itu.

Kalaupun besok-besok (tidak perlu buru-buru) sudah waktunya kau menikah dan kau akan memiliki anak, entah itu anak perempuan atau laki-laki (tampaknya saya akan punya dua-duanya, yang pertama laki-laki dan selang beberapa tahun kemudian baru lahir yang perempuan, kalau kelak benar, tolong ingatkan lagi kalau saya pernah menulis ini) jangan lupa ajarkan kepada mereka untuk menjadi: mencipta keindahan.

Mari rayakan keindahan.

Day #15: Kelak


*dari weheartit.com



kalau aku sudah dewasa
aku ingin menikah dengan kata
kami tinggal di rumah sederhana
tiang-tiangnya adalah air mata
ada huruf, kalimat, paragraf
duduk-duduk di sekitar halaman
mereka sedang belajar membaca
tentang apa itu cinta?
lalu mereka tertawa,
ada pernyataan begini:
“cinta itu bukan kata
cinta itu air mata.”
tapi aku tidak pernah dewasa
aku tidak.

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...