Wednesday, September 29, 2010

Day #14: Rumah

Rumah bagi saya, bukan hanya tempat tinggal. Rumah bagi saya adalah buku cerita. Saya selalu membayangkan rumah itu seperti halaman-halaman buku kosong, yang dapat diisi oleh siapapun saja yang pernah menyinggahinya. Siapapun, kapanpun yang pernah singgah, pasti meninggalkan sesuatu dan cerita.

Saya pribadi sangat concern dengan tempat tinggal, bukan bersama siapa saya tinggal. Karena bagi saya tempat tinggal adalah representasi kehadiran. Kehadiran saya di tempat itu, dari manapun saya berasal, akan menjadi sejarah. Sedangkan tinggal bersama siapapun, itu bukanlah masalah, toh masalah berhubungan dengan orang lain, itu masalah seumur hidupmu bukan?

Sejak kecil saya beberapa kali menikmati rumah dengan kondisi yang berbeda. Rumah pertama adalah rumah tua (rumah keluarga) kami, ini adalah rumah peninggalan Opa saya dimana saya dan keluarga besar (Oma, Oom, Tante, para sepupu) kami tinggal. Rumah kedua adalah rumah Tante (adik Papa) saya, dimana saya biasa dititipkan ketika orangtua saya harus bertugas keluar kota. Rumah ketiga adalah rumah dinas pertama ketika orang tua saya bertugas pertama kalinya di Ambon. Dan rumah terakhir adalah rumah dinas kedua, yang terakhir kali kami tinggali sebelum akhirnya hancur akibat kerusuhan yang melanda Ambon di tahun 1999.

Sebelum merantau ke Jawa, saya dan keluarga untuk sementara waktu menumpang di rumah tua keluarga kami dan akhirnya sekarang orang tua saya telah menempati rumah mereka sendiri di daerah perbukitan di daerah Ambon, dengan pemandangan kota dan laut dari depan teras rumah.

Saya sendiri melanglangbuana dari kos yang satu ke kos yang lain. Dimulai dari kota Jogjakarta dan Bandung. Saya sangat menikmati tinggal bersama orang lain, juga sangat menikmati tiap tempat yang pernah saya tinggali selama di Bandung. Saya mulai menyukai rumah tua. Saya menyukai kesan sepi yang biasanya ada di setiap rumah tua. Dan entah mengapa saya percaya bahwa setiap rumah tua akan bercerita kepada saya, mereka senang didengarkan. Dan itulah yang saya lakukan, saya senang sekali mendengarkan mereka.

Saya tipe setia. Selama ngekos di Bandung, saya hanya baru tiga kali pindah. Itupun setelah tinggal hampir tiga tahun, begitupun dengan kos yang sekarang (sebentar lagi saya akan pindah) ini juga telah memasuki tahun ketiga. Kos terakhir saya ini, saya dapatkan dengan perjuangan. Perjuangan mengeceng dan menunggu. Ini kos yang pertama kali membuat saya jatuh cinta. Sedikit gambaran, kos ini adalah paviliun rumah tua, pintu dan jendela besar, dengan teras belakang dan halaman yang cukup luas. Kamarnya sendiri tidak cukup besar, tapi lumayan menampung barang-barang saya yang kebanyakan baju dan buku.

Saya betah, saya kreatif, saya banyak menulis di kos ini. Bukan hanya itu, banyak kenangan yang ada di setiap sudutnya, yang membuat saya seperti agak berat kalau harus meninggalkannya. Ada keterikatan yang tidak terlihat, yang sudah terbangun diantara kami. Pagi ini saya mencuci baju dan menjemurnya di halaman, ada teras, kursi-kursi tua, dan rerumputan. Entahlah, mereka juga sepertinya sedih sekali karena sebentar lagi saya akan meninggalkan mereka.

Mencari kos baru, sulit. Saya pemilih. Saya betul-betul memiliki kriteria khusus untuk tempat tinggal saya. Kalau ditanya standarnya seperti apa: ya, paling tidak seperti kos yang sebelumnya. Banyak teman saya yang mulai menyerah, karena untuk selera saya yang satu ini, mereka tidak bisa memenuhinya.

Kemarin, saya sengaja menyusuri daerah Jalan Aceh dan sekitarnya (Lombok, Patra Komala, Manado, Tongkeng, Sabang, Pulo Laut, Cihapit) tapi beberapa diantaranya penuh. Saya merasa, untuk mencari tempat tinggal, saya harus jalan sendiri, masuk satu-satu, mencium bau rumahnya, dan mengintip apa di dalam rumah yang akan saya tinggali itu ada teras dan halaman kecilnya atau tidak.

Beberapa waktu lalu saya juga sempat mengumumkan di status facebook saya, dibutuhkan kos baru daerah dago dan sekitarnya, rumah tua dengan jendela dan pintu yang besar, tidak di gang kecil, sirkulasi udara bagus, dan ini yang paling penting: harus ada teras belakang dan halamannya sedikit.

Ketika saya menulis ini, saya menyadari satu hal. Ternyata bukan rumah tua saja yang membuat saya tergila-gila, tetapi teras dan halaman. Teras untuk duduk-duduk, ngopi dan menulis dengan pemandangan halaman yang penuh rumput hijau. Alasannya, mereka menyembuhkan.

Ya, itu sudah semacam obsesi. Saya tidak perlu rumah besar. Cukup rumah mungil dengan teras dan halaman. Karena saya suka duduk-duduk di sana, mendengarkan ia bercerita, kemudian saya menuliskannya kembali.

(hei, ada yang mau menghadiahkan saya rumah ketika ulang tahun nanti? Atau bagaimana kalau pesta kebun? :-p)

 


dear teras belakang, sampai bertemu lagi :)

Monday, September 27, 2010

Day #13: Anak Nakal



aku ini anak nakal
aku suka berlari telanjang
tanpa sepatu di balik awan gelap
mencari bulir hujan
menaikinya, kemudian terbang ke atas.
aku akan turun dengan kaki-kaki kecilku
persis di atas genteng kamarmu
melihat kau di balik selimutmu
sedang tidur nyenyak.
dengan kaki-kaki kecilku
aku merembesi ventilasi kamarmu
membasahi gordenmu
lalu meleleh, tepat di balik sepraimu
kena selimutmu
hanya untuk menyentuh hangat kulitmu.

Day #12: Pesta



Tuhan, ini
hatiku di dalam gelas
sedang pecah
minumlah
mabuklah!
dan ini
gerimis lapuk untukMu
berhari-hari sudah ia mengaburi
jangan berubah menjadi duri
kemudian jatuh ke bumi
bertemu kekasih, melukai
makanlah
kenyanglah!

aku, anak kesayangan
kini pulang.

Saturday, September 25, 2010

Day #11: Gerimis yang bergoyang diantara kabel listrik




tadi malam aku melihat gerimis yang bergoyang
bereka berpasang-pasangan, tanpa lagu tanpa nada
mereka bergoyang ke kiri dan ke kanan,
tidak ada air mata.

angin menghembusi permukaan kulit gerimis
semakin lama semakin kencang
namun mereka berpelukan
semakin lama semakin erat.

gerimis menatap ke bawah
ia melihat ada air mata yang mengawasinya
kini semakin deras
badan air mata sampai bergoyang-goyang.

Day #10: Pengantin Bulan



bulan lelap di atas kasur
ia tidak memberikan kesempatan kepadaku
melipat lelah
padahal hari ini, seharian aku memayet gaun peraknya
untuk hari pernikahanku.
tanggalnya sudah ditetapkan, gedungnya pun sudah,
undangan sudah dicetak.
hari h pun kini tiba, bulan telanjang di atas kasur
aku berjalan di atas altar dengan gaun perak itu
mempelaiku tidak datang.

Day #9: Peluru




burulah aku.
jelajahi aku dengan senapanmu
tubuhku sudah lama merindukan darah
babatlah habis rumput liar
yang kini semakin meninggi
menutupi lorong rahasia
dimana, liurmu pernah pecah
karena senggama.
dimana, pahit bersiteru
dari uap vagina.
aku ini musuhmu
yang pernah kau cintai
sampai hampir mati
mampirlah, kau tahu jalan rahasia itu
setubuhilah aku dengan peluru.

Day #8: Berpapasan



Aku suka menghirup wangi parfummu yang menyeruak ke udara, menusuk hidungku dengan tajam. Dengan malu-malu aku akan meneliti raut wajah dan ekspresi matamu dari dekat sekali.

Aku deg-degan, syukurlah kalau kau tidak mendengarnya. Tetapi kau itu begitu memesonaku. Perasaan, seperti ini entah kenapa tidak pernah aku rasa sebelumnya.

Aku suka sekali melihat kau tersenyum. Lekukan bibirmu akan terbuka sedikit lebar, menutupi bekas kerutan di sekitarnya. Karena sebenarnya kau itu suka sekali tersenyum. Kau suka menertawai kebodohan-kebodohanku.

Tetapi tidak apa-apa. Itu bukan masalah besar buatku. Selama itu membuat kau bahagia, tidak masalah. Dan tetaplah tertawa, karena sampai kapanpun aku akan selalu merindukan tawamu. Tawamu yang empuk.

Pertama kalinya kita pergi ke suatu tempat. Kau bilang mau mengantarku ke sana. Aku menurut saja, Kalau ditanya apa yang selalu membuat aku jatuh cinta. Aku tidak tahu, perasaan itu terlalu tiba-tiba.

Rambutmu sudah mulai gondrong. Pipimu juga semakin tirus, semakin mempertegas garis wajahmu. Kerutan di sekitar dahimu bertambah, mungkin kau memang sekarang sedang sibuk-sibuknya.

Dalam perjalanan pulang ketika kau mengantarku. Aku sempat menyenderkan kepalaku di pundakmu. Bulan penuh persis di atas kepala kita. Aku suka mendengarkan suaramu dari ujung pundak. Ada ketenangan di sana. Ada rasa nyaman. Mungkin rasa nyaman itu, yang membuat aku jatuh cinta?

Aku menginginkanmu bebicara sepatah kata. Mengobrol lama seperti dulu. Kau biasanya bercerita apapun yang kau suka, aku menjadi pendengarnya. Atau giliran kau yang mendengarkan aku menangis berlama-lama. Dan kau betah-betah saja.

Atau rasa nyaman itu sendiri yang membuat aku leluasa berbagi. Sebenarnya mungkin awalnya tidak ada cinta. Tapi kita sendiri yang memberikannya tempat. Kita sendiri yang membiarkannya tumbuh. Kita sendiri yang merelakannya semakin besar. Kini ketika cinta itu semakin besar, mungkin sebentar lagi cinta itu akan menikah dan membangun keluarganya sendiri. Apa kita rela melepaskannya?

Persis di hari itu, aku menemukanmu di jalan yang sama. Tidak. Kau tidak melakukannya. Aku menunggu semenit, dua menit... hening lama. Aku menunggu kau menyapaku. Aku menunggu kau bertanya sesuatu. Aku menunggu kau memanggilku dengan panggilan kesayanganmu.

Namun kau hanya diam.

Wednesday, September 22, 2010

Day #7: Sesak



Mungkin waktu itu aku berumur enam atau tujuh tahun, aku lupa persis umur berapa. Di luar sore sudah tampak remaja, udara lembab di sekitar menusuk kulitku yang telanjang.

Aku ini tidak suka kena air, kalau mau mandi harus berlama-lama dulu, buka baju, bermain air, mengobrol sendirian di kamar mandi, seakan-akan ada teman yang sedang menungguku di sana.

Kau duduk di jendela, dengan perpisahan yang menggantung di matamu. Aku tidak suka ditinggal, walaupun alasan ditinggal waktu itu adalah karena kau harus pergi bekerja. Bekerja yang membuat kau tidak bisa tinggal bersamaku. Sungguh, tidak masuk akal.

Aku hampir mandi, tapi seperti biasa aku tidak suka terburu-buru mandi. Aku telanjang dan duduk di pangkuanmu, di jendela. Jendela tua yang biasanya aku lompati setiap waktu.

Aku merasakan hangat kulitmu. Hangat kulit yang selalu membuat aku sesak di dalam. Mataku mulai berair dan biasanya aku menangis. Tak suka kencang-kencang, karena aku suka malu.

Kau bilang aku sudah mulai besar, jadi tidak boleh menangis kencang-kencang. Jadi waktu itu, aku menangis pelan-pelan saja di pundakmu.

Sekarang ini, sudah bertahun-tahun yang lalu. Jendela tua itu masih suka aku lompati setiap waktu, kamar mandi itu masih suka aku datangi setiap hari untuk bermain dan mengobrol dengan diri sendiri.

Namun sesak itu masih ada, betah sekali ia.

Tuesday, September 21, 2010

Day #6: Setia



Sudah lama aku terbaring di sini. Sendiri. Tempat tidur yang cukup empuk, untuk sekedar meluruskan badan. Aku sudah susah bergerak karena banyak laba-laba iseng di sekitar rumahku. Dan aku juga harus terbiasa dengan aroma tubuh penghuni lainnya, yang kadang tidak kusukai.

Kadang aku menyaksikan debu-debu yang menempel di karpet, atau laba-laba yang suka iseng membangun rumahnya di tubuhku. Kalau ada waktu senggang, aku suka mengobrol dengan semut-semut tua yang berjalan membawa remah-remah, pulang ke tempat yang mereka sebut rumah.

“Kau sudah pernah kemana saja?”

“Banyak. Terlalu banyak, dari yang paling mewah sampai yang paling sederhana.”

“Bersamanya? ” tanya temanku lagi.

“Tentu saja kita berdua. Kita pasangan yang sangat setia, sampai...” Aku mengusap air mataku perlahan. Temanku mengerti perasaanku, ia sedikit membungkuk untuk memeluk tubuhku yang sudah mulai renta.

Kemudian kita kembali terlelap dalam gelap.

Bulan redup. Sinarnya menghilang entah kemana. Aku ingat saat-saat terakhirku bersamanya, di luar hujan deras, kondisinya pada saat itu memang sudah sangat lemah. Ia memang sudah merasa bahwa mungkin waktunya tidak akan lama lagi. Tapi kita berdua, memang dalam keadaan terpaksa. Kita harus menurut.

Kondisi jalan tidak memadai, banyak tanjakan dan bolong di sana-sini. Tetapi karena dipaksakan, aku mau bilang apa. Aku melirik ke arahnya, napasnya mulai terengah-engah, dari sorot matanya, ia sudah tidak kuat lagi.

Bertahanlah, sebentar lagi kita sampai. Aku berbisik pelan di kupingnya, tapi ia tampak sudah tidak dapat mendengar aku lagi. Kini, napasnya mulai satu-satu. Ia mulai mencari tanganku, dan menyuruhku memeluknya. Aku tidak hanya memeluk, aku mengecup bibirnya perlahan.

Aku ti-tidak kuat lagi. Itu kalimat terakhirnya.

“Ah sial, hak gue pake acara patah lagi nih. Kalian duluan aja deh, gue cari sendal jepit dulu nih.”

Kalimat itu tampak samar-samar di kupingku, mataku mulai basah. Kekasihku mati persis di sampingku.

Monday, September 20, 2010

Day #5: Backspace



Mundur banyak langkah, sebelum berlari lebih jauh. Digunakan ketika kau perlu menghapus huruf perlahan-lahan. Tidak terburu-buru ketika kau menekan delete. Sama halnya dengan menghapus sesuatu, bisa jadi itu bukan hal yang harus buru-buru kau lakukan.

Backspace kadang dilakukan ketika kau tidak tahu harus menulis apa, di layar yang kosong. Kau akan menulis dengan random, satu atau dua kata, lalu menghapusnya lagi. Ketik. Backspace. Ketik. Backspace. Begitu seterusnya.

Sama halnya seperti ketika aku melamunkan, berpikir, menghayalkan, hanya sejumput huruf yang mengingatkanku padamu di benak. Aku akan memandang lama crusor yang sedang mati nyala di layar yang kosong.

Kemudian perlahan, aku mengetik beberapa huruf yang aku sangat kenal.

Namamu.

“Maaf, kau jangan merasa tersinggung ya, hanya saja aku belum siap.”

“Hum, tidak apa-apa juga sih, santai kok.”

“Kau tidak marah kan?”

“Tidak.”

Backspace. Seperti percakapan, entah berapa tahun yang lalu. Yang selalu aku simpan, di kepala juga di hati. Karena percakapan itu terlampau berarti buatku. Hari yang mengubah segalanya.

Backspace. Seperti mengajak untuk berpikir ulang, apa yang akan kau tulis kemudian. Bisa jadi kata yang kau pakai, tidak terlalu pas di dalam sebuah kalimat. Sehingga, kau harus menarik perkataanmu kembali.

“Kalau sayang sih sayang saja.”

Tidak ada respon.

Backspace. Mundur sedikit, bukan untuk melupakan. Mundur sedikit untuk mengunjungi kembali ruang berdebu dimana keping-keping namamu, pernah utuh, dan sepenuhnya hadir di dalam hidupku.

Sunday, September 19, 2010

Day #4: Rindu



Kali ini aku banyak melamun. Tidak ada tulisan yang berarti. Tidak ada puisi sama sekali. Hanya aku ditemani dengan puntung-puntung rokok, yang mulai berserakan dimana-mana. Ah, ruangan ini sudah mulai jorok. Kau pasti tidak akan suka.

Apa yang hendak kukatakan, kalau kau pulang nanti dan mendapati aku seperti ini, kau pasti akan marah besar. Sementara aku menulis ini, gerimis mulai tua di luar, tetesannya pun tinggal satu-satu.

Aku merogoh satu dari tumpukan buku-buku yang ada, dan aku melihat ada kamus besar. Ah, ini dia yang aku cari, pikirku dalam hati. Mataku langsung meneliti dengan cepat, inisial huruf R untuk kata rindu.

Mataku terus membaca definisi yang satu ke definisi yang lain, tidak ada yang keren. Kamus ini terlalu kaku. Aku menutup kamus, dan kembali menghisap batang rokokku yang hampir habis dalam-dalam.

kuhisap rindu hambar
dari ujung yang satu
dan kubiarkan gelisahku terbakar
dari ujung yang lain

Demikian aku menulis. Terserah kau mau menilai itu seperti apa. Bagiku itu bukan puisi. Itu hanya sebatang rokok yang kini hampir habis diantara ke dua jemariku.

menunggu ini sudah terendap lama
asapnya hendak kuhembuskan saja
supaya ia berlari lupa
bahwa cinta ini pernah luka

Aku berhenti menulis. Mataku berair, aku betul-betul tidak bermaksud untuk menulis sesuatu yang pahit sebenarnya. Tapi, ya sudahlah, aku ini hanya penulis amatiran. Toh, kau juga tidak tertarik untuk membaca tulisan-tulisanku. Apalagi puisi, kau sama sekali tidak mengerti puisi.

kekasih, adakah kau tahu
bahwa rindu itu hanya milik mereka yang kesepian
kelak ia akan menuju asbak
menjadi abu

Aku rasa cukup untuk hari ini. Aku bersihkan puntung-puntung rokokku. Kurapihkan kembali buku-buku yang tadi berserakan di lantai.

Dan menunggumu. Menunggu kau yang tidak pernah pulang.

Saturday, September 18, 2010

Day #3: Kejutan



Nyala, Aku mencintainya dengan segala kompleksitas yang ia miliki. Belum lagi kesukaannya tentang kecoa. Itu satu hal yang tidak dapat kumengerti sampai hari ini. Menurutku, aneh sekali ada perempuan secantik dia, suka sekali dengan binatang menjijikan satu itu.

Sedangkan aku, aku benci sekali kecoa.

Tapi Nyala bahkan selalu melarang aku membunuh kecoa. Ia selalu yakin bahwa kecoa itu adalah binatang paling tua, dan ketika mereka muncul di depanmu tiba-tiba, mereka pasti membawa pesan sesuatu.

“Kecoanya jangan dibunuh Bang, keluarkan saja mereka pelan-pelan. Atau biarkan saja mereka merayap di dinding-dinding itu lagi.” Ujarnya suatu hari sambil merengek-rengek, ketika aku menemukan kecoa di kamar mandi.

Kali itu, binatang-binatang menjijikan itu lolos dari tanganku. Semua ini hanya karena Nyala, gadisku dengan mata besarnya yang lucu, dengan rambut ekor kuda yang selalu bergoyang-goyang ketika ia bicara padaku.

Satu hal yang selalu aku perhatikan selama kita bersama adalah, kebiasaannya yang selalu berlama-lama di kamar mandi. Ketika aku bertanya kenapa ia lama sekali di kamar mandi, biasanya ia hanya nyengir dan bilang bahwa ia terlalu asik baca buku, sehingga lupa untuk lekas menyudahi aktivitasnya di kamar mandi.

Aku sih, percaya saja. Ia gadis lucu, yang akan langsung mengambil hatimu.

Begitulah cerita tentang Nyala, gadis imut yang hampir setahun ini aku pacari. Bagiku tidak ada yang terlalu bermasalah, selama menjalani hubungan dengannya. Ia adalah pasangan sekaligus teman yang menyenangkan, kita berdua juga menyukai filosofi-filosofi sederhana, yang selalu kita bagi di sela-sela acara minum teh sore kita.

***

Hari ini, setahun sudah kita berpacaran, dan aku berencana untuk merayakan ulang tahun jadian kita di suatu tempat yang cukup romantis di daerah Dago Pakar. Tentu saja, rencana ini tidak aku beritahukan sebelumnya dengan alasan supaya surprise.

Aku sengaja bangun pagi-pagi, membuatkan sarapan untuknya sebelum aku berangkat kerja. Aku membuatkan sarapan kesukaannya, yaitu sandwich isi telor dengan kopi pahit, sedangkan aku lebih suka makan sereal saja pagi-pagi.

Aku masuk ke kamar dan tampak ia masih tidur pulas.

“Selamat pagi Nyala, selamat hari jadian.” Aku berbisik pelan dihadapannya. Tampak ia membuka sedikit kedua matanya.

“Eh, pagi Bang, wah surprise banget nih, terima kasih. Selamat hari jadian juga.” Balasnya lembut sambil mencium pipiku. Setelah itu kita berciuman lama.

“Abang, mandi dulu ya. Nanti sore pulang dari kantor, Abang jemput kamu, kita makan malam diluar.”

“Oke Bang, aku tunggu.”

Aku beranjak ke kamar mandi. Ketika aku membuka kamar mandi, aku kaget luar biasa, karena tampak gerombolan kecoa, sedang asik membuat barisan mengitari daerah saluran pembuangan, dan tampak beberapa lagi sedang duduk-duduk manis di sekitar daerah WC.

Aku memekik tertahan, aku jijik sekali terhadap binatang ini. Ugh! Refleks aku membanting pintu kamar mandi. Aku berlari ke arah lemari di dapur, untuk mencari racun serangga.

“Kenapa Bang?” Nyala berteriak dari arah kamar tidur.

“Ada banyak kecoa di kamar mandi. Heran deh, kok bisa banyak gitu sih. Ini aku sedang mencari racun serangga? disimpan dimana ya?”

“Eh, JANGAN DIBUNUH Bang!” Nyala tampak berteriak panik, dan berlari kearah dapur menyusuliku.

“Loh, kenapa? mereka banyak banget Nyala.” Aku membalasnya sambil tanganku terus, membuka pintu lemari satu dengan pintu lemari lainnya, masih mencari racun serangga itu.

“Eh, bi-biar aku saja Bang, aku tahu kok cara mengusir mereka.” Nyala tampak terbata-bata, menyelesaikan kalimatnya dan langsung buru-buru berlari ke arah kamar mandi lagi.

“Dimana sih, racun serangga sialan itu, perasaan ada di lemari deh.” Aku mengumpat, karena semakin tidak sabar, belum menemukan racun serangga itu juga. Dan kini lemari terakhir yang aku buka, tidak ada juga. Aku hampir putus asa. Aku bergidik membayangkan binatang sialan itu masih berkeliaran di kamar mandiku.

“Eh, masih ada satu lemari yang belum dibuka, ah, tidak ada juga.” Aku tampak kesal dan membanting lemari yang terakhir. BRAK. PRANG. Tampak sesuatu jatuh dari atas lemari, dan itu dia, itu penyelamatku, botol racun serangga dengan tutup merah jatuh persis di depanku.

“Nyalaaa, ini aku nemu..” Aku berlari ke arah kamar mandi, tampak Nyala sedang duduk dan menunduk ke arah kecoa-kecoa itu, entah apa yang dilakukannya. Kali ini tidak ada ampun bagi kalian, kataku dalam hati sambil melihat ke arah kecoa-kecoa itu.

Nyala berbalik dan melihatku dengan racun serangga di tangan kananku. Wajahnya langsung berubah pucat. “Ja-jangan Bang, jangan bunuh mereka dengan itu.” Nada suaranya bergetar, ia berdiri dan berusaha menghalangiku dengan tubuh kecilnya.

Aku sudah tidak mau lagi mendengarkan. Tidak, untuk kali ini Nyala, balasku dalam hati.

“Bang, jangaaann..” Rengekan Nyala kini berubah menjadi tangis yang tertahan.

SREETT. SREETT. SREETT.

Aku menyemprot racun serangga, ke seluruh penjuru kamar mandi. Sesaat aroma racun serangga yang tajam itu, langsung menusuk penciumanku. Kecoa-kecoa yang saling menumpuk di lantai itu, mulai linglung dan melangkah satu-satu, sebelum akhirnya mati di tempat.

Bukan hanya itu, Nyala pun ikut limbung ke lantai kamar mandi. Tubuhnya menciut semakin kecil, dan berubah menjadi kecoa kecil, yang kini sudah tidak bernyawa lagi.

Friday, September 17, 2010

Day #2: mawar merah



Ranjang tua dengan seprai motif bunga mawar merah belum berhenti berderit. Aku kenali setiap jengkal kamar luas ini. Berapa kali seminggu, kamar ini akan menjadi saksi bau keringat dan bau sperma bercampur menjadi satu.

“Kamu suka sayang?” Wing bertanya sambil membelai lembut rambutku. Sementara aku masih terbaring puas di bawah selimut dengan tubuh telanjang.

“Ya, seperti biasa, aku suka.” Jawabku perlahan sambil menyulut rokokku dalam-dalam. Pikiranku sesekali menerawang ke rumah yang aku tinggalkan selama dua hari terakhir. Pras pasti sudah pulang, bisa saja ia mencari aku setelah ini. Aku harus bergegas pulang kalau begitu.

Ketika aku hendak turun dari tempat tidur, Wing, lelaki di sampingku, menarik tubuhku lagi perlahan. Mendekatkan aku kembali di pelukannya yang hangat itu. Kami berciuman lagi, semakin lama semakin erat. Wing, tidak mau melepaskan aku dari pelukannya.

“Aku tidak mau kamu pulang, aku mau kamu tinggal di sini.” Ia berbisik di kupingku.

“Kalau begitu, nikahi aku. Aku bisa berhenti kerja bersama Pras, dan tinggal bersamamu.”

“Aku mau Wid, nikahi kamu. Tapi sayang, aku belum bisa. Bukankah kita sudah seringkali, bicara soal ini. Ibuku sedikit keberatan kalau aku menikah bukan dengan keturunan Cina, dan aku harus menyenangkan Ibuku. Ini demi perusahaan Wid, toh kamu juga tidak pernah kekurangan.”

“Mau sampai kapan kita begini terus Wing? kamu hanya menginginkan tubuhku. Kamu tidak pernah menginginkan aku sepenuhnya. Kamu selalu menyenangkan Ibumu, sedangkan kamu sendiri tidak pernah dapat apa yang kau inginkan.”

Aku bergegas, memakai bajuku kembali. Dan buru-buru keluar dari rumah itu. Rumah besar di kompleks mewah yang biasanya aku datangi, dengan alasan mengajar privat.

***

Ranjang tua dengan seprai motif bunga mawar merah belum berhenti berderit. Aku kenali setiap jengkal kamar luas ini. Mereka sama persis, hanya di rumah yang berbeda. Aku selalu suka mawar merah. Selalu memesona walaupun berduri.

“Aku senang permainanmu tadi Pras. Bagaimana pekerjaannya di Kalimantan?”

“Ya, Lancar Wid, kamu sendiri bagaimana? Apa muridmu yang berkebutuhan khusus itu, masih suka mengurung dirinya di kamar?”

“Ya, begitulah Pras, beberapa hari ini aku intens mengunjunginya, bahkan menginap di sana. karena dia tidak mau bicara kepada siapa-siapa, hanya padaku.”

“Begitu, ya sudah. Koperku tolong di bongkar ya Wid, bawa baju beberapa saja untuk liburan beberapa hari. Aku ingin bersenang-senang denganmu dulu, sebelum Nyonya pulang. Dan kalau Nyonya pulang, jangan lupa panggil aku Pak Pras, Bapak Pras.”

Thursday, September 16, 2010

Day #1: namanya, Hujan.

Hujan, putriku yang cantik dengan betis mulusnya, berjalan di depanku. Ia tampak buru-buru, hanya mengenakan daster sekenanya dengan rambut acak-acakan. Berjalan mondar-mandir di antara gang sempit, tempat kita biasanya mengantri untuk sikat gigi.

Ia tampak baru bangun tidur. Entah apa yang aku dengar tadi malam, ada suara ribut-ribut dari kamar sebelah. Seperti suara bertengkar, ada lengkingan meninggi, dan kemudian diikuti dengan sesegukan panjang. Aku sendiri tidak mau ikut campur urusan anakku ini, toh dia sudah dewasa.

Terakhir yang aku tahu, hujan memang sedang menjalin hubungan dengan seorang pria, yang sering datang menghampirinya ke rumah. Mereka biasanya duduk-duduk di teras belakang sambil mengopi dan menghabiskan sisa sore.

Aku sering curi-curi pandang, melihat apa yang hujan lakukan dengan pacarnya itu. Terus terang, ini memang bukan urusan aku. Tapi aku agak kuatir, ini pertama kali hujan pacaran, aku takut ia...

Di kejauhan, mereka saling mencium, mereka mengecup lama. Tangan pacar hujan yang entah-siapa-itu tampak menggerayangi bagian depan baju hujan. Ah, ini pemandangan yang sungguh tidak pantas. Dan seharusnya aku tidak di sini.

Setelah itu, mereka biasanya masuk menuju kamar  putriku. Sekitar15 menit sampai dengan 30 menit kemudian, mereka keluar. Wajah hujan begitu sumringah, mereka keluar dengan tawa-tawa kecil yang ditahan.

Aku hanya merekam kejadian itu dari kejauhan, ah hujan, kalau saja kau tahu...

Pagi ini, aku hanya dapat memandangi wajahnya yang tampak lunglai, seperti sehabis menangis semalam, tapi aku juga tidak berani menegurnya. Ia berdiri di depan wastafel lama, memandang wajahnya di depan kaca. Memindahkan odol ke sikat giginya, mulai menyikat giginya pelan-pelan sambil sesekali menyeka air mata yang berlinang di pipinya.

Ada apakah gerangan hujan? aku bertanya di dalam hati.

Aku masih duduk di meja kopi, yang menghadap ke teras belakang. Tampak hujan saat ini, berjalan mendekatiku. Lebih dekat lagi sehingga, aku bisa melihat matanya yang bengkak dengan jelas.

“Pa, hujan hamil.”

Lambat-lambat ia berkata kepada bingkai potret tua di depannya, sebelum tangisnya pecah kemudian. Aku hendak marah, tapi kemarahanku sendiri seperti tertahan di ujung lidahku sendiri. Aku seperti tidak berdaya. 



semoga bunga kamboja di sekitar nisanku, tidak layu menunggu sampai sembilan bulan.

pintaku dalam hati.

Friday, September 10, 2010

pensil

pensil yang tajam harus melepaskan banyak. ia harus merelakan kulitnya pergi ketika ia diraut. ia harus rela, ketika tubuhnya semakin pendek dari hari ke hari, supaya bertambah tajam. ia harus rela digantikan oleh pensil yang lain, ketika tubuhnya tak layak lagi untuk dipakai.

pensil dan guratannya itu saya. saya suka mendengarkan pensil dan kertas saling bersentuhan. saya suka mendengarkan bunyi KRES KRES. mereka itu seperti nada diam. melantun dalam kesepian.

saya punya sebuah cerita kesukaan tentang pensil, cerita ini ada di buku Totto-Chan, salah satu buku kesukaan saya. kalau tidak salah di halaman ke-30 atau ke-31, saya lupa tepatnya.

ada kalimat yang kurang lebih berbunyi begini: “Tai-Chan, aku akan tetap meraut pensilmu karena aku sayang padamu.” setelah membaca kalimat ini pertama kali, kalimat ini begitu terngiang-ngiang di kepala saya. bahkan bagian ini adalah, bagian yang selalu saya baca berulang-ulang, ketika saya membaca buku Totto-Chan kembali.

bisa saja mencintai itu sama seperti meraut pensil. seberapa banyaknya kau berani untuk meraut hatimu; melepaskan kulitnya, rela menjadi pendek, supaya kau lebih tajam untuk mencintai pasanganmu.

walau ada pertanyaan ini,


tidak ada jawaban.

lalu kau harus rela untuk digantikan dengan pensil yang lain. kalau memang hal ini terjadi, apa kau masih punya hati yang besar untuk bilang,

Tai-Chan, aku akan tetap meraut pensilmu karena aku sayang padamu.

terlambat

adakah mencintai itu butuh alasan?



ya atau tidak. setuju atau tidak setuju.
aku tidak setuju.


bagiku, mencintai itu justru adalah alasan.



kenapa aku masih mengetik namamu dalam diam. dan selalu mengingatmu dalam doaku, walau kau mungkin lupa.

selamat datang musim panas. musim dimana aku tidak akan lagi bertemu dengan hujan. pungutlah, pungutlah gerimis sisa di mataku, terserah mau kau simpan dimana.


sudah terlambat.