Thursday, December 7, 2017

DESEMBER







pada pukul sepuluh lebih lima belas menit 
kampung kami didatangi orang-orang berseragam
mereka bukan rombongan sinterklas membawa gula-gula
tak ada kado di dalam karung
kami dipaksa keluar dari rumah
ibu dan adik-adik menangis
tak ada selfie di bawah pohon terang
apalagi pamitan antar tetangga
bolsak dispenser rice cooker celana dalam
surat cinta dan hati berserakan di pekarangan
desember kali ini: tuhan-tuhan kecil merajalela
menjadi beton
seperti menang lotre
yang lain hanya tunggu giliran.

Bandung 7 Desember 2017, 16:24.
(untuk temon, kulon progo, dan sekitarnya).




Thursday, November 30, 2017

Untukmu yang Berwarna Merah Muda






Bandung, 30 November 2017
Menurut komnas perempuan: setiap dua jam tiga dari perempuan Indonesia mengalami kekerasan seksual. #16hariantikekerasanterhadapperempuan

Tuesday, November 28, 2017

Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Menulis Puisi










Hari Minggu kemarin di sore bersama perempuan sore, saya mengadakan workshop: Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Menulis Puisi. Saya mengawali workshop dengan mengatakan kepada peserta bahwa, "ini hanya cara-cara tidak kreatif, jadi santai saja. Tak perlu mengharapkan banyak dari workshop ini." Kenapa judulnya adalah Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Menulis Puisi? ya, sudah terlalu banyak orang kreatif di muka bumi ini. Sudah jarang, orang-orang yang biasa-biasa saja. Namun sebenarnya ini adalah cara untuk mengajak peserta bermain-main dengan kata bukan hanya di dalam kepala, melainkan yang juga ada di sekitar mereka. Kata-kata yang berserakan itulah yang kemudian dapat dipindahkan untuk membuat satu bait pendek puisi.

Sebelum saya dan peserta bermain-main, saya menceritakan tentang pengalaman menulis sekelebat. Sekelebat adalah sebutan yang saya tujukkan kepada satu cara menulis yang saya lakukan ketika pertama kali saya bangun tidur. Kalimat-kalimat acak dan tidak beraturan yang muncul di dalam kepala itulah yang saya tulis. Kemudian pengalaman selanjutnya yang saya bagikan adalah menulis jurnal mimpi. Ada sebuah masa ketika malamnya saya bermimpi dan paginya ketika saya bangun tidur, hal pertama yang saya lakukan adalah menuliskan kembali apa yang saya mimpikan semalam. Sebuah pengalaman unik, karena mimpi biasanya sangat acak dan absurd. Tapi itu kemudian menjadi sebuah pengalaman yang unik dan menyenangkan. Sayang sekali, akhir-akhir ini saya sudah jarang mendapat mimpi. 



foto oleh nicky borneo

Saya kemudian mengajak peserta untuk melakukan percobaan dengan meraba, menghirup, mencicipi: biji kopi, kopi bubuk, dan gula. Dan menuliskan pengalaman yang mereka rasakan ketika mereka melakukannya. Percobaan selanjutnya adalah dengan membuat puisi dari tiga kata terakhir yang ada di percakapan whatsapp, dengan judul buku yang ada di dalam ruangan itu, kemudian "mencuri" tiga kata dari satu puisi kesukaan masing-masing peserta. 

Cara-cara tidak kreatif untuk menulis puisi yang dilakukan di ruang perpustakaan Mr. Guan Coffee & Books di jalan Tampomas no. 22 Bandung berjalan dengan santai, penuh tawa, dan rasa kejut. Hal tersebut disebabkan bahwa peserta bahkan tidak menyangka bahwa mereka dapat bereksperimen untuk menulis puisi bahkan dari hal-hal kecil yang terdapat di sekitar mereka.

Sebelum pertemuan itu usai, saya memberikan kesempatan kepada peserta untuk menulis puisi secara berantai. Semua yang ada di dalam ruangan itu mendapat kesempatan untuk menulis tanpa terkecuali. Puisi berantai itu dimulai dengan kalimat-kalimat ini, "matahari tidak pernah kehilangan dirinya sendiri meski bulan mencuri degupnya."

Cara-cara tidak kreatif untuk menulis puisi, adalah sebuah cara memaknai keseharian dan merayakan hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Sebab kita tidak akan pernah tahu bahwa cara-cara tidak kreatif tadi, pada akhirnya akan membawa kepada sebuah hasil yang mengejutkan. 






Monday, November 27, 2017

Hingga Malam Bersama Perempuan Sore: Peluncuran Buku Perempuan Sore karya Theoresia Rumthe






foto oleh elan budikusumah

Minggu sore (26/11) di Mr. Guan Coffee & Books, Theoresia Rumthe meluncurkan bukunya, "Perempuan Sore." Peluncuran buku itu diawali dengan workshop "Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Menulis Puisi" yang diikuti belasan peserta. Kurang lebih satu jam, Theo mengajak mereka bermain-main dengan kata; mengubah pesan whatsapp menjadi puisi, mengubah aroma dan tekstur biji kopi menjadi puisi, termasuk "mencuri" judul-judul buku untuk membuat puisi. 

Dari ruang workshop, bersamaan dengan sore yang tumpah di jendela-jendela tua, kehangatan acara hari itu berpindah ke ruang utama Mr. Guan Coffee & Books. Di situ, percakapan santai seputar penerbitan buku pada penerbit indie dimulai. Mas Ardi dari Bookslife berbagi pengalamannya mengelola penerbitan buku secara online dan offline. Sementara Vinca Callista bercerita tentang pengalaman menerbitkan bukunya, "Travel Mates," secara online di Bookslife yang dikelola oleh suami-istri Ardianto Agung Santoso dan Dewi Fita Suryani. 

Sebelum dicetak oleh Penerbit Rak Buku yang dikelola juga oleh suami-istri yang akrab disapa mas Ardi dan mbak Tata, buku "Perempuan Sore" sendiri pernah diterbitkan secara online di Bookslife. Buku Perempuan Sore berisi 26 catatan harian pilihan yang merekam cerita-cerita yang beragam, kecil, dan biasa. Theoresia Rumthe, penulis buku ini, bercerita tentang kata cukup, terima kasih, berbagi, superhero, jalan kaki, waktu, dan sejumlah hal lain. Kadang hal-hal yang terlalu biasa sehingga pembaca barangkali akan dikagetkan dengan apa yang bisa mereka temukan dalam catatan Theo tentang hal-hal yang terlalu biasa itu. 

Cerita-cerita tentang hal-hal yang sudah sangat familiar itu, dalam catatan Theo, ternyata menampakkan diri sebagai yang memiliki pengaruh besar bagi manusia sebagaimana dirasakan Theo sendiri. Memang apa-apa yang sudah biasa, kadang tidak disadari kekuatannya. Catatan-catatan harian Theo dalam buku "Perempuan Sore" kembali mengajak pembaca untuk menandainya dengan sadar.


Dalam bincang santai dari sore hingga malam itu, Theo bilang, "Buku 'Perempuan Sore' adalah sebagian dirinya yang sejak malam itu bisa dibawa pulang oleh pembaca." Sebagai sebuah buku, "Perempuan Sore" sudah rampung. Tetapi sebagai yang berasal catatan-catatan harian, "Perempuan Sore" selalu harus dibaca sebagai yang belum selesai.

Lagu-lagu folk yang disuguhkan Jon Kastella, Yudhaswara, dan Ihsan memenuhi ruangan dengan nada-nada yang renyah untuk dinikmati. Di dalam jeda lagu-lagu folk itu, Putri Khansa Elgabi, Teti Diana, Navida Suryadilaga, Wanggi Hoed, dan Kennya Rinonce membagikan kepada pendengar puisi-puisi dari catatan-catatan pribadi mereka. 

Malam yang hangat dan menyenangkan. "Menggetarkan," kata Liyo Buna menutup acara peluncuran buku "Perempuan Sore" malam itu.


(ditulis oleh weslly johannes, Bandung, 27 November 2017)

#sorebersamaperempuansore: peluncuran buku perempuan sore






foto oleh nicky borneo





Semesta yang rahmani, terima kasih sudah memberkahi #sorebersamaperempuansore pada Minggu, 26 November 2017.

Dimulai dari cara-cara tidak kreatif untuk menulis puisi yang dihadiri kawan-kawan penikmat puisi, saya mengajak kawan-kawan untuk bermain membuat puisi dengan satu atau dua kata di percakapan whatsapp judul buku yang ada di dalam ruangan, aroma tekstur kopi dan gula. Dilanjutkan dengan peluncuran #bukuperempuansore dan ngobrol seru dengan penerbit rak buku tentang menerbitkan buku secara digital, vinca callista yang juga berbagi pengalamannya menerbitkan buku secara digital.

Pembacaan puisi-puisi magis oleh putri elgabi, teti diana, navida suryadilaga, wanggi hoed, kennya rinonce, dan weslly johannes (dengan #livepoem: #memuisikannama).

Tak lupa mereka yang merdu: jon kastella, yuddhaswara, dan ihsan. Galih yang membantu sound. Kemudian liyo buna, nicky borneo, oky, dan kawan-kawan di Mr. Guan Coffee & Books yang sudah menyediakan tempat yang begitu bersahaja dan melayani kopi enak.

Dan kepada semua yang telah meluangkan waktunya untuk hadir, semoga kita terus dapat memelihara keyakinan-keyakinan kecil dan kebaikan menyertai setiap perjalanan kita.

salam hangat, 
theoresia rumthe

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...